Wednesday, 14 April 2021


Chusaeni , Panen Sawi Samhong King 40 kg/minggu

25 Feb 2021, 16:42 WIBEditor : Yulianto

Chuasaeni menunjukkan hasil panen sawi Samhong King | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Batang--- “Tidak ada alasan untuk tidak bertani, lakukan tekuni Inshaa Allah sukses walaupun perlahan. Begitu pesan Moch Chusaeni yang kini sukses budidaya sayuran hidroponik.

Pria berusia 38 Tahun yang beralamat di Desa Gringsing RT 02 RW 05 Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, Jawa Tengah menggarap lahan seluas 6 x 12 meter. Dalam sekali panen sawi bisa mencapai 40 kg/minggu.

Jenis sawi yang ditanam Chusaeni yakni Samhong King. Sawit ini berbeda dengan famili sawi lainny seperti caisim dan pakcoy. Ciri lain Sawi Samhong lainnya  adalah daunnya sangat lebar dan batangnya panjang berwarna putih. Sawi jenis ini juga memiliki kandungan nutrisi yaitu kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sodium, zinc dan tembaga.

“Sawi Samhong King sering disebut juga sawi keriting. Sebab, bentuk daunnya lebih keriting dibandingkan jenis sawi lainnya,” kata Chusaeni yang sejak memulai usahanya memasarkan dengan cara online dan offline mulai dari mulut ke mulut. “Panen juga bisa dilakukan satu pekan sekali. Sekali panen di media tanamnya bisa menghasilkan sekitar 40 kilogram sayuran," tambahnya.

Selain Sawi Samhong King, Chusaeni juga menanam kangkung, sawi pakchoy, sawi caisim, sawi pahit, bayam batik dan selada caipira. Saat ini yang dikembangkan baru seluas 72 meter persegi. “Dengan usaha saya yang masih terbilang skala kecil menengah saya juga memproduksi pakan sendiri semua organik,” katanya.

Alasan Chusaeni membudidayakan sayuran secara hidroponik, karena memiliki banyak kelebihan. Diantaranya, penggunaan lahan yang lebih efisien, efisien lingkungan, pemberian nutrisi (pupuk) dapat diatur, tanpa media tanah, tidak ada gulma, hingga tidak ada risiko penanaman terus-menerus sepanjang tahun.

Sistem tanaman hidroponik lanjutnya, juga relatif lebih cepat tumbuh kembang. Sebab unsur hara dalam larutan dapat secara optimal dimanfaatkan sepenuhnya oleh tanaman. Bahkan daun lebih lebar dan daging buah lebih besar.

Kelebihan lainnya menurut Chusaeni, kuantitas dan kualitas produksi juga lebih tinggi, lebih bersih, bebas dari racun pestisida, penggunaan pupuk dan air yang lebih efisien, serta periode tanam lebih pendek. Namun,  usia tanaman juga beragam. Misalnya, kangkung 28 hari baru panen, sedangkan pakchoy usia 35 hari sudah bisa dipanen.  

Berawal dari hobi

Chusaeni bercerita, dirinya awal usahanya ini dari hobi pertanian 2015. Kemudian ia terjun langsung untuk produksi sejak 2018. “Saya suka dunia pertanian sejak kecil dan saya terjun langsung jadi petani hidroponik sejak 2018,” katanya.

Karena itu alasan lain, Chusaeni menanam hidroponik karena orang sekarang lebih cenderung hidup sehat dan apa yang dimakannya juga sehat. Itu semua berasal dari penanaman yang sehat. “Saya ingin menyediakan sayuran sehat, tanpa pestisida kimia yang berbahaya. Dengan sayuran yang alami saya sebagai petani merasa bahagia, sehat untuk tubuh yang mengkonsumsinya, karena sayuran dengan citarasa yang baik, enak, renyah selain sehat untuk tubuh, daya simpannya pun jauh lebih lama,” paparnya.

Apalagi menurut Chusaeni pemenuhan sayuran di saat penyebaran COVID-19 cukup tinggi. Selain organik, pemeliharaannya juga tidak sulit, sehingga teknologi hidroponik menjadi solusi bagi masyarakat untuk mengembangkannya. Tanaman yang dikembangkan Chusaeni memiliki beragam kandungan didalamnya seperti  serat, vitamin dan nutrisi yang tak kalah penting, seperti vitamin A, vitamin E, vitamin K, asam folat dan asam glukosinolat.

Meski terbilang sukses mengembangan hidrpononik, Chusaeni mengakui, kerap mengalami kendala. Dari mulai kualitas dan karakteristik air, hama dan lainnya. “Tapi semua itu mampu saya atasi,” katanya.

Dengan kerja keras yang dilakukan, Chusaeni kini dipercaya sebagai mentor pelatihan hidroponik di daerahnya. Bahkan kini juga memproduksi dan menjual pupuk organik dan probiotik hewan sendiri. “Saat ini saya juga menjadi mentor di beberapa binaan yang ada di desa saya,” tuturnya.

Kepada generasi milenial, Chuaseni berpesan agar mereka mandiri dan jangan selalu bergantung dibawah orang lain. Niatkan usaha dengan niat ibadah dan memberikan manfaat untuk orang lain. “Saya tidak muluk-muluk, hanya ingin orang lain hidup lebih sehat dengan membeli sayuran dari saya,” katanya.

Chusaeni pun tak pelit memberikan ilmu yang ia miliki bagi yang ingin berbagi pengalaman dibidang hidroponik bisa menghubungi Chusaeni di Nomor 081360678899.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018