Friday, 16 April 2021


Raup Manisnya, Didi Kurniasandi Sukses Kembangkan Agroeduwisata Labu Madu

08 Mar 2021, 07:10 WIBEditor : Gesha

Didi Kurniasandi (depan) bersama mengembangkan agrowisata labunmadu | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Kuningan - Muda, kratif, enerjik serta memiliki optimisme tinggi adalah gambaran yang bisa kita utarakan Ketika bertemu dengan petani milenial asal Kuningan, Jawa Barat Didi Kurniasandi (24).

Petani milenial ini merupakan lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor jurusan Penyuluh Pertanian Berkelanjutan ini memutuskan untuk fokus mengembangkan  komoditas labu madu.  

Tak sebatas budidaya, pemuda yang akrab di sapa Didi sukses mengedukasi masyarakat dan generasi muda sekitar melalui  Agroeduwisata Sirung Waluh di Kecamatan Cijoho, Kuningan, Jawa Barat.

“Saya memilih konsep agroeduwisata, karena selain ingin  sukses mengembangkan usaha dan memasarkan produk hasil panen, saya  juga ingin  memberikan edukasi/penyuluhan kepada konsumen serta bisa menikmati wisata di lahan," ungkapnya.

Dirinya mengaku senang dapat berbagi bagaimana tata cara budidaya labu madu yang baik dan benar, mulai dengan tata cara persemaian benih labu madu, penanaman hingga pemeliharaan. "Dan alhamdulillah saat ini sudah ada petani-petani sekitar yang ikut mengembangkan budidaya labu madu ini”, papar Didi ketika di temui di lahannya (5/3).

Berawalkan modal Rp. 4 juta saja Didi menggandeng beberapa rekannya untuk mengembangkan usaha labu madu ini di lahan 1000 meter persegi.

“Di panen perdana ini kami mendapatkan hasil 400 kg. Tetapi tak semua kami jual, ada beberapa yang kami berikan ke masyarakat sekitar. Tujuannya agar masyarakat sekitar mencoba dan menikmati rasa dan khasiat labu madu dan pada akhirnya mau untuk ikut membudidayakannya. Biar petani juga dapat menikmati manisnya untung dari budidaya labu madu ini”, terang Didi.

Untuk harga labu madu sendiri, ia menjelaskan untuk petik di lahan ia mematok Rp.15.000,-/ kg. Untuk  pemasaran labu madu, Didi mengandalkan  media sosial selain untuk mengisi gerai oleh-oleh dengan harga Rp. 20.000,-/kg.

Dirinya pun bersyukur walau belum besar, di panen perdana ini ia sudah kembali modal bahkan sudah bisa untuk membeli benih untuk penanaman selanjutnya.

Didi tak sendiri, mulai dari perangkat desa,  Dinas  Ketahanan Pangan dan Pertanian hingga Pemerintah Daerah Kuningan pun mendukung penuh upayanya. Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian kabupaten Kuningan, Yayan Suryanta menyatakan bahwa Didi merupakan salah satu dari beberapa sumberdaya unggul dari kabupaten Kuningan.

“Kabupaten Kuningan memiliki banyak komoditas pertanian unggulan baik padi, bawang, ubi jalar, sayuran hingga berbagai panganan olahan. Itu semua bila tidak di tangani oleh generasi muda akan berjalan seperti itu saja, tidak ada inovasi sehingga akan sulit untuk bersaing dipasar. Hadirnya Didi dan petani muda lainnya diharap dapat memberi nuansa baru yang dapat mengembangkan sektor pertanian di Kuningan”, jelas Yayan.

Sebagai apresiasi serta rasa bangga, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian kabupaten Kuningan pun merekomendasi dan mengusulkan Didi serta 4 petani muda lainnya untuk menjadi Duta Petani Milenial (DPM) Kementan yang akan dikukukkan dalam waktu dekat ini. “Semoga akan ada perwakilan dari kabupaten Kuningan yang  dapat menjadi DPM Kementan”, tambah Yayan. 

Wirausahawan Pertanian

Kesuksesan Didi merupakan wujud nyata hasil dari komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjaga ketahanan pangan serta regenerasi petani. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa generasi muda merupakan  bonus demografi Indonesia di masa depan guna mendorong pembangunan pertanian. Untuk itu, Kementan terus memfasilitasi generasi muda agar bisa terjun menjadi petani serta wirausaha pertanian. 

"Kita fasilitasi mereka, kita tingkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka melalui pelatihan. Kita manfaatkan teknologi, alsintan, jejaring hingga jejaring pemasaran. Kita ubah pola pikir generasi millennial bahwa pertanian itu keren, hebat, dan satu-satunya sektor yang menjanjikan terlebih di tengah pandemik ini," jelas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Di kesempatan berbeda, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa saat ini  pertanian di seluruh dunia menghadapi permasalahan yang sama, yaitu semakin kurangnya petani muda yang mau turun di sektor pertanian. Tetapi sekarang dengan kemudahan teknologi dan daya kreativitas yang tinggi dari generasi millennial, peluang menjadi wirausaha sektor pertanian terbuka lebar. 

“Kementan terus berupaya mendorong generasi muda untuk dapat berusaha serta mengembangan usaha di sektor pertanian salah satunya melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Dan Didi Kurniasandi merupakan salah satu sosok sukses dari program PWMP, bahkan setelah lulus dari Polbangtan pun ia mampu menerapkan ilmunya dengan membuka Kawasan agroeduwisata dengan melibatkan masyarakat, petani serta pemuda sekitar”, ungkap Dedi.

Dedi pun menambahkan saat ini, di beberapa daerah mulai bermunculan petani-petani muda dengan berbagai produk pertanian yang dikembangkan, sehingga produk pertanian tidak lagi mendapatkan stigma tradisional karena sudah lebih modern dan kekinian. 

“Kami optimis dengan semakin banyaknya petani muda yang turut serta mengisi pembangunan pertanian, maka sektor pertanian Indonesia akan terus maju, mandiri dan modern”, tegas Dedi. 

==

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018