Sunday, 11 April 2021


Pandemi COVID 19, Petani Milenial Tangkap Peluang Usaha Empon-Empon

18 Mar 2021, 09:26 WIBEditor : Gesha

Sandi Octa Susila menangkap peluang usaha empon empon selama masa pandemi COVID 19 | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kondisi pandemi Covid-19 juga dirasakan mengganggu aktivitas bisnis  para petani milenial tanah air yang selama ini telah bermitra dengan pihak hotel, restoran dan katering (horeka). Anjloknya permintaan dari pasar khusus tersebut  memaksa mereka  aktif mencari  peluang yang masih ada antara lain beralih mengembangkan bisnis  empon-empon .  

“Kami bisa dikatakan pernah nol permintaan saat  hotel-hotel mitra kami tutup akibat pandemi Covid-19. Tapi kami tak mungkin pasrah begitu saja dengan keadaan, penyesuaian-penyesuaian pun cepat kami lakukan ,” kata petani milenial asal Cianjur, Sandi Octa Susila di acara FGD yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (17/03).

Sebagai ketua Kelompok Tani (Poktan) Mitra Tani Parahyangan , saat ini Sandi membina  385 petani muda di Kabupaten Cianjur Jawa Barat dimana sebagian besar dari mereka bergerak di usaha budidaya  hortikultura (sayur mayur).  Hasil pertanian  anggota Poktan disamping dijual ke pasar konvensional (ritel) selama ini juga berhasil menembus segmen  horeka termasuk ke pasar modern (super market).

Namun sejak terjadi pandemi ,permintaan di  market retail naik tinggi sementara pasar horeka terpuruk.  Adanya kebijakan pembatasan sosial dan wilayah oleh  banyak pemerintah daerah  membuat kegiatan distribusi produk dari wilayah produsen ke konsumen  terhambat  sampai akhirnya di masyarakat mulai ramai pembelian secara online. “Maka kami pun menerapkan digitalisasi dalam memasarkan produk anggota kami hingga saat ini,” jelas Sandi.

Meski  disatu sisi muncul kendala dalam pemasaran hasil panen anggota poktan, tetapi menurut  pria 29 tahun itu, disisi lain muncul peluang bisnis lain di masa pandemi Covid-19  yakni permintaan empon-empon sebagai bahan baku utama pembuatan jamu (ramuan herbal)  meningkat tajam. 

Lahan Cukup Tersedia

Pesanan produk empon-empon diantaranya jenis kunyit, jahe dan kencur mencapai 1 hingga 2 ton per hari. “Maka kami meminta anggota koperasi kami untuk juga  membudidayakan empon-empon sehingga pesanan  yang ada itu bisa dipenuhi,” ujar  alumnus IPB itu.

Mengenai lahan untuk kegiatan budidaya pertanian  ia mengemukakan  sejauh ini tak menjadi masalah karena disamping poktan memiliki lahan sendiri , selama ini telah pula dilakukan penggunaan Hak Guna Usaha (HGU) PTPN VIII sehingga lahan tidak produktif milik PTPN tersebut seluas 94 hektar bisa dimanfaatkan jika diperlukan.

Sejauh ini pihaknya juga telah melakukan pendekatan dengan beberapa pimpinan  daerah  sebagai upaya  dapat memanfaatkan lahan yang tidak produktif  untuk kegiatan budidaya pertanian bagi petani milenial .

“Sejauh ini kepala daerah yang kami temui menyambut baik dan mempersilahkan untuk memanfatkan lahan non  produktif di wilayahnya untuk diusahakan oleh petani milenial,” tutur  pria yang begitu konsisten mendukung upaya Kementerian Pertanian menumbuhkan wirausahawan muda di bidang pertanian.

Ia menegaskan, apapun produk yang akan dikembangkan oleh petani milenial jika ingin bisa diterima pasar maka ada tiga hal yang harus diperhatikan yakni kualitas produk harus konsisten, secara kuantitas mencukupi  dan produk bersangkutan harus terjamin kontinyuitasnya. 

Untuk masuk ke pasar khusus horeka satu hal yang juga penting adalah harga nya harus kompetitif  karena  tentu akan banyak pihak lain yang mengincar pasar khusus.

“Produk anggota poktan kami bisa kompetitif karena dihasilkan sendiri bukan mengambil dari pasar induk.  Bahkan kami mempersilahkan klien kami dari hotel untuk melihat langsung proses produksi sejak di kegiatan budidayanya,” kata Sandi. 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018