Friday, 18 June 2021


Usaha Kripik, Siswanto Raup Omset Rp 48 Juta per Bulan

11 May 2021, 15:43 WIBEditor : Ahmad Soim

Siswanto dan kripiknya | Sumber Foto:Ibnu Abas

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Siswanto, pria berusia 41 tahun merupakan pedagang kripik yang setiap hari berjualan di seputaran alun-alun Kota Nunukan Provinsi Kalimantan Utara dengan gerobak dorong kesayangannya, berdasarkan pengakuannya ia mampu meraup omset mencapai Rp 48 juta per bulan. 

Kripik yang ia tawarkan ada 4 macam yakni kripik singkong, ubi jalar ungu, pisang dan tempe, khusus kripik singkong memiliki varian rasa original dan balado, kripik dijual dengan harga Rp 7000 per ons.

Pendapatan harian rata-rata Rp 1,6 juta, selain menjual kripik dengan gerobak dorong Siswanto juga  menerima orderan  yang langsung datang ke rumah  rata-rata pesanannya 2-3 kg perorang, apalagi saat menjelang lebaran seperti sekarang ini ia merasa kewalahan menerima pesanan. 

BACA JUGA:

Menurutnya, konsumen Nunukan menyukai semua jenis kripik buatannya, “Alhamdulillah setiap hari selalu habis terjual, biasanya anggota saya menjual di alun-alun Nunukan mulai pukul  5 sore  sampai dengan jam 10 malam,” ujar Siswanto.

Pria asal Malang Jawa Timur ini mengatakan tidak ada trik khusus untuk membuat kripik, cuma ia menyarankan harus memiliki spinner alat peniris minyak sisa penggorengan, lalu proses penggorengannya menggunakan nyala api yang stabil.

“Setiap hari biasanya saya menghabiskan 35 kg singkong, ubi jalar ungu sekitar 25 kg serta pisang dan tempe, semua bahan baku berasal dari lokal Nunukan kecuali ubi jalar ungu saya dapatkan dari sulawesi,  proses pembuatan kripik dikerjakan sendiri dibantu dengan 2 orang anggota,” katanya.

Siswanto menceritakan pertama sekali datang di Nunukan sekitar tahun 1998, hanya bermodalkan ijazah SMP dia mengadu nasib diperantauan banyak sudah pekerjaan yang ia geluti tapi tidak ada satupun yang bertahan lama, Siswanto mengakui pernah  berjualan bubur, rujak, jagung bakar bahkan pernah menjadi supir angkot.

“Mulai menekuni usaha kripik ini sejak 2012, awalnya pulang kampung ke Malang, saya lihat-lihat banyak orang berusaha  kripik saat itu saya mulai tertarik  dan saya fikir kayaknya belum ada di Nunukan, kemudian saya cari modal pinjaman uang di bank untuk membeli alat-alat mesin pengolah kripik, lalu saya coba-coba belajar mengolah kripik sendiri secara otodidak,   berulang-ulang  beberapa kali gagal hasilnya saya buang, sampai akhirnya menemukan racikan yang sesuai harapan,” kenangnya.

Kripik buatan Siswanto sudah mendapatkan rekomendasi  dari dinas kesehatan Nunukan, “saya sudah pernah menjual dengan kemasan  lalu saya titip di market-market, toko dan juga hotel dengan merek “Aska Kripik” tapi sekarang sudah tidak lagi karena hasilnya tidak sesuai harapan, selain itu juga modal untuk packing itu lumayan besar dua kali lipat dari yang biasa terutama bahan plastiknya, sementara kalau jual sendiri perputaran uangnya lebih cepat,” imbuhnya.

Siswanto menambahkan kripik buatannya bisa bertahan 2-3 minggu kalau penyimpanannya bagus, “kripik ini tanpa pengawet dan minyak goreng yang saya gunakan pun bimoli,” ungkapnya.

Maria (36) salah seorang pembeli kripik mengakui ia salah satu pelanggan kripik, “rasanya sangat renyah, potongannya tidak tebal dan tidak terlalu tipis serta yang paling penting kandungan minyaknya itu sudah sedikit, saya membeli biasanya 3-4 ons saja terutama kripik  singkong dan tempe,” ucap Maria.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Ibnu Abas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018