Sunday, 24 October 2021


Kisah Penjual Sayur yang Juga Menyewa Sawah untuk Menghidupi 7 Orang Anaknya

15 Jun 2021, 16:46 WIBEditor : Ahmad Soim

Asnawi (kiri), isterinya dan pembeli. | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pidie -- Penjual sayuran ini berjuang untuk bisa menghidupi 7 anaknya. Hasil jualan sayurannya hanya cukup untuk makan. Ia pun bertani dengan menyewa sawah untuk menambah penghasilannya.

Asnawi (49) adalah sosok ayah yang tak pernah mengenal kalah dan menang. Dia berjuang demi menghidupi keluarga dan ketujuh anak - anaknya. Ia tinggal di Meunasah Keurumbok, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. 

Suami dari Nurhayati ini memiliki tujuh orang anak. Yang sulung, perempuan dan kini sudah berkeluarga. Sedangkan anak keduanya, hanya tamat SMA dan tidak melanjutkan kuliah, karena tidak ada biaya. Sedangkan anak yang ke enam, meninggal dunia tiga tahun lalu. Terakhir si bungsu masih duduk di bangku sekolah dasar.

Selama Covid 19, dirinya beralih profesi menjadi penjual sayur mayur. Namun sebelum itu Asnawi dan istrinya sempat menjajakan kerupuk melinjo dan keripik kacang ke beberapa kota kecamatan di wilayah Pidie, bahkan sampai ke Banda Aceh.

Menikah pada tahun 1991, penghasilan dari menjual sayur sehari-hari berkisar Rp 60.000 - Rp 80.000 cukuplah buat makan. Sementara dia juga ada menanam padi. 

Untuk menjual komodoti sayur dibelinya di Pante Tengoh, Sigli. Seperti cabai merah, bawang, tomat, jahe dan lainnya. Atas jerih payahnya itu, ia mendapat untung antara Rp 3.000 -  Rp 5.000 per komoditi. 

BACA JUGA:

Kalau lagi ramai seperti hari Peukan (Red.Pasar mingguan), Cabai merah, Bawang merah dan Tomat banyak terjual hingga 10 - 15 kg. "Untuk cabai merah dijual dengan harga Rp 30.000, Bawang merah Rp 28.000 sedangkan Tomat Rp 10.000 per kilogram," sebutnya.

Selain itu lanjutnya, ada juga Cabai rawit Rp 15.000 Cabai hijau Rp 20.000, Bawang putih Rp 30.000 dan Jahe Rp 30.000 serta Kentang Rp 10.000 per kilogram. Wortel Rp 10.000 per kilogram, Kangkung Rp 1.000 per ikat dan sayur campur Rp 3.000 per plastik ukuran 2 kilogram.

Ia mulai berjualan di pasar Kembang Tanjong sekira pukul 14.00 -  18.000 wib, kalau di pasar Ie Leubeue hanya sebentar dari jam 6 pagi sampai jam 11 siang.

Untuk menanam Padi tidak punya sawah, supaya tidak membeli beras ia menyewa sawah untuk menanam padi. "Kalau satu Naleh (Red. 1/4 hektar) biaya sewanya tiga Gunca = 450 kg gabah kering panen (GKP)," tuturnya.

Urusan ke sawah dan bercocok tanam isterinya tidak ikut, hanya dia sendiri. Padi yang ditanam menggunakan benih varietas Ciherang yang dibeli di kios Saprodi Rp 110.000 dan benih Lenggawa Rp 115.000 per lima kilogram.

Untuk memenuhi kebutuhan beras, Asnawi menanam Padi dengan menyewa sawah hanya 4 Gantang = 1.250 m2 (1/8 hektar). Dari usahanya tersebut, dapat menghasilkan padi sekitar 5 Gunca = 750 kilogram GKP.

Kebiasaan masyarakat dan petani di Pidie dulu, setiap usai panen padinya disimpan dalam Krong (Red. Lumbung). Namun sejak puluhan tahun, Sinar Tani tak pernah melihat lagi lumbung di depan rumah rumah penduduk di Aceh. Entah kenapa...? 

Setelah tamat dari sekolah SMA di Kembang Tanjong tahun 1990, Asnawi sudah terbiasa mandiri dalam mencari nafkah.

Rumah yang ditempatinya sekarang adalah bantuan dari desanya. Setahun dia tinggal di rumah itu, mertuanya pun meninggal. Kami tidak ada lagi tempat mengadu. Kedua orangtua saya dan istri sudah meninggalkan kami untuk selamanya...

"Ibunya sejak ia masih Balita sudah tiada, dan ayahnya meninggal tahun 2005," jawabnya tersendat pilu.

Dukungan Isteri

Nurhayati isterinya yang akrab disapa Upik, selalu setia mendampingi baik suka maupun duka. Sehari - hari setelah selesai pekerjaan rumah tangga, ia juga turut serta membantu  berjualan memasarkan sayuran. 

Pada saat momen bulan puasa atau memasuki lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, dia membuat dan menjual kue. "Karena saat itu kami banyak kebutuhan Pak, termasuk membeli baju lebaran untuk anak anak," jawabnya tegar meyakinkan Sinar Tani. 

Dari menjaja kue hingga ke kota Banda Aceh dalam waktu 2 - 3 hari, Ahamdulillah bisa membawa pulang rezeki Rp 2 - 3 juta. 

Semua itu dilakukannya demi membiayai anak anak sekolah. "Agar kelak mereka nanti bisa menjadi orang pandai dan sukses, tidak seperti kami lagi...," pungkasnya terharu. 

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018