
Kerajinan purun, tanaman khas kawasan rawa
TABLOIDSINARTANI.COM, Tapin---Purun adalah salah satu tanaman yang tumbuh liar di dekat air atau rawa gambut. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan oleh kelompok perempuan di berbagai wilayah gambut. Misalnya, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, dan beberapa wilayah gambut lainnya.
Salah satu yang memanfaatkan purun sebagai kerajinan adalah Danah, Owner Dinfiftyshop. Mengangkat nilai tambah purun, Danah berniat mengangat perekonomian masyarakat desanya. Karena itu dalam membuat kerajinan dirinya dirinya bekerjasama dengan kelompok wanita yang ada didesanya, mulai dari keluarga dan kerabat.
“Kerajinan purun ini merupakan tradisi turun-temurun yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan di wilayah gambut sejak saya kecil,” kata wanita yang tinggal di Kabupaten Tapin ini.
Hasil kerajinan purun ini biasanya selesai dikerjakan dalam waktu 2-4 hari dan dijual dengan harga Rp 20-75 ribu. Untuk harga tikar biasanya disesuaikan dengan lebar dan motifnya. Biasanya, lebar tikar purun adalah sebesar 1,5 meter x 50 sentimeter.
Danah memulai usaha kerajinan Purun ini sejak tahun 2016. Idenya berawal dari seorang teman, awalnya sahabatnya tersebut sering membawa hadiah untuk teman-temannya di Jakarta. “Temen saya bilang, mbak Danah kenapa nggak jualan tas purun saja. Itu laku loh dipasaran. Dari situ lah muncul ide saya untuk menjual. Alhamdulillaah ternyata permintaan pasarnya pun cukup bagus,” kenangnya.

Untuk model Danah mengaku awalnya membuat 1 atau 2 model kerajinan dan semuanya dilakukan sendiri. Kemudian dirinya mulai membuat sendirian desainnya. “Sekarang mungkin sudah ada 10 model kerajinan atau bisa juga lebih. Ada juga request modelnya dari pelanggan sendiri,” tambahnya.
Dengan meningkatnya permintaan, Danah yang kini dibantu kalangan ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya telah mempunyai tim. Adanya yang bertugas membuat anyaman, membuat model kerajinan dan pengemasan.
Untuk pemasarannya, Danah menjual melalui market place dan via WA bisnis dan juga Intagram. Namun diakui, permintaan tidak menentu. Kadang bisa menjual 100-500 pcs/bulan. “Biasanya permintaan anyaman purun untuk hampers dan bingkisan. Apalagi menjelang Ramadhan, biasanya permintaan cukup banyak,” katanya.
Selain berniat membantu perekonomian di desa, khususnya menambah penghasilan ibu rumah tangga di desanya, Danah berharap bisa lebih kreatif lagi dan usahanya kian maju agar masyarakat sekeliling merasakan manfaatnya.
“Anyaman purun itu sudah dari zaman dulu, zaman nenek moyang. Semoga saja generasi milenial kita yang lebih melek internet dan tahu banyak inovasi mau belajar dan tetap melestarikan kerajinan purun ini agar terus lestari , serta mempertahankan warisan nenek moyang kita ini,” tuturnya.
Bagi yang ingin memiliki kerajinan purun produk Dinfiftyshop, bisa cek toko di tokopedia, juga dinfiftyshop. Nanti pengiriman langsung dari Kalimantan Selatan.