Tuesday, 03 August 2021


Di PHK, Dwi Prihartono Raup Manisnya Usaha Kecap Kedelai Hitam

10 Jul 2021, 16:57 WIBEditor : Yulianto

Dwi Prihartono membangun industri kecap untuk melestarikan kedelai lokal | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kemudian melihat kondisi petani kedelai yang mulai meninggalkan tanamannya, membuat Dwi Prihartono tergugah hatinya. Ia pun lantas berniat membangkitkan kembali kedelai di tanah kelahirannya.

Sebagai salah satu komoditas strategis, nasib komoditas kedelai memang kerap terpinggirkan. Akibat terpaan produk impor, banyak petani yang meninggalkan tanaman tersebut.

Adalah Dwi Prihartono yang terkena PHK tahun 2014 dari perusahaan swasta tempatnya bekerja. Mencoba mencari usaha, tapi belum juga didapati. Akhirnya ia pun berpikir mengembangkan usaha kecap.

“Saat itu saya berpikiran apa yang harus dilakukan setelah itu.  Bingung kemudian teringat biasanya nenek kami membuat kecap sendiri di rumah dari bahan-bahan lokal,” tuturnya.

Dwi becerita awalnya melihat kondisi petani kedelai turun drastis. Luas lahan budidaya kedelai di Pasuruan yang dulunya sebagai sentra kedelai, kini sudah tidak ada dan berganti tanaman lain. Ia pun berkomitmen mengembangkan produk kecap dengan bahan baku kedelai lokal.

“Awalnya saya mengunakan kedelai putih lokal, akhirnya membuat kecap putih. Setelah mendapat infromasi dari Balitkabi Malang, saya akhirnya beralih ke kedelai hitam,” katanya.

Hingga kini Dwi masih bekerjasama dengan Balitkabi. Ke depan ia berencana mengembangkan kedelai hitam lokal di Pasuruan seluas 10 hektar (ha). Bibitnya mengambil dari Balitkabi, karena masih banyak galur murni kedelai hitam maupun kedelai putih lokal.

Dwi berharap supaya tidak hilang bibitnya. Sebab, Balitkabi selain menanam juga membuat bibit. Biasanya ia mengambil kedelai hitam sebanyak 5-10 kwintal. “Saya berharap kedelai lokal bisa merangkak kembali. Saat ini kita hampir 90 persen mengimpor kedelai,” ujarnya.

Untuk budidaya kedelai, Dwi berkerjasama dengan koperasi benih lokal yang ada di Depok, karena masih banyak petani yang menanam kedelai dan juga memproduksi benih. “Saya banyak mengirim produk kecap ke sana, sedangkan untuk pasar di daerah Malang sudah terserap, ada beberapa toko kemudian kami juga kerjasama dengan teman-teman komunitas,” tuturnya.

Soal budidaya kedelai, Dwi mengakui memang beda dengan tanaman lain. Seperti apa? Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018