Senin, 15 Desember 2025


Azhari Mampu Bangun Rumah dari Usaha Keripik dan Nagasari

26 Jul 2021, 09:59 WIBEditor : Gesha

Azhari di tokonya

TABLOIDSINARTANI.COM, Bireun --- Siapa sangka awalnya hanya sebagai pedagang kaki lima, tapi kini Azhari (41) mampu membangun  rumah dengan menjual nagasari dan usaha keripik di Bireuen karena 13 tahun berjuang mengais rezeki. 

"Alhamdulillah sekarang saya menyewa toko dan membangun rumah dari menjual nagasari dan keripik di kaki lima," ujarnya semangat ketika ditemui tabloidsinartani.com, belum lama. Ayah tiga anak ini bersama istri berjualan bergantian. "Kalau siang istri saya yang jaga, sedangkan saya giliran malamnya. Karena toko saya buka 24 jam," timpalnya.

Sebagai pemilik dia juga melibatkan dua orang pekerja dibayar upah sepuluh persen dari penjualan. "Misalnya laku satu juta rupiah, maka untuk penjaga diberikan  Rp 100.000," bebernya. 

Alumni SMA Negeri 2 tahun 1998 menceritakan kepada Sinar Tani, bahwa sebelum berjualan di toko pernah menjadi pedagang kaki lima selama 10 tahun. Setelah uangnya terkumpul ia membangun rumah, dan sisanya untuk menyewa toko selama 5 tahun. Untuk sewa toko Rp 30 juta pertahunnya, maka saya ambil lima tahun Rp 150 juta.  "Selama tiga tahun terakhir ini saya berjualan di toko," katanya.

Bakatnya berdagang ternyata diawali berjualan nagasari sewaktu sekolah untuk menambah uang jajan. "Lama kelamaan karena menguntungkan maka saya lanjutkan untuk membuat nagasari sendiri, dan untungnya lumayan," tambahnya.

Menariknya, semua nagasari yang dijual merupakan bahan segar buatan sendiri. Dalam sehari untuk membuat nagasari menghabiskan 6 kg  tepung. Saat jelang lebaran kebutuhan tepung meningkat hingga dua kali lipat. Dari sekilo tepung menghasilkan 110 bungkus nagasari. Tepung dibeli Rp. 14.000/kg, sedangkan Pisang setiap kali beli sebanyak 30 tandan.

Setiap tiga hari sekali untuk buat keripik membutuhan pisang monyet dan kepok sekitar 300 - 500 sisir. Harga dibeli Rp 3.000 per sisir. "Kalau keripik ubi juga sama, sekali beli hingga 500 kg, harganya Rp 3.000 per kilogram," tambahnya.

Kini, per buah kue nagasari dijual Rp 1.200 sebelumnya hanya Rp 1.000. "Omset penjualan dahulu bisa mencapai Rp 4 - 5 juta, tapi sekarang saat Covid 19, hanya satu jutaan," kilahnya.

Selain nagasari, keripik pisang dan keripik ubi, di warungnya juga menjual bolu, brownis, jipang dan bingkang serta beraneka macam kue khas Aceh lainnya. Harga keripik pisang dan ubi dijual dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Suami Nur Asiah ini mengambil keuntungan antara Rp 5.000 per macam kue yang dititip, kalau tidak habis dikembalikan lagi.

Nama toko Arisqi yang menjadi andalan Azhari ini diambil dari nama anak sulung, Muhammad Riski Ananda yang kini tengah menempuh sekolah kelas 3 SMP. Harapannya toko ini nanti memberikan rezeki yang digunakan untuk kebutuhan anak anaknya bersekolah. "Awal jualan dulu saya rintis dari nol, karena tidak ada modal. Sehari hanya 10 kg pisang saja. Namun karena saya serius dan yakin, sekarang saya mendapat bantuan modal dari UMKM. Sehingga toko ini bisa maju dan berkembang," tuturnya.

Dari tokonya tersebut, Azhari mendapatkan keuntungan bersih yang saya dapat sekitar Rp 30 juta per tahun. "Alhamdulillah bisa saya tabung untuk beli tanah dan bangun rumah," katanya.

 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018