Thursday, 23 September 2021


Kisah Indra-Andri, Penjual Nasi Padang di Aceh

29 Jul 2021, 11:47 WIBEditor : Gesha

Andri (atas) dan Indra (bawah) sama sama merantau dan kini sukses menjadi pengelola nasi padang di Aceh | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Walau pernah jatuh bangun dalam berusaha, tapi tetaplah bersemangat walau keadaan sesulit apapun dan jangan pernah berputus asa. Seperti semangat yang penjual nasi padang di Aceh ini. 

Pria bujang ini bernama Indra (34), dia baru satu bulan membantu abangnya berjualan nasi padang Restu Bundo di Cadek, kecamatan Kajhu Aceh Besar.

Seusai santap siang di warungnya, Sinar Tani sempat ngobrol ringan dengannya sembari perkenalan diri. "Nama saya Indra, sepulang merantau dari Medan saya sempat menetap selama dua tahun di Padang, sebelum memutuskan hijrah ke Aceh," katanya mulai bercerita.

Indra mengaku hidupnya selama di rantau pernah jatuh bangun dalam berdagang, sehingga terjerumus dalam mengkonsumsi barang haram (narkoba). Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini merupakan alumni salah satu STM di kota Padang tahun 2004.

Setelah tamat STM sambungnya, bekerja sebagai tukang ojek. Kemudian tahun 2005 - 2006 pergi merantau ke daerah Riau. Selanjutnya kembali lagi ke kampung, sambil membantu Ayahnya sebagai pedagang pakaian. "29 April 2010 Ibu saya wafat dalam pangkuan, sehingga jiwa ini sangat terpukul dan terguncang berat akibat ditinggal Ibunda tercinta," tuturnya. 

Di tahun 2018 ia sempat dijebak oleh teman-temannya. Sehingga terpaksa direhabilitasi selama tujuh bulan di Medan. Alasan saat itu katanya, karena belum berhenti mengkonsumsi narkoba. "Sementara semua temannya sudah tidak memakai lagi," ujarnya mengisahkan kembali.

Padahal sambungnya, selama mengikuti program rehabilitasi semua biaya ditanggung oleh teman-temannya. Hal itu diketahuinya setelah bebas dan menerima kabar ayahnya sakit di kampung dan saya diminta untuk kembali ke kampung halaman. 

Tanggal 20 September 2019. Saat semua keluarganya tertidur ayahnya meminta agar ia tetap bersamanya. Tak disangka malam itu ayah menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya."Sejak itulah saya bertobat dan tidak mau lagi mengkonsumsi narkoba," kenangnya pilu.

Selama di Aceh, hidupnya merasa tenang dan nyaman batin pun tidak berontak. Di Aceh, pengaruh pergaulan tidak berat, dan dirinya cepat beradaptasi. Betahnya bekerja bukan karena digaji mahal, tapi karena abangnya menyerahkan seluruh pekerjaan padanya secara ikhlas bukan karena perintah."Saya paling tidak suka bekerja diperintah," ketusnya.

Rantau dari Padang

Lain lagi dengan Andri Wahyudi (26) dari Padang merantau ke Jakarta. Selama enam bulan dirinya membantu bibi berjualan nasi di Jakarta Timur. "Setelah mendapat bekal dari Bibi, saya putuskan untuk ke Aceh dan ingin berusaha secara mandiri," tambahnya.

Andri bersana abangnya menyewa warung di Gampong Pineung Rp 12 juta per tahunnya. Warung nasi Restu Bundo dalam sehari menghabiskan 30 kg beras. Untuk setiap bambu beras dapat menjadi 15 bungkus nasi. 

Mengaku asli dari Pariaman, Andri pria ganteng yang masih lajang kelahiran Padang 8 Agustus 1995, sejak masih duduk di bangku sekolah sudah hobi berjualan. Kedua orangtuanya dari dulu sampai sekarang berjualan sate. "Untuk meringankan beban orangtua, sejak dari SMP saya sudah berjualan pakaian, sandal termasuk buah buahan juga," ujarnya berkisah.

Padahal anak kedua dari lima bersaudara pasangan Tarmizi dan Bayan ini setelah tamat SMA 2013 pernah bekerja sebagai penambang emas di daerah perbatasan Sumbar - Jambi selama 4 tahun. Walaupun saat itu mendapat bayaran Rp 6 juta per minggu, tapi gajinya tidak menentu. 

Pada tahun 2020 dia belajar selama 6 bulan jualan nasi Padang dengan bibi nya. Nama warung nasinya juga sama yakni Restu Bundo. Alasan pemberian nama warung agar semua yang kita lakukan tidak sia sia belaka. "Semoga dengan Restu Bundo, usaha dan rezeki yang saya peroleh menjadi berkah," harapnya.

Andri merinci, kebutuhan ikan lele sebanyak 2 kg/hari, kembung/dencis dan ikan merah 3 kg serta ada juga ikan tuna. Untuk sambal cabai merah sehari 5 kg, cabai ijo 2 kg. Sedangkan kelapa butuh 15 buah/hari. Selain itu ada juga sayur nangka dan sayuran lainnya.

"Sehari Alhamdulillah bisa laku Rp 2 juta. Harga nasi kalau pakai telur Rp 10.000, ikan Rp 12.000, kalau rendang jengkol juga Rp 12.000, ayam Rp 13.000 - 15.000 dan pakai daging rendang Rp 17.000 per bungkus. "Warung kami mulai buka jam 10 hingga 22.00 wib," ujarnya promosi.

Andri saat jualan dibantu oleh adiknya yang baru masuk sekolah SMA. Keuntungan yang diperoleh dengan sistem bagi hasil dengan abangnya. Per bulan gaji berkisar Rp 3 - 4 juta. Namun saat Aceh masuk zona merah dan pemberlakuan PPKM gajinya sempat menurun Rp 500.000/bulan.

Untuk milenial dia berharap agar fokus belajar dan selalu aktif mencari inovasi, jangan pernah mengeluh apalagi berputus asa. "Tetaplah bersemangat dalam menghadapi keadaan walau sesulit apapun, karena semua ini pasti ada jalan dan solusinya," pungkasnya berfilosofi.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018