Selasa, 23 Juli 2024


Di Tangan H. Andra, Pamor Daun Pisang Klutuk Naik Kelas

10 Sep 2021, 16:36 WIBEditor : Yulianto

H. Andra tengah memotong daun pisang klutuk | Sumber Foto:Dike

TABLOIDSINARTANI.COM, Lebak---Haji Andra, begitu ia dikenal. Petani dari Kampung Bojong, Desa Bojongcae, Kecamatan Cibadak,  Kabupaten Lebak ini, sejak 25 tahun lalu berusahatani dengan komoditas cukup unik. Bertani pisang klutuk atau dikenal juga pisang batu.

Pisang jenis ini, menghasilkan daun yang dibutuhkan banyak produsen olahan makanan. Pisang klutuk memiliki karakteristik helaian daun dengan lapisan lilin cukup tebal. Buahnya, kadang-kadang memiliki biji, kulitnya keras dan tebal. Buah pisang klutuk tidak bisa langsung dikonsumsi dalam keadaan segar, tetapi ketika buahnya sudah matang mempunyai rasa yang manis.

Tidak semua pisang daun klutuk mempunyai karkaterisitik daun yang sama. Di Desa Bojongcae sendiri, ada tiga jenis pisang batu yang diusahakan. Yaitu jenis karok,  klutuk biasa, dan batang hitam.

Jenis pisang batu karok, memiliki helaian daun kecil tidak terlalu lebar.  Biasanya digunakan untuk pembuatan kue lupis atau sejenisnya. Karena ciri helaian kecil, tidak heran permintaan terhadap daun pisang ini sangat sedikit, dan harganya juga murah.

Pisang batu klutuk biasa, memiliki ukuran daun sedang, batang dan pelepah daunnya berwarna hijau. Hasil panen daun pisang jenis ini dikemas seperti daun pisang karok yaitu sistem kompet. Dalam satu kompet berisi empat helai daun atau dua pelepah daun pisang.

Sesuai namanya, pisang batu batang hitam memiliki ciri pelepah batang  berwarna hitam. Pisang klutuk jenis ini memiliki ukuran daun lebih lebar dibandingkan dengan jenis karok dan klutuk biasa. Daunnya juga tidak mudah robek jika terkena hempasan angin.

“Daun pisang klutuk batang hitam sangat diminati pengusaha olahan makanan, seperti pabrik pembuatan tempe, dan eksportir.  Pengemasan daun ini berbeda dengan daun jenis klutuk lainnya,” katanya.

Dalam pemasaran, H. Andra  menjelaskan, daun dikemas berupa helaian–helaian dengan ukuran 18cm x 40cm. Dalam satu kemasan berisi sebanyak 100 helai daun pisang. Untuk harga, jenis daun batu batang hitam ini paling mahal dibandingkan dengan jenis lainnya.

Pisang batu umumnya mulai bisa dipanen daunnya pada saat tanaman berumur 5-6 bulan setelah tanam. Pemanenan dilakukan setiap 3 minggu sekali, dengan rata–rata daun yang diambil minimal per pohon 2-3 pelepah.

Ketekunan yang membuahkan hasil, tentu menjadi inspirasi dan dorongan serta motivasi kepada para petani disekitarnya. Akhirnya banyak petani di Desa Bojongcae mengikuti jejak H. Andra untuk berusaha tani pisang batu. Sebagian besar petani menanam pisang di pinggiran sungai Ciujung,” katanya.

Bentuk Kelompok Tani

Seiring permintaan pasar yang terus meningkat serta banyaknya petani yang menggeluti usaha yang sama, para petani daun pisang di Desa Bojongcae membentuk kelompok tani yang diberi nama  Kelompok Tani “Tani Jaya“. Melalui wahana kelompok tani ini, para petani pisang klutuk dapat memasok kebutuhan pasar dalam negeri bahkan luar negeri.

Hasil panen daun pisang di Desa Bojongcae dipasarkan di dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri, hasil panen daun pisang kutuk Desa Bojongcae dipasarkan ke wilayah Jakarta, seperi Tanah Abang, Kebayoran dan Palmerah,” kata H. Andra.

Sedangkan pasar luar negeri, diekspor ke beberapa negara tujuan, diantaranya Timur Tengah, Jepang, dan Singapura. Daun pisang yang diekspor memiliki spesifikasi tertentu sesuai permintaan negara tujuan.

Untuk memperoleh produk daun pisang yang memenuhi kriteria, eksportir daun pisang memberikan pembinaan kepada petani daun pisang batu agar bisa menghasilkan produk yang sesuai permintaan,” tutur H. Andra.

Reporter : Dike Cidrasari (PP Rangkasbitung)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018