Thursday, 23 September 2021


Nasi Jagung Sego Berkat Bu Murni, Mengobati Rindu Kampung

13 Sep 2021, 12:43 WIBEditor : Yulianto

Sego berkat nasi jagung Bu Sri Murni | Sumber Foto:Dok. Sri Murni

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Banyak masyarakat Indonesia yang kini telah meninggalkan nasi jagung sebagai makanan pokok. Namun Sri Murni, justru menjadikan nasi jagung sebagai usahanya. Bahkan kini viral di media sosial.

Nasi jagung yang dikemas dalam sego berkat khas Wonogiri justru memberikan daya tarik di tengah masyarakat yang kini dominan mengonsumsi nasi beras. Sego Berkat merupakan nasi yang kerap disajikan saat hajatan masyarakat Jawa Tengah.

Sego berkat ada banyak macamnya, ada yang dikemas menggunakan besek, wadah kardus, atau secara tradisional menggunakan daun jati,” ujarnya.

Sego berkat bungkus daun jati ini sangat populer di Jawa Tengah, khususnya Wonogiri dan Pacitan. Bagi yang tinggal di Jakarta dan rindu kampung halaman, tak perlu jauh-jauh untuk mencicipinya. Apalagi saat ini tidak boleh pergi ke luar kota.

Di Jakarta ada sego berkat bungkus daun jati yang rasanya enak dan lokasinya pun tidak jauh. Berada di Jalan Kalipasir Dalam, RT 4 RW 11 Kapuk Kec. Cengkareng Jakarta Barat, Sri Murni membuka usaha sego berkat nasi jagung.

Kini Murni ini kebanjiran pesanan di tengah pandemi COVID-19. Bahkan tak pernah dibayangkan sebelumnya, omzet jualan sego berkat nasi jagung bisa mencapai Rp 1.5 juta/hari. “Saya mulai usaha akhir April 2020 karena tidak mudik saya jadi kangen kampung halaman. Akhirnya saya coba buat nasi berkat, nasi jagung dan nasi tiwul yang awalnya hanya saya konsumsi sendiri untuk makan keluarga,” tuturnya.

Namun dirinya kemudian memposting sego berkat nasi jagung di WA dan FB. Tak disangka banyak yang pesan nasi jagung dan tiwul. Terutama masyarakat Wonogiri yang ada di perantauan. “Katanya untuk mengenang kampung halaman,” tambahnya.

Ada yang unik dari sego berkat buatan Murni memilih membungkus sego berkat dengan daun jati. “Awalnya saya jualan sego berkat itu kan identik dengan daun jati, nah sekalian saya jual nasi jagung dan tiwul juga saya bungkus daun jati. Menurut mbah daun jati  itu kalau untuk bungkus nasi lebih nikmat aroma daun jatinya, sehingga mennambah citarasa tersendiri,” katanya.

Namun bagi Sri Murni, secara pribadi selain aroma daun jati yang wangi, daun jati juga ramah lingkungan sampah dari daun jati mudah terurai dan bisa untuk kompos. “Ide ini lah yang saya ciptakan di ibu kota untuk bertahan hidup, ide menjual sego berkat dari saya sendiri karena saya kangen sudah lama tidak makan nasi jagung. Jadi saya beli bahan (ampok) dari Wonogiri kemudian saya masak. Alhamdulillah banyak yang suka, sehingga banyak juga yang pesan nasi jagung,” katanya saat dihubungi Sinartani.

Murni menawarkan sego berkat tersebut di rumah sederhananya. Tidak ada yang istimewa hanya digelar seadannya. Murni dibantu dengan 2 asisten tetap dan 2 kurir tidak tetap asisten tersebut membantunya meracik sego berkat. Ada yang mencetak nasi, membungkus sego berkat, hingga beberapa kurir yang siap untuk mengantar pesanan.

“Rasa dari nasi jagung memang agak sedikit hambar tapi. Namun jika disajikan dengan lauk pauk yang sesuai selera akan terasa nikmat di lidah,” katanya.

Aneka Lauk

Sego berkat khas Wonogiri buatan Murni tersebut dijual Rp. 15.000-20.000/bungkus. Isiannya bisa sesuai selera nasi jagung, nasi putih dengan lauk bihun goreng, tauge pendek, semur daging, dan oseng lombok (oseng kentang dan cabai). Ada juga pilihan lauk lain seperti terik tahu dan telur (baceman).

Menu pelengkapnya adalah, semur daging yang disajikan berupa potongan kecil daging sapi. Rasanya manis gurih dengan tekstur daging yang lembut. Untuk oseng lombok, terdiri dari cabe merah keriting dan hijau serta potongan kentang kecil-kecil.

Sensasi pedas akan terasa saat melahapnya. Lalu untuk terik tahu dan telur merupakan baceman,” ujarnya. Namun menurut Murni yang membedakan adalah tidak menggunakan kecap. Warga Wonogiri kerap menyebutnya dengan terik bukan baceman.

Dengan meningkatnya permintaan, Murni kemudian lebih aktif mempromosikan nasi jagung di media sosial. “Saya promosikan Melalui media sosial  Seperti WA, IG, FB, dan GrabFood dan GO-FOOD, E-order juga dan Alhamdulillaah Bisa laku 100 bungkus per hari,” ujarnya.

Dari postingan tersebut Murni tidak pernah mengira dalam hitungan hari,Murni pesanan membludak hingga 100 bungkus. Murni mengaku kebingungan, apalagi mencari daun jati di Jakarta sangat sulit. Ia lantas dibantu temannya untuk mencari daun jati tersebut yang didapatkan dari Tangerang.

Kendal lain diakui Murni adalah mencari bahan baku ampok atau jagung. Hingga kini dirinya masih minta kiriman bahan baku nasi jagung dari keluarga di Wonogiri. “Saya juga tidak pernah mengira akan mendapatkan penghargaan juara ketiga dalam pendampingan UMKM KPKP Kecamatan Cengkareng,  Walikota JKT Barat,” terangnya.

Ke depan Murni berharap ada pinjaman modal untuk membuka warung makan yang strategis di pinggir jalan, supaya pelanggan tidak kesulitan  parkir. “Sekarang saya jualannya di rumah dan rumah saya ada di gang. Kalau parkir mobil kesulitan, sering kali parkir di depan mini market dan masuk ke dalam jalan kaki,” ungkapnya.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018