Thursday, 22 October 2026


Tiwul Heboh Uwenak dari Yosea

30 Sep 2021, 15:54 WIBEditor : Yulianto

Yosea bersama sank Kakak saat pameran di Jakarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Tiwul adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa yang biasa disebut sebagai jajanan pasar. Secara umum, tiwul dibuat melalui proses pencampuran tepung singkong dengan air, gra-nulasi, pengukusan, dan selanjutnya dikonsumsi.

Tiwul memiliki rasa khas singkong yang kuat dengan kenampakan visual yang menggumpal dan berwarna kekuningan sehingga kurang disukai. Sebelum dikenal sebagai jajanan, tiwul atau thiwul sebenarnya adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang biasa dikonsumsi jadi makanan sehari-hari oleh masyarakat di Daerah Jawa.

Jika ditelusuri sejarahnya, tiwul sebenarnya merupakan makanan pokok masyarakat pada masa lalu. Tiwul yang berbahan baku singkong menjadi pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat. Hal ini terjadi pada era penjajahan Jepang dan pada era 1960-an. Pada masa lalu, tiwul dimakan selayaknya nasi, dengan lauk pauk serta sayuran.

Adalah Yosea Suryo Widodo membuat Tiwul instan dengan merk dagang Thiwul Heboh Uwenak, Gerit Jagung Heboh dan Gathot Heboh. Tembus pasar luar negeri dan menjadi makanan yang bergengsi. Berlokasi di Desa Telokorjo RT 16 RW 06, Kecamatan Pekak, Kabupaten Malang, Yosea mendirikan usaha pangan lokal berbendera CV. Riang Jawa Food.

“Kami bergerak dibidang olahan pangan aneka tiwul Instan,” ujarnya. Salah satu alasan Yosea memproduksi pangan lokal tersebutm karena dirinya anak petani dan kebetulan memiliki kebun singkong sendiri. Apalagi di wilayah tempat tinggalnya merupakan penghasil singkong yang cukup banyak. “Supaya ada nilai tambah dari singkong, kami mengolah menjadikan produk diversifikasi,” tambahnya.

Yosea mengatakn, produk yang menjadi best seller adalah gatot dan tiwul. Untuk produk tiwul ada beberapa varian rasa yakni, tiwul manis gula merah, tiwul manis pandan, tiwul manis original. Sedangkan tiwul yang rasa tawar ada dua macam tawar hitam dan original.

Dengan memproduksi pangan olahan, Yosea berharap bisa mengangkat nilai jual singkong petani agar harganya stabil.  Petani juga tidak ragu untuk menjualnya, karena saat panen sudah pasti ada yang menampung. “Kita siap menampung berapa pun itu. Kami juga membuat kemitraan petani. Satu desa mitra petani kami kurang lebih 20 orang,” katanya. Bahkan untuk bahan baku, Yosea mengaku sampai mengambil juga dari luar wilayah karena banyaknya kebutuhan untuk produksi.

Susahnya Menawarkan Tiwul

Saat memulai usaha, Yosea mengaku, kesulitan memasarkan.  Apalagi selama ini ada kesan tiwul adalah makanan yang termarjinalkan, makanan orang deso yang tidak ada gizinya. “Saat saya menawarkan mereka mencibir merasa kalau tiwul itu makanannya orang miskin,” ujarnya mengisahkan awal perjuangan usaha tiwul instan.

Nmaun cibiran masyarakat tak membuat Yosea patah arang. Bersama kakaknya, ia berupaya mengedukasi masyarakat bahwa tiwul merupakan makanan bergizi. “Kami mulai menguji lab, ternyata nutrisinya luar biasa sekali. Karena itu, kami kemudian mencoba menawarkan ke kalangan menengah atas yang mencari makanan seperti ini,” katanya.

Apalagi lanjut Yosea, tiwul merupakan makanan tanpa bahan kimia, seratnya juta tinggi dan nutrisinya bagus untuk tubuh.  Kemudian dirinya berupaya mengubah kesan makanan yang dianggap deso tidak bergizi ini Lagi menjadi makanan yang sangat bergizi dan sehat. “Kita jual ke tempat wisata di Kota Malang dan membuka kesempatan bagi reseler baru,” ujarnya.

Bahkan Yosea mengakui, kini bisa mengirim tiwul instan ke Hongkong dan Malaysia. Untuk ke Hongkong permintaannya rata-rata 5.000 pc perbulan. Namun dampak pandemi pengiriman hanya 1.500 pc perbulan. Begitu juga dengan Malaysia pun sama permintaannya menurun akibat pandemi.

Untuk menarik minat masyarakat mengonsumsi pangan lokal, Yosea membuat tagline Jajanan Pasar. “Saya ingin mengangkat lagi makanan tradisional, kearifan lokal dan budaya kita ini. Dengan kemasan menarik saya berharap makanan lokal ini menjadi naik kelas. Instan, lebih higienis dan praktis. Harganya terjangkau dan siapapun bisa langsung menikmati,” tuturnya.

Di kota Malang, tiwul instan kini mudah didapatkan, baik di swalayan, supermarket maupun minimarket. Yosea berharap citra makanan tradisional yang merupakan budaya bangsa tidak terlupakan dan bisa dinikmati semua kalangan. “Harapan saya produk ini makin dikenal luas. Kami berjuang bukan hanya dari segi bisnis, tapi ada nilai budaya bangsa yang kita tingkatkan,” katanya.  Sebuah cita-cita yang perlu didukung. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018