
Emil dan suami, fokus mengembangkan kafe apung
TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh ---- Emil tergolong pengusaha yang nekat. Bagaimana tidak, disaat pandemi melanda dirinya malah membuka bisnis cafe Apung "Arizha" di pantai Ulee Lheue Banda Aceh yang terkenal dengan berbagai kuliner dan menu makanan yang menggugah selera.
"Nama Arizsha cafe gabungan dari ketiga nama anak saya yakni Ariq, Rizki dan Shabir," ungkapnya ketika membuka wawancara dengan tabloidsinartani.com. Emil masih ingat, dirinya sejak tahun 2007 awalnya Milfah Hanum (Emil) menyalurkan hobi menjual kue - kue andalannya hanya di trotoar jalan dan menitipkan di warung saja. Namun karena semangatnya ingin maju tahun 2017 ia rela membantu temannya di Erika's Cafe pantai Babah Dua Lampuuk.
Hasil dari pekerjaan tersebut ia tabung, hingga setahun kemudian membeli tanah di Gampong Blang, Ulee Lheue seluas 12 x 35 meter. Setelah itu Juli 2019 saat pandemi melanda dunia, ia malah nekat membangun cafe dan menghabiskan dana lebih kurang 300 juta. "Kuncinya walaupun situasi lockdown kita tetap jalankan bisnis dengan penuh kesabaran," ujarnya.

Konsep mendirikan cafe ini tidak ingin bertanding hanya sekedar hobi dan menjadikan pilihan saja bagi konsumen. Menurut Emil, walaupun sekarang masa Covid, Alhamdulillah sejak dibuka cafenya selalu dikunjungi pelanggan tetap. Miitra dan kolega bisnisnya sering duduk dan membuat acara di cafe. Jadi kehadiran mereka menambah semangat dalam mempertahankan bisnis kuliner ini. Selain itu katanya, cafenya juga banyak digandrungi tamu baik notaris, eksekutif maupun kaum legislatif.
Ia juga berterima kasih kepada ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) DPD Aceh Erika Mulyani SE, Ak yang telah memberikan dukungan berdirinya cafe ini. "Saya sangat berterima kasih kepadanya selaku sahabat baik yang telah membantu saya dari awal hingga maju sampai sekarang," ucapnya.
Cafenya mulai buka dari sore pukul 17.00 - 23.00 wib dengan melibatkan 6 karyawan tetap dari warga sekitarnya. Selain menerima order perorangan dan kelompok dengan menu nasional juga tersedia menu khas Aceh, seperti sayur Pliek U dan sebagainya.

Setiap malam Kamis dan weekend para pengunjung cafe disajikan live musik akuistik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Menu di cafe Arizsha beraneka macam selain menu Seafood (pretty crab), ikan bakar, nasi goreng Pataya, nasi goreng kampung (Aceh) dan snack pisang bakar, lupis/cenel, lontong juga tersedia bubur ketan hitam. Selain itu bagi konsumen yang ingin memesan menu juga dilayani dengan terlebih dahulu menghubungi WA. 0823-6644-5505.
Mutia salah satu pelanggan tetap menyebutkan menu yang disajikan di cafe Arizsha umumnya nikmat dan lezat. Harganya juga relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat. Diakuinya, Kehadiran cafe ditengah masa pandemi ini sangat bermanfaat karena membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Selain itu bisa dijadikan pilihan untuk bersantai sambil menikmati sunset dan keindahan panorama sekelilingnya. "Cafe ini sangat cocok untuk nyantai bersama keluarga, aman dan tidak ekstrim saat ombak besar karena terhalang dengan batu penahan ombak," ujarnya promosi.
Latar Belakang
Emil adalah alumni SMKK Banda Aceh tahun 1995. Ibu tiga anak ini juga pernah membuka usaha jual pelak bekas di Blang Oi, Banda Aceh. Setelah menikah Emil yang berusia 30 tahun pernah menjadi tenaga honor selama 4 tahun di sekretariat DPRK Sabang. Anehnya saat namanya masuk nominasi untuk diangkat menjadi pegawai ia malah resign dengan alasan tak ingin berpisah dengan keluarga.
Jiwa dan naluri bisnis Emil sudah terbentuk dari almarhum Ayahnya M. Nur yang juga sebagai pedagang. Waktu dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri 3 Kualasimpang, Aceh Tamiang sempat dimarahi karena masih kecil sudah berjualan. "Walaupun Ayah marah, tapi saya tetap jualan pulpen/pinsil dan jajanan untuk menambah uang saku," kenangnya haru...
Ibunya Hj. Nurliah wafat ketika ia masih duduk di klas 5 SD, setahun kemudian anak bungsu dari 12 bersaudara ini ditinggal sosok sang Ayah hingga ia menjadi yatim piatu. Saat ayahnya meninggal, kala itu Emil masih duduk kelas 1 SMP Persada di kota kelahirannya Kualasimpang tahun 1991 ia hijrah ke Banda Aceh dan tinggal bersama abangnya untuk bisa melanjutkan sekolah SMP.
"Saya ingin menitipkan pesan kepada milenial, agar jangan suka hidup manja. Kalaupun kita manja tapi jangan sampai menyusahkan orangtua dan carilah dari keringat sendiri. Jika ada lebih senangkanlah hati orangtua," ingatnya.