Sunday, 24 October 2021


Olahan Labu Kuning Elbina dari Kota Kretek

07 Oct 2021, 14:10 WIBEditor : Yulianto

Nurhayati dengan produk olahan labu kuning | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Labu kuning terkenal dengan kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Biasanya, labu kuning diolah sebagai sayur. Saat puasa masyarakat biasa mengolahnya menjadi kolak. Namun, ternyata labu kuning juga nikmat dijadikan camilan bentuk lain.

Seperti Nurhayati yang mengolah hasil pertanian bernama latin Cucurbita Moschata ini menjadi bermacam bentuk camilan dan menjadikannya peluang usaha menjanjikan. Sejak mengundurkan diri bekerja dari perusahaan swasta, ia terjun menekuni usaha berbagai baku labu kuning.

Sejak mengundurkan dari pekerjaan lama di kantor swasta, saya mulai mengikuti pelatihan usaha. Saya diajarkan menentukan keahlian saya dan apa target market yang saya ciptakan," ujarnya saat saat Pameran Ekspose Pangan Lokal Di Kuningan City Mall Jakarta baru baru ini.

Nurhayati mengaku, dirinya pernah mendapat pelatihan mengolah labu. Kemudian dirinya berpikir menjadi produk tersebut sebagai peluang usaha. Apalagi bahan bakunya banyak dan mudah didapat.

Awalnya berkecimpung memproduksi panganan berbahan baku labu ini, karena Nurhayati melihat di daerahnya banyak menghasilkan labu, tapi harga jualnya terlalu rendah. “Tepatnya April tahun lalu saat jalan-jalan bersama suami. Saya lihat banyak petani labu yang terdampak pandemi. Saya terus mikir apa yang bisa saya dilakukan untuk masyarakat di sekitar sini. Akhirnya saya pilih labu,” katanya.

Dengan banyaknya petani menghasilkan labu kuning, Nurhayati kemudian membuat Inovasi untuk meningkatkan daya jual produk dari labu. Kemudian dirinya berinisiatif membuat berbagai olahan dari labu.

Menggunakan nama tiga orang anaknya, Nurhayati membuat label merk dagang Elbina. Lokasi usahanya berada di Kota Kretek, tepatnya di Desa Bulung Cangkring RT 3, RW 3, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Saat pertama kali memproduksi berbagai olahan labu, Nurhayati menggunakan tepung yang bukan berbahan dasar labu. Namun, rasa simpati membuatnya beralih menggunakan tepung labu untuk memproduksi brownies dan tiwul, “Untuk tepung awalnya saya masih ambil dari luar Kudus. Terus saya mikir kenapa kok enggak buat sendiri saja. Akhirnya saya pakai labu,” ujarnya.

Saat ini produk Elbina sudah beragam. Misalnya, stik labu, brownies labu, donat labu, puding, bolu dan tiwul. Produk terbaru dari Elbina adalah tepung labu yang tercipta saat pandemi. “Olahan pertama saya, yaitu stik labu. Dari stik labu, kemudian saya mencoba olahan lainnya. Donat labu, bolu gulung labu, dawet labu, tiwul labu, brownies labu, dan tepung labu,” tuturnya,

Nurhayati mengaku tak mudah membuat produk olahan berbahan baku. Setiap jenis olahan memerlukan waktu lama sampai akhirnya menemukan rasa yang pas dan bisa diterima masyarakat. Apa yang saya lakukan tidak sia-sia. Elbina akhirnya masuk sebagai salah satu UKM unggulan di Jawa Tengah. Mungkin bisa dikatakan ini kenekatan saya," ujar ibu tiga orang anak ini.

Inovasi saat Pandemi

Nurhayati berharap dengan membuat tepung berbahan dasar labu, bisa membantu perekonomian petani. Dari 1,5 kg labu segar itu hanya bisa menjadi 110 gram tepung. Jadi semakin banyak saya membutuhkan tepung, semakin banyak saya mengambil labu dari petani yang akhirnya bisa membantu saat pandemi seperti ini,” tuturnya.

Selain membuat brownies dan tiwul, ia juga menjual tepung labu. Untuk kemasan harga 1/2 kg dijual seharga Rp 35 ribu. Sedangkan untuk kemasan 1 kg dijual dengan harga Rp 60 ribu. Nurhayati mengingatkan, tepung labu produksinya hanya bisa untuk membuat kue. Kalau dipakai untuk selain membuat kue tidak bisa,” imbuhnya.

Nurhayati berharap semakin banyak tepung labu yang dipasarkan, sehingga dapat lebih banyak membeli labu dari petani. Saat ini diakui, permintaan pasarnya cukup bagus. “Saya jual melalui market place ada juga yang langsung membeli ke tempat produksi kami,” katanya.

Nurhayati dalam berusaha memang tidak lepas dari kendala. Dirinya mengakui, kendala utama adalah saat musim penghujan. Sebab, untuk memproduksi tepung labu masih mengandalkan panas sinar matahari. “Saya belum punya alat memadai untuk pengeringan,” ujarnya.

“Sukanya, kalau ikut event saya bisa bertemu dengan berbagai pelaku usaha dari semua kalangan dari macam macam daerah. Saya bisa saling sharing belajar dan tanya,” tambah Nurhayati. Saat ini omset usaha Elbina mencapai Rp 15 juta/bulan.

Memulai usaha tahun 2017, usaha Nurhayati kini sudah memiliki legalitas yang lengkap. Baginya ibarat naik kendaraan. Jika surat belum lengkap, maka ada yang kurang. Namun bisa suratnya lengkap akan lebih percaya diri menjalankan usaha.

Salah satu yang bisa menjadi pelajaran adalah tekad Nurhayati yakni dengan modal keberanian dan keyaninan. Dengan modal itu ia melangkah menghasilkan inovasi untuk membantu masyarakat. “Modal saya adalah keberanian dan keyakinan bahwa produk yang saya hasilkan ini layak. Apalagi surat-surat perijinan usaha sudah lengkap, seperti Izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan perijinan halal,” tegas. 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018