Senin, 04 Maret 2024


Bermodal Konsisten, Pisang Goreng Beku Shamiya jadi Pioner

10 Nov 2021, 10:03 WIBEditor : Yulianto

Nadia bersama suami, membangun bisnis pisang goreng beku | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Konsisten dan tak putus asa menjadi modal kalau kita mau berhasil dalam berusaha. Pelajaran tersebut bisa didapatkan dari seorang Nadia, wanita berusia 38 tahun pemilik usaha pisang goreng beku Shamiya.

Mengusung tagline “Satu Aja Gak Cukup!” wanita asal Bandar Lampung ini mengaku berkat kegigihan dan konsisten memproduksi, pisang goreng beku “Shamiya” sukses merambah pasar di berbagai lokasi di Indonesia, bahkan pernah terjual hingga ke Eropa dan Arab Saudi.

Keberhasilan “Shamiya” memang tidak terlepas dari kerja keras Nadia bersama suaminya.  Dengan memanfaatkan potensi Lampung yang merupakan sentra pisang, Nadia mengolah menjadi pisang goreng setengah matang, sehingga produknya bisa bertahan lama jika disimpan di freezer (lemari es). Konsumen pun bisa mengonsumsi kapan dan dimana saja.

“Saya dan suami mulai konsisten sejak tahun 2015, awalnya memang financial kita terganggu, tapi kemudian kita dihadapkan harus menjalankan kehidupan dan dipertemukan dengan guru yang memang sudah usaha pisang goreng,” tutur Nadia kepada tabloidsinartani.com saat Temu Bisnis UMKM pangan lokal di Bandung, beberapa waktu lalu.

Nadia bercerita, sebelumnya dirinya tidak bisa membentuk pisang kipas. Apalagi biasanya pisang goreng yang dijual berbentuk kipas. “Karena kita nggak bisa membentuk kipas, akhirnya pada lepas. Tapi ternyata ketika di pasarkan semua pada suka. Jadi inovasinya lahir dari ketidakbisaan. Justru malah inovasinya itu disukai pasar yang bentuk lepas, karena lebih mudah dan disukai anak anak,” tuturnya.

Nadia mengatakan, permintaan pisang goreng Shamiya di Bandar Lampung cukup besar. Setiap bulan dirinya memproduksi pisang hingga 14 ton. Namun untuk permintaan di luar Bandar Lampung, Nadia memberikan catatan pengirimannya sehari sampai karena produknya tanpa pengawet. Sebab, harus segera disimpan dalam freezer.

Usaha yang dibangun Nadia bersama suaminya memang tak mudah, namun ia berusaha konsisten, terutama dalam mendapatkan bahan baku pisang. Pisang yang digunakan Shamiya adalah jenis Kepok, Raja dan Tanduk. Terkadang untuk mendapatkan kualitas pisang yang baik cukup sulit.

Berdasarkan pengalaman Nadia dan suaminya, stok bahan baku pisang jenis tanduk dan kepok kadang susah dicari. Karena minimnya stok dipasaran, pisang tersebut dibandrol dengan harga tinggi. Bahkan demi konsistensi dalam menyediakan produk usahanya, ia rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan bahan baku tersebut.

Untuk ketiga jenis pisang ini banyak didapatkan dari wilayah sekitaran Lampung Timur, Metro dan Lampung Tengah, dan beberapa daerah lain di Provinsi Lampung. Suka duka yang saya alami karena kita butuh bahan baku. Saat ini saya masih sangat tergantung dengan petani. Apalagi di Lampung belum ada satu pengepul yang besar khusus memasok pisang. Saat ini saya mendapatkan dari beberapa petani di Lampung,” katanya.

Saat ini, khususnya saat pandemi Covid-19 kendalnya menurut Nadia, kebijakan PPKM yang membuat pengunjung dan pengiriman ke luar kota terhambat. Bahkan omset selama PPKM berkurang sampai 30 persen. Jika sebelum PPKM bisa mencapai 100 juta kini hanya sekitar Rp 60 juta.

Ingin tahu jenis produk pisang Shamiya? baca halaman selanjutnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018