
Abah Ano (kanan) dengan produk singkong frozen Barokah
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Usia tak menutup untuk bersaing dalam membangun dunia usaha. Seperti Sumarno Widodo atau biasa disapa dengan sebutan Abah Ano yang memproduksi pangan lokal berbahan baku singkong.
Lelaki berusia 69 tahun masih aktif dan produktif menjalankan hari-harinya dengan membuka usaha Singkong Frozen Barokah. Beralamat di Kampung Rancasari Lapangan RT 03 RW 05 Desa Pasir Gaok. Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor Barat.
Abah Ano bercerita, bermula dirinya hanya bertani singkong dengan lahan seluas 2.000 meter. Namun saat dijual, harganya sangat murah. Akhirnya ia dan istrinya mencoba membuat bumbu tambahan untuk mengolah singkong. Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya Abah Ano berhasil menemukan formula singkong.
Dengan bumbu dan rempah pilihan menjadikan singkong frozen Barokah mempunyai rasa yang gurih dan renyah. Pastinya akan membuat ketagihan dan tidak bisa berhenti melahap cemilan yang satu ini.

Usaha yang dibangun Abah Ano sudah berjalan 2 tahun atau dimulai tahun 2019. Dengan dibantu 7 orang karyawan, untuk bagian produksi 3 orang dan supplier yang bertugas mencari singkong 4 orang. Kini pemasarannya sudah merambah wilayah Jabodetabek.
“Saya dengan bantuan adik-adik saya 10 orang mereka menjadi reseller diawal usaha ini,” katanya kepada tabloidsinartani.com saat Temu Bisnis UMKM PANGAN LOKAL di Bandung, beberapa waktu lalu. Bagi yang ingin menjadi reseller bisa hubungi Abah Ano 081299610215.
Selama ini kata Abah Ano, belum ada reseller yang mundur, bahkan malah bertambah terus. Artinya produk singkong frozen bisa diterima di masyarakat luas. Kapasitas produksinya kini sudah di atas 400 pack setiap hari, pada akhir tahun ini Abah Ano optimis bisa mencapai 1.000 pack.
Abah Ano mengakui, tingkat yang paling sulit itu adalah dalam pemasaran, karena sangat fluktuatif. Kedua, bahan baku singkong. Sebab, faktor tanah akan mempengaruhi rasa singkong. “Walaupun jenis singkong sama, tapi akan menjadi beda. Jadi seleksi diawal itu harus benar-benar ketat,” katanya.
Untuk membantu petani, Abah Ano tetap membeli singkong dengan harga Rp 2.500/kg, meski sedang musim panen dan harga pasaran singkong hanya Rp 500-800/kg. Baginya, yang utama adalah bahan bakunya masih segar. Jadi panen langsung ke proses pembuatan sampai kemudian diberikan bumbu.
“Jenis singkong yang kami gunakan adalah singkong manggu, kami memanennya di usia 7-8 bulan,” kata Abah Ano seraya menambahkan, dirinya kini sudah mendapatkan bantuan alat dari Kementerian Pertanian.
Bagi kalangan milenial, pesan Abah Ano, banyak makanan pangan lokal karena lebih sehat. “Suguhkan pangan sehat untuk orang Indonesia agar kita bisa menciptakan ketahanan pangan lewat pangan lokal,” katanya Abah Ano yang pernah bekerja sebagai Marketing Perusahaan Minyak dan Bank.