Monday, 06 December 2021


Dari Kaki Gunung Merbabu, Sofyan Hasilkan Sayur Organik

19 Nov 2021, 18:53 WIBEditor : Yulianto

Sofyan Adi, petani milenial dari kaki Gunung Merbabu | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah pandemi Covid-19, pertanian menjadi peluang bisnis yang terbuka lebar. Bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum milenial. Terlebih kemajuan teknologi saat ini mendukung generasi muda, dari mulai budidaya hingga pemasarannya.

Adalah Sofyan Adi Cahyono (26), lulusan S2 Agro Teknologi Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini tak malu terjun ke dunia pertanian. Tinggal di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ia sukses menekuni bisnis sayur organik di kaki Gunung Merbabu.

Berawal dari bisnis yang dirintis keluarganya sejak tahun 2006, Sofyan kini berhasil memasarkan sayuran hasil produksinya secara online melalui media sosial. Diantaranya, di Intagram @SayurOrganikMerbabu, facebook dan juga WhatsApp. Dirinya juga membuka peluang distribusi dengan sistem keagenan.

“Ada juga reseller saya di beberapa kota besar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, bahkan hingga Jabodetabek yang mensupport kebutuhan sayur di salah satu mall,” tuturnya kepada tabloidsinartani.com, beberapa waktu lalu

Kalau bicara omset usaha yang digeluti Sofyan, cukup mencengangkan mencapai Rp 100-200 juta/bulan. Omset itu dari 50 jenis sayuran organik yang ditanami di lahan seluas 10 ha. “Omset yang saya peroleh itu sekitar Rp 100 juta/bulan. Saat pandemi sempat terjadi penurunan. Alhamdulillaah Oktober 2021 meningkat lagi naik 3 kali lipatnya,” ujarnya.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Sofyan sempat merencanakan untuk ekspor. Namun, adanya pembatasan akses dan ruang gerak menyebabkan rencanaya belum terealisasi. Karenanya ia fokus pada memenuhi kebutuhan sayur dalam negeri. Namun saat Covid-19 berjalan, kini justru penjualan dalam negeri meningkat 300 persen.

Sayuran Eksotik

Dari beragam sayuran yang biasa dijumpai di pasar seperti kubis, brokoli, tomat, Sofyan juga membudidayakan beberapa sayuran eksotik seperti kale sawi pagoda. “Kami juga punya produk yang cukup langka dan masih jarang ditemui, namanya tomat hitam. Benih saya peroleh dari China,” katanya.

Kini benih tomat hitam tersebut, sudah mampu Sofyan kembangkan sendiri. Dalam pertanian organik, menurutnya, benih harus dari tanaman yang organik juga. Karena itu ia mencoba dibudidayakan sendiri dan ternyata bagus. “Saya seleksi buah yang bagus sebagai bibit untuk penanaman selanjutnya,” ujarnya.

Menurut Sofyan, tomat hitam ternyata cocok ditanam di lokasi wilayah pegunungan Merbabu. Bahkan dirinya juga  pernah mencoba menanam red winter cale. Dari namanya, tanaman tersebut berasal dari daerah yang mempunyai iklim dingin (winter season), tapi ternyata saat ditanam pada musim kemarau hasilnya bagus dan besar. “Ini menandakan bahwa alam kita sebenarnya sangat mendukung untuk sektor pertanian. Satu hal yang menurut saya patut kita syukuri,” ujarnya.

Usaha yang dilakoni Sofyan sebenarnya sudah dimulai sejak kuliah. Saat itu ada program kewirausahaan bagi mahasiswa. Dirinya kemudian memberanikan diri untuk membuat usaha dengan branding Sayur Organik Merbabu (SOM).

Alasan pemberian nama itu karena Sofyan tinggal di wilayah lereng kaki Gunung Merbabu. Harapannya dengan mengembangan usaha itu, dirinya bisa membantu menjual langsung sayuran yang orangtuanya tanam dengan sistem pemasaran online delivery order. Itu dilakukan pada tahun 2014.

“Pada tahun itu sayuran organik hanya bisa dijumpai di supermarket dengan harga yang mahal, sehingga pemikiran saya bagaimana bisa menyediakan sayuran ke konsumen lebih mudah dengan harga yang lebih terjangkau dengan memutus banyak rantai distribusi,” tuturnya.

Ternyata permintaan meningkat, Sofyan kemudian merangkul 15 karyawan, 30 pemuda-pemuda Desa Getasan yang berusia 19-38 tahun. Lalu membentuk Kelompok Tani Citra Muda Getasan pada tahun 2015.

Sesuai branding usahanya, Sofyan, memproduksi sayuran tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia. Bahkan kini mendapatkan predikat kelompok tani mandiri, karena kebutuhan pupuk dan pestisida diproduksi sendiri. Namun sarana produksi tersebut tidak untuk dikomersilkan.

Ia berharap jika produk SOM ini semakin dikenal, maka pasarnya semakin luas. Dampaknya semakin banyak menggandeng petani yang ikut merasakan apa yang dirinya lakukan. “Yang membedakan SOM dengan yang lain adalah dari segi pembelian, saya selalu bermusyawarah supaya petani mendapatkan harga di atas BEP budidaya. Konsumen juga nanti tidak keberatan untuk membeli produk kami dengan harga terjangkau,” katanya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018