Wednesday, 10 August 2022


Nur Rahmi Bawa Sorgum ke Tujuh Negara

22 Mar 2022, 14:46 WIBEditor : Yulianto

Nur Rahmi ekspor sorgum ke tujuh negara | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bagi masyarakat Tanah Air, sorgum mungkin menjadi produk pangan yang belum mendapat tempat sebagai produk pangan premium. Namun di pasar luar negeri, justru permintaannya cukup besar. Terbukti, Nur Rahmi Yanti mampu menerbangkan sorgum ke tujuh negara di dunia.

Dengan bendera CV Yant Sorghum, Yanti membangun usahanya di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dengan kondisi agroklimat di NTB, menurutnya, sorgum dapat panen hingga 4 kali setahun.

Dengan perkiraan ini, petani dapat mengantongi pendapatan bersih lebih Rp 60 juta/ha dalam satu tahun. Sedangkan setiap kali panen, petani dapat mengantongi hasil sekitar Rp 25 juta/ha dengan biaya produksi Rp 6-7 juta/ha.

Yanti menjelaskan, sorgum merupakan tanaman yang zero waste product. Biji sorghum dapat diolah menjadi tepung, pakan ternak, nasi, dan biskuit. Batang sorgum dapat diolah menjadi gula, pakan sapi, kompos, dan permen. Sedangkan daunnya dapat diolah menjadi kompos, pewarna alami, dan keripik.

Dari hasil panen petani, CV Yant Sorghum melakukan pengolahan dari mulai penggilingan, penepungan, hingga mencapai produk jadi. “Perusahaan kami mencoba mengolah sorgum semaksimal mungkin. Biji, batang, dan daunnya kami olah seluruhnya,” ujarnya.

Beberapa produk yang dihasilkan meliputi beras sorgum, tepung sorgum, gula cair sorgum, kue kering, minuman kesehatan sorgum, popcorn sorgum, keripik daun sorgum, kerupuk sorgum, serta dendeng daun sorgum.

Pemasaran yang kami lakukan tidak hanya konsumen yang dapat membeli langsung, tapi juga kepada penjual. Metode yang dilakukan ini dapat mengurangi rantai pasok yang panjang, sehingga harga lebih kompetitif,” tuturnya.

Tembus Mancanegara

Kegigihan Yanti mengangkat sorgum NTB menuai hasil. Kini ia berhasil mengekspor produk pangan olahan berbasis sorgum ke tujuh negara sejak pandemi Covid-19 pada 2020 hingga saat ini. "Saya mulai mengekspor kue dari bahan baku sorgum sejak 2020. Awalnya ke Singapura, Belanda dan China sebanyak 1.000 buah dengan nilai yang masih relatif kecil, hanya Rp 20 juta," katanya.

Kemudian pada 2021, kata dia, permintaan datang dari mitra bisnis di Turki dan Dubai (Uni Emirat Arab). Total nilai ekspor sebesar Rp 40 juta atau naik 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pasar ekspor, lanjut Yanti, kembali bertambah pada awal 2022. Dua negara tetangga Indonesia, yakni Malaysia dan Timor Leste menjadi tujuan pengiriman barang senilai Rp 700 juta.

"Pelepasan ekspornya digelar di Desa Santong Mulia, Lombok Utara, Sabtu (22/1/2022). Ini ekspor yang paling besar sejak saya mulai mengirim ke luar negeri dengan 10 jenis produk olahan sorgum," ujar Yanti yang mengaku bisa mengirim produknya ke luar negeri karena ada pembeli yang langsung datang ke tempatnya.

Kesepuluh produk olahan sorgum yang dilepas ekspornya adalah keripik tempe sorgum, rollsorgum, puffsorgum, keciput sorgum, stik bawang sorgum, beras sorgum, tepung sorgum, biskuit sorgum, gula cair sorgum kemasan botol dan saset,sertasendok dan garpu berbahan sorgum yang bisa dimakan (edible sorghum spoon and fork).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor olahan serealia Indonesia selama 5 tahun terakhir(2016-2020) tumbuh dengan tren sebesar 12,16 persen per tahun. Pada periode Januari-November2021, nilainya tercatat sebesar 4,6 juta dollar AS atau turun 10,75 persen dibandingkan periode yang sama 2020. Pasar ekspor utama olahan serealia Indonesia adalah Korea, Turki, India, Hong Kong, Taiwan, Timor Leste, Malaysia, Australia, Kanada, dan Arab Saudi.

Selain pasar luar negeri, Yanti juga melayani mitra bisnis dari berbagai daerah, seperti Medan, Pekanbaru, Jakarta, Surabaya, Malang dan Bali. Di samping memasarkan di dalam daerah sendiri. Produk pangan olahan berbasis sorgum yang dipasarkan di dalam negeri yakni kue sorgum, beras sorgum, tepung sorgum, dan gula sorgum.

"Saya memasarkan ke beberapa hotel dan restoran. Ada juga ke toko kue dan toko penjual bahan kue di Kota Mataram," tuturnya. "Saya juga memanfaatkan Shopee dan toko offline, di samping ada juga pembeli dari luar negeri yang datang langsung ke sini," tambah perempuan pemilik merek dagang Yant Shorgum Healthy itu.

Dengan makin luasnya wilayah pemasaran, kata dia, volume serapan sorgum dari petani binaan terus bertambah. Jika awalnya hanya 5 ton per bulan, kini menjadi 10 ton per bulan. Sorgum di beli dari petani yang tersebar di 22 desa di lima kabupaten/kota, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Lombok Tengah.

Harga beli sorgum kering di tingkat petani sebesar Rp 5.000/kg. Dengan harga sebesar itu, menurut Yanti, petani bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 35 juta dari hasil produksi 8 ton/ha selama masa tanam tiga bulan. "Jumlah petani mitra saya sekitar 1.000 orang dengan luas lahan tanam mencapai 500 ha yang tersebar di 22 desa di lima kabupaten itu," kata Yanti.

Sorghum saat ini populer untuk menjadi pangan alternatif, namun di lokasi Yanti berada yaitu di Lombok, NTB. Namun, masih terdapat kendala terkait pemenuhan produksi untuk dijual ke pasar. Pasalnya, belum rampungnya tempat produksi yang dibangun secara bersama oleh kelompok Sorgum. PR yang belum selesai. Semangat, semoga pangan lokal Indonesia kian mendunia. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018