Sunday, 26 June 2022


Siswanto, Pensiun PNS Kembangkan Herbal Tolak Balak

31 Mar 2022, 10:21 WIBEditor : Herman

Siswanto Produksi Ramuan Tradisonal Tolak Balak | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Batu Malang --- Purna tugas tidak membuat Siswato berhenti untuk terus berkarya. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Batu Malang ini memutuskan untuk mencoba hal baru dengan memproduksi berbagai herbal yang baik untuk kesehatan.  

Sejak dahulu produk herbal memiliki pasar tersendiri di tanah ait. Apalagi ketika pandemic seperti sekarang, produk herbal menjadi naik daun dan banyak dicari orang untuk lebih meningkatkan imun tubuh dan menjaga kesehatan.  

Hal inilah yang mendorong Siswanto seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota batu, Malang, Jawa Timur untuk memproduksi berbagai produk herbal dengan brand Tolak Balak.  

“Awalnya Tahun 2004 saya memproduksi minuman sari apel, tapi karena minuman itu berbentuk cair kalau dikemas harus ada bahan-bahan tambahan seperti pengawet saya tidak tertarik. Akhirnya setelah pensiun PNS saya memproduksi minuman herbal tradisional tolak balak ini,” Jelasnya. 

Karena tidak memiliki pengetahuan dan penglaman dalam mengolah bahan herbal, Siswanto memutuskan untuk kursus kepada seorang herbalis. Dengan pengetahuan dan belajar langsung pada ahlinya, akhirnya Siswato yakin dengan produk herbal buatanya dan mengeluarkan empat varian produk herbal.

“Kalau misalnya kita terkena penyakit flu terus ke dokter pasti ada anti biotiknya. Anti biotic itu  kita ganti dengan kunyit, kencur yang sering untuk stamina, jahe merah untuk pernafasan atau tenggorokan, kemudian lambung dengan temulawak,”tuturnya. 

Diceritakan Siswanto, pada awal produksi ia mengerjakanya secara manual yaitu dengan cara menggoreng berbagai herbal untuk diambil sarinya dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.  

“Saya menggoreng sampai malam hanya dapat 4 kg, besoknya saya berikan ke teman-teman. Kemudian saya uji coba bukan hanya sekedar bahan pokoknya, tetapi saya tambahkan bahan yang lain seperti, serai, cengkeh, dan kayu manis,” tambah Siswanto. 

Situasi pandemic seperti sekarang yang membuat banyak orang mencari produk herbal alami untuk imunitas tubuh membuat Siswato semakin termotivasi dengan produk yang ia buat. Apalagi ketika awal pandemic harga jahe merah mencapai Rp 125 ribu/kg membautnya semakin bersemangat.   

Dalam proses produksi, Siswanto dibantu Istri, anak dan satu karyawannya.Untuk produksi masih keluarga saja, dibantu istri dan anak serta 1 orang karyawan dengan total produksi mencapai 30-45 kg/hari.  

Siswanto memberikan cara membuat produk herbal, yaitu dimulai dengan membersihkan bahan herbal menggunakan air. Kemudian bahan diparut menggunakan mesin, dan selanjutnya diperas dan diendapkan agar patinya bisa keluar dan bersih. Setelah itu dimasak dengan menggunakan mesin hingga meresap dan ditambahkan gula lalu tunggu hingga menjadi Kristal dan produk herbal siap dikemas.  . 

”Segmen pasar laki-laki maupun wanita dengan rentan usia 15-70 tahun. Dan produk herbal ini kita pasarkan di perkotaan yang membutuhkan kesehatan dari produk herbal. Kalau masyarakat desa sudah sangat familiar dengan produk herbal dan mudah mendapatkanya,” ungkap Siswanto.

 

 Siswanto menjual herbal Tolak Balak dengan harga bervariasi mulai dari  Rp 25 ribu - Rp 30 ribu,. Sedangkan untuk yang ukuran kecil seperti jahe merah dan kencur dijual dengan harga Rp 10 ribu – Rp 15 ribu.

Reporter : Soleman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018