
Produk Emping Jahe
TABLOIDSINARTANI.COM, Batu Malang – Terus berinovasi menjadi modal utama Khoirul Imam mengembangkan produk emping jahe hingga sekarang. Bukan hanya diminati masyarakat sekitar, sensasi rasa emping jahe yang berbeda juga memikat pasar mancanegara seperti Belgia hingga Dubai.
Jahe menjadi salah satu rempah yang sangat familiar ditengah masyarakat. Dengan khasiatnya yang luar biasa, untuk meningkatkan imun tubuh hingga menjaga stamina membuat jahe banyak dikonsumsi semua kalangan.
Karena itu tidak heran selain jahe segar seperti jahe gajah, jahe merah, hingga jahe emprit, berbagai olahan jahe seperti ekstrak jahe hingga wedhang jahe laris dipasaran. Bahkan saat pandemi covid 19 menyerang, jahe menjadi salah satu rempah yang naik daun dan membuat harganya melambung berkali lipat.
Namun ada yang berbeda dari olahan jahe yang dibuat Khoirul Imam, lewat inovasi, Imam mencoba membuat produk emping jahe yang memadukan jahe merah dan jahe emprit sehingga menghasilkan sensasi dan citarasa yang berbeda. Bukan hanya itu, dengan berbentuk emping membuat produk olahan jahe yang satu ini praktis disajikan dan tentunya bisa disimpan dalam waktu yang lebih lama.
Imam menceritakan awal mula tertarik membuat emping jahe ketika melihat ibu-ibu PKK ditempat tinggalnya mendapatkan pelatihan membuat emping jahe. Dari sana ia yakin bahwa produk ini bisa dikembangkan lebih baik dan bisa menambah penghasilan warga sekitar.
“Pada tahun 2003 karyawan saya terbagi 3 shif, lama kelamaan ada karyawan yang menikah dan ikut suaminya, sekarang tinggal 20 orang,” ungkapnya.
Proses pembuatan emping jahe dimulai dengan membersihkan jahe merah dan jahe emprit, setelah itu kedua bahan tersebut diparut dan dicampur dengan kelapa. Adonan jahe kemudian digoreng bersama dengan gula yang dilelehkan dan dicampur dengan wijen. Lalu jahe yang sudah masak dicetak diatas meja.
“Mulanya tidak bulat seperti ini, atas masukan dari beberapa teman dibuat inovasi melengkung jadilah bentuk emping jahe yang menarik yang seperti ini,” kenangnya.
Dengan menyasar target semua kalangan baik kelas bawah menengah maupun atas, Imam membuat berbagai varian emping jahe. “Pada awal produksi ada kemasan kecil-kecil dengan harga Rp 10 ribu dapat 3 macam, hanya sekarang bahan baku naik, saat ini yang diproduksi kemasan 150 gram dengan harga sekitar Rp 20 ribu,” jelasnya.
Selain dijual di toko yang dimiliki, Imam juga memasarkan produknya secara online. Karena itu tidak heran bila emping jahe buatannya dikenal luas bahkan Imam juga sempat mengekspor produknya ke beberapa negara seperti Belgia dan Dubai.
“Kedepannya kita akan masuk supermarket, masih dalam tahap negosiasi. Masalahnya kemarin desainnya diperbaiki dan harga jahe merah kemarin juga sampai Rp 100 per kilo, jadi dikurangi, bahan yang tidak penting dihilangkan,” paparnya.