Thursday, 30 June 2022


Produk Olahan Bawang Merah Tembus Pasar Ekspor

18 May 2022, 11:06 WIBEditor : Herman

Produk Olahan Bawang Merah Tembus Pasar Ekspor | Sumber Foto:Juwari Gapoktan Mulya Tani

TABLOIDSINARTANI.COM,    Jakarta --- Bawang merah menjadi salah satu komoditas pertanian yang strategis. Bila selama ini sebagian besar produk bawang merah dijual dalam bentuk segar, terobosan olahan bawang merah sudah mulai dilirik dan hasilnya sangat menjanjikan. Bukan hanya pasar dalam negeri, produk olahan bawang merah seperti pasta bawang dan bawang crispy ternyata sudah memikat pasar ekspor.

Budidaya bawang merah sangat unik dan perlu perhatian khusus, karena produk ini merupakan komoditas yang sensitif, strategis dan memerlukan perhatian khusus dalam proses budidayanya.

Selain itu, seperti diungkapkan Ketua GAPOKTAN “MULYA TANI” Kab. Brebes, Juwari, dalam webinar Bawang Merah, Sukses Budidaya hingga Menembus Pasar Ekspor yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Agricon, bahwa bawang merah memiliki beberapa kekhasan baik on farm maupun Off farm.

Diantaranya dapat tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi (5 meter s/d 1500 meter ) dpl, dapat  tumbuh di berbagai jenis tanah (Gromusol, Latosol, Aluvial) dengan berbagai tekstur. Membutuhkan air yang cukup tidak berlebih, berumur pendek (60 hari) dan merupakan tanaman intensif ( harus selalu di amati setiap hari / setiap minggu) diikuti tindakan.

“Terkait off farm budidaya bawang merah merupakan usaha tani yang dilakukan lebih berorientasi pasar, padat modal, resiko harga cukup besar karena sifat komoditas yang cepat rusak dan harga relatif berfluktuasi dalam jangka pendek,” tambah pria yang juga Ketua Umum  Asosiasi Bawang Merah Indonesia ( ABMI ) ini.

Dalam melakukan budidaya bawang merah, ada berbagai permasalahan yang harus diwaspadai yang menyebabkan fluktuasi harga dan disparitas harga yang sangat jauh. Diantaranya tempat produksi jauh dari pusat konsumsi, bersifat musiman padahal konsumsi bawang berlangsung sepanjang waktu.  Dan komoditas bawang merah tidak dapat langsung dikonsumsi perlu proses penjemuran, sortasi, packing, dan lain sebagainya.

Selain itu sifat mudah rusak, petani butuh pembayaran tunai setelah panen, tidak merata di semua daerah, harga berfluktuasi dalam jangka pendek. Serta mata rantai distribusi panjang  mulai dari petani, penebas, pedagang pengepul, pedagang pengiriman, pedagang pasar induk, pedagang pengecer hingga konsumen, menjadi permasalahan yang harus dihadapi petani.

“Menurunnya produktivitas lahan, rentan dengan serangan OPT, dan rentan dengan cuaca extrem  seperti curah hujan tinggi, banjir, kekeringan menjadi permasalahan on farm yang dihadapi para petani,” tambah Juwari.

Juwari menjelaskan kondisi agrobisnis bawang merah saat ini 99?wang merah yang di pasarkan dalam bentuk segar (bawang mentah). Usaha tani bawang merah 80% di usahakan oleh petani kecil dengan luas penanaman < 05> kemampuan mengolah produksi  dan pasar produk olahan yang masih rendah, serta penyerapan bawang merah untuk industri masih  kecil.

Ditengah berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi pelaku usaha agribisnis bawang merah, Juwari mengaku ada peluang yang sangat menjanjikan dalam industrialisasi bawang merah. 

Beberapa indikator peluang  tersebut antara lain panen bawang merah yang melimpah mencapai 1,8 juta ton/tahun dan konsumsi bawang merah masyarakat Indonesia yang tinggi yang mencapai 4,56 kg /kapita/tahun).

 “Bawang merah bisa diolah untuk memberikan nilai tambah dan trend masyarakat sekarang suka yang praktis / instan/ tidak mau repot, menjadi suatu peluang tersendiri untuk industrialisasi,” tambahnya. 

Melihat berbagai peluang yang ada, Juwari bersama para petani bawang merah mencoba untuk mendirikan badan usaha.  Ada tiga kelompok tani (poktan) yang digabungkan yaitu Simakmur, Sidodadi dan Sidopanen yang digabung menjadi Gapoktan Mulya Tani.

“Gapoktan Mulya Tani membuat Badan Usaha Milik Petani yang sahamnya berasal dari para petani anggota kelompok, lalu membentuk PT Sinergi Brebes Inovatif yang bergerak dibidang pengolahan bawang merah,” ujarnya.

Dengan dibentuknya BUMP, Juwari mengaku berbagai perubahan dirasakan mulai dari hulu sampai hilir, terutama dalam  pengolahan dengan dibuatnya pabrik olahan bawang merah dan pemasaran bawang merah secara langsung.

Usaha yang dilakukan BUMP antara lain penanaman Off  Seasion  kepada anggota kelompok tani, penyediaan benih,  pemasaran bawang merah segar konsumsi ke Pasar Induk Kramat Jati, PT. Alfa midi, TTI  (Toko Tani Indonesia), PD. Pasar Jaya dan ekspor.

Juwari mengatakan varietas bawang yang bisa diekspor antara lain varietas super Philip yang biasa ditanam petani di Bima dan Dompu serta Probolinggo.  Dan varietas Bima Brebes dengan grade A super yang memiliki diameter 2,5 up.

Sementara untuk olahan bawang merah, BUMP membuat berbagai olahan bawang merah seperti pasta bawang, bawang crispy dan bawang goreng. Pasta bawang dibuat dari bawang merah berukuran kecil yang tidak laku terjual dipasaran, sedangkan untuk bawang crispy menggunakan bawang utuh berukuran sedang (bawang bulat) yang digoreng sehingga memiliki citarasa crispy. 

“Untuk pasta bawang kita tembus pasar ekspor  Arab Saudi pada tahun 2019 sekitar 50 ton. Sedangkan untuk bawang crispy kita rutin ekspor ke Singapura setiap bulan sebanyak 40 karton dan tahun ini kita berencana untuk ekspor ke Singapura dan Cina sekitar 1 kontainer,” ujarnya. 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018