Wednesday, 10 August 2022


Diproses Secara Tradisional, Sabusi Hadirkan 25 Varian

30 Jun 2022, 16:41 WIBEditor : Herman

Sabusi Minuman Fermentasi Buah | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Kota Batu --- Mengangkat produk olahan pangan lokal khususnya minuman fermentasi dari sari buah, bunga, rimpang dan labu sehingga dikenal masyrakat luas menjadi tujuan utama Indonesia SABUSI Association (Asosiasi Pengrajin Sari Buah Fermentasi Indonesia). 

Di beberapa daerah di tanah air, minuman fermentasi buah memang sudah dikenal terutama oleh kalangan anak muda. Tidak seperti wine (fermentasi buah anggur) yang memiliki kanduangan alcohol dan memabukkan, minuman fermentasi buah tradisional ini malah memberikan dampak baik untuk kesehatan. 

Memiliki impian ingin memperkenalkan minuman fermentasi bukan hanya di dalam negeri, kelompok penggiat riset dan pengembangan teknologi pengolahan minuman fermentasi di Kota Batu, Malang ini memperkenalkan produk olahanya dengan nama Sabusi (Sari Buah Fermentasi) 

“Awalnya kami akan menamai ini tape buah, tape bunga atau tape labu, tapi dalam bahasa marketing terkesan kurang menjual. Kenapa tape, ya memang basiknya ini teknologi kuno bagaimana nenek moyang kita membuat tape. Ya mungkin waktu itu ketemunya singkong, beras, atau ketan hitam saja, padahal varian buah di sekitar kita dapat diproses serupa,” ungkap Anwar. 

Dijelaskan Anwar, bila di Eropa punya minuman fermentasi kebanggan yaitu Wine yang diproduksi di pedesaan negeri mereka, maka di Indonesia juga punya varian “wine non-anggur” atau disebut juga Tropical Wine yang diberi nama Sabusi. 

Sabusi merupakan minuman fermentasi dari berbagai jenis buah yang ada di Indonesia. Ada 25 varian Sabusi yang saat ini ditawarkan mulai dari apel, salak, nanas, labu butternut, rimpang temulawak (java ginger), bunga mawar jawa, dan berbagai jenis lainnya.

 

Diceritakan Anwar, awal ia mengembangkan Sabusi bermula ketika bertemu dengan Dody Baswardjoyo, seorang petani di Desa Junrejo yang sejak muda memiliki hobi mengolah beragam hasil panen menjadi minuman feremntasi di rumahnya. Dari pertemuanya di tahun 2018 tersebut, minuman feremntasi yang awalnya hanya untuk konsumsi keluarga, ternyata memiliki peluang untuk dikembangkan, karena memiliki rasa dan khasiat yang luar biasa. 

Anwar bersama rekan Dino yang memang memiliki kemampuan desain grafis produk kemasan mencoba untuk  mengemas berbagai minuman fermentasi koleksi keluarga Dody agar bisa dipasarkan secara luas ke masyarakat umum. 

Dengan kemasan yang modern dan terus melakukan pengembangan varian produk yang ada, serta pemasaran baik melalui media online hingga mengikuti berbagai pameran di Dinas Pertanian Kota Batu berlahan namun pasti Sabusi mulai dikenal masyarakat luas.

Diungkapkan Anwar, Samusi makin berkibar ketika masa pandemic. Ketika masyarakat membutuhkan asupan  nutrisi, vitamin, sebagai penangkal radikal bebas dan peningkatan daya tahan tubuh melonjak, fermentasi rimpang temulawak dan buah Mulberry menjadi primadona karena  keduanya berkhasiat bagi pencernaan dan antioksidan. 

Ada yang menarik dari pemasaran Sanusi terutama pada desain dan penamaanya. Penamaan kemasan botol minuman Sabusi disesuaikan dengan asal daerah sumber komoditas olahan tersebut berasal, misalnya label JunRejo, desa di kota Batu yang jadi lokasi rumah produksi di tengah kebun mulberry. Lalu ada Tulungrejo yang merupakan daerah penghasil buah Apel yang meruapakan ikonik dari Kota Batu . 

“Di luar itu, ada label SugihWaras nama desa di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri desa penghasil buah nanas,”tambahnya. 

Anwar menjelaskan, proses fermentasi menggunakan ragi saccaromhysis yang diolah menjadi probiotik. Studi menunjukkan bahwa minum fermentasi buah/bunga/rempah/umbi/labu atau wine non anggur khususnya, dapat mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, batu empedu, diabetes tipe 2 dan demensia.  

 

Bahkan juga dapat meningkatkan sistem metabolisme dalam tubuh. Setiap buah, bunga, rempah, umbi dan labu mengandung alkohol alami untuk asupan kebutuhan tubuh, dan imunterapi, fermentasi adalah proses memantik dan mengikat nutrisi agar bertahan dalam waktu jangka panjang. 

Dijelaskan Anwar, kandungan alkohol yang muncul pada minuman Sabusi tergantung dari pembawaan masing-masing komoditi yang muncul dari proses "per-tape-an". Konsumsi alkohol dalam jumlah ringan telah dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan yang baik. Ini yang disebut proses suplai probiotik ke dalam tubuh, lawan dari proses Antibiotik (obat sintetis ketika sakit). 

Iklim topis di Indonesia menjadi suatu keuntungan, karena mampu mengikat bakteri baik pengolah makanan yang mudah dicerna tubuh walaupun lewat teknologi sederhana dalam industri rumah tangga, 

Proses dimulai dengan jus buah yang kemudian difermentasi dan dijaga dari udara terbuka agar tidak bersifat asam, kemasan prioritas dari botol kaca menjaga agar mikroba bergerak netral, kualitas fermentasi di negeri tropis perbandingannya 1:3, usia 1 tahun fermentasi Indonesia sama dengan 3 tahun usia fermentasi Eropa. 

Di beberapa belahan dunia, seperti contoh di Prancis, masyarakatnya kerap minum sesloki atau segelas kecil wine sebagai penutup dari menu makanan mereka pada takaran tertentu saja. Masyarakat Eropa yang melegalkan alkohol mengenal istilah standard drinks–kadar minimal minuman beralkohol yang diperkenankan dan dapat ditoleransi tubuh. Minuman standard drinks itu telah ditakar dan diteliti oleh para ahli, sehingga “peminum rasional” memahami batasan minum serta menjauhi merek dan jenis yang tak bisa mereka toleransi kadar alkoholnya. 

Menurut Anwar, standard drinks sebagai SOP (prosedur pokok) mengkonsumsi, kini yang sedang jadi kampanye edukasi yang dilakukan pengrajin SABUSI. Dalam pandangan ulama agama Islam, fermentasi termasuk di golongan Nabidz, 

Mengutip artikel di www.halalmui.org : Imam Abu Hanifah berpendapat khamar itu pasti mengandung alkohol dan haram; namun alkohol belum tentu khamar. Sebagai contoh, buah durian yang telah masak mengandung alkohol, sehingga ada orang yang tidak kuat lalu menjadi mabuk karena memakannya, demikian pula buah-buahan yang matang dan dibuat jus, itu mengandung alkohol. 

Namun para ulama tidak ada yang mengharamkan durian atau jus buah, termasuk dalam kategori ini adalah tape yang mengandung alkohol, tetapi bukan khamar. Pada kenyataannya juga, tidak ada orang yang mabuk atau sengaja mabuk dengan memakan tape. Imam Abu Hanifah menyebut makanan/minuman yang mengandung alkohol ini sebagai Nabidz, bukan khamar. Berkenaan dengan Nabidz ini, Imam Abu Hanifah berpendapat pula, apabila Nabidz dapat menyebabkan mabuk, maka menjadi haram. Namun, apabila tidak menyebabkan mabuk, maka tetap halal,

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018