Monday, 08 August 2022


Andalkan Kandang Semi Modern Cara Tenang Bangun Beternak Sapi.

11 Jul 2022, 13:13 WIBEditor : Herman

Tenang bangun, Peternak Asal Karo Sumatra Utara | Sumber Foto:Istansu

TABLOIDSINARTANI.COM, Karo --- Ditengah wabah PMK yang melanda peternakan di tanah air, Tenang Bangun seorang peternak sapi dari kelompok Tani Desa Bulan Julu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo Sumut, punya cara berbeda untuk melindungi ternaknya. Selain menggunakan sistem pemeliharaan semi modern, Tenang memberikan ramuan tradisional untuk melindungi ternaknya dari wabah yang saat ini melanda.

Beternak sapi sudah dijalankan Tenang Bangun sejak 15 tahun lalu ditengah kesibukannya sebagai petani. Dengan mengandalkan sistem pemeliharaan semi modern, Tenang Bangun membuat kandang berlantai semen yang dilengkapi pembuangan limbah, saluran penampungan air seni dan tempat feaces/kotoran sapi, serta sarana air bersih.

Untuk menjaga kebersihan ternak. Tenang Bangun setiap hari melakukan pembersihan kandang serta ternak dimandikan seminggu 1-2 kali sesuai situasi. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, Tenang Bangun memberi pakan hijauan 75 kg/ekor/hari atau 300 kg/hari untuk 4 ekor sapi yang dipeliharanya.

“Pakan hijauan diperoleh dari ladang tanaman jeruk keluarga ada lebih kurang 6 hektar dengan menggunakan mesin babat dan alat angkut pik up,” ungkapnya.

Tenang Bangun mengatakan dengan sistem kandang semi modern, ada simbiosis mutualisme antara peternakan dan pertanian dimana feases/kotoran dan air seni/kencing sapi diberikan sebagai pupuk dan pestisida nabati di ladang jeruk, dan hasil hijauan dari ladang jeruk diberikan sebagai pakan sapi.

Ditambahkan Tenang Bangun, sapi yang dipelihara saat ini dibeli dari Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang jenis peranakan simental hasil Inseminasi Buatan ( IB ) dengan harga Rp 20 juta/ekor.

Setelah dipelihara selama 6 bulan, maka diprediksi pertambahan berat/bobot ternak sudah bertambah dan bobot ternak mencapai 400 kg dengan taksiran harga pembeli/bolker sapi yang datang langsung ke kandang harga sekitar Rp 30 juta/ekor.

“Biasanya saya menjual sapi setelah pemeliharaan 12 bulan (1 tahun) dengan capaian bobot 800 kg/ekor," ungkapnya.

Terkait penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini sedang mewabah di tanah air, Tenang Bangun mengatakan ada resep/ramuan yang dimilikinya untuk mencegah wabah tersebut menjangkit pada sapi peliharaanya.

Yaitu dengan rutin memyemprot minyak lampu pada kaki sapi dan memberikan ramuan air sereh dicampur dengan mentega dan diminumkan 2 kali seminggu pada sapi.

“Insyallah sehat  karena ketentuan di tangan Allah SWT, manusia hanya berusaha," ujar Tenang Bangun.

Walaupun usaha ternak sapi ini sudah lama dijalankannya, namun Tenang Bangun mengatakan belum pernah mendapatkan bantuan ternak dari pemerintah dan memang dirinya beserta kelompok tani juga belum mengusulkan untuk mendapat bantuan tersebut. 

“Saya berharap Pemerintah memberikan fasilitasi bantuan penggemukan sapi serta dorongan Kredit Usaha Rakyat ( KUR ) Penggemukan Sapi dari perbankan,” tandasnya. 

Reporter : Istansu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018