Monday, 08 August 2022


Gembala Dilahan Sawit, Cara Yani Beternak Sapi

26 Jul 2022, 09:32 WIBEditor : Herman

Yani, Peternak Asal Desa Nagatimbul, Tanjung Morawa | Sumber Foto:Istansu

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanjung Morawa --- Menggembala sapi diengah lahan sawit menjadi pilihan Yani untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan kerja kerasnya saat ini Yani telah memiliki 35 ekor sapi yang digemala ditengan kesibukanya bertani pisang barangan dan melon.

Selepas ditinggal suami tercinta M Arifin Barus, 11 tahun lalu, wanita dari desa Nagatimbul, Kecamatan Tanjung Morawa ini memilih meneruskan beternak sapi dan bertani pisang barangan serta melon.

Usaha ternak sapi dengan sistem gembala/angon di area perkebunan sawit swasta ini terus bertahan dan berkembang hingga sekarang. Dari yang awalnya 25 ekor sapi, saat ini Yani sudah memiliki 35 ekor sapi yang menjadi penghasilan utama dalam mencukupi kebutuhan keluarga dan membesarkan 2 putranya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Saat ini ada 25 ekor betina dan 10 jantan, untuk jantan yang bagus akan dijadikan pejantan pemacak dan yang kurang bagus akan digemukkan dengan ukuran daging qurban,” ujarnya.

 Yani mengatakan saat covid 19 penjualan sapi qurban mengalami penurunan, dan tahun ini hanya terjual 3 sapi dan berharap tahun 2023 akan ada perubahan ekonomi Indonesia.

Usaha ternak dengan sistem gembala dilahan sawit Desa Nagatimbul, Kecamatan Tanjung Morawa sudah dijalankan sejak  adanya perkebunan sawit pemerintah dan swasa di daerah tersebut. Selain Yani, ada 10 orang warga desa Nagatimbul yang juga melakukan gembala sapi di kawasan kebun sawit, dengan masing-masing peternak memiliki 25-40 ekor ternak.

Dijelaskan Yani, menggembala sapi di kebun sawit telah dilakukan warga secara turun temurun. Biasanya ternak digembalakan mulai pukul 09:30 wib dan kembali ke kandang pada sore hari sekitar pukul 18:00 wib. Selain mendapat pakan rumput di lahan kebun sawit, sapi juga mendapat tambahan hijuan dari pelepah sawit yang lidinya sudah diambil.

“Hampir 9 jam ternak di lahan kebun sawit memakan rumput atau hijauan yang tersedia sepanjang tahun. Umumnya ternak pada siang atau tengah hari istirahat makan karena terik dan lelah berjalan dengan jarak tempuh setiap ahrinya mencapai sekitar 8-10 km,” ungkapnya.

Yani menceritakan dalam menggembala, biasanya akan ada ternak yang menjadi pemimpin atau komando secara insting yang diikuti oleh ternak lainnya baik dalam perjalanan maupun ketika mencari makanan. 

“Penggembala tidak bisa mengarahkan ternaknya untuk menggiring makan, tetapi insting atau behavor  ternak lebih tahu. dimana sumber pekan berada, dan ternak akan menggilir atau merotasi secara terus menerus mencari pakannya,” tambahnya.

Dalam mengembalakan ternaknya, yani dibantu satu orang karyawan yang selain diberi gaji setiap bulan juga memberikan tambahan apabila ternak lahir atau terjual. Dalam mengawinkan ternaknya, Yuni mengaku melakukan perkawinan secara alami. 

‘Untuk mengatasi penyakit pada hewan gembalaan, saya menggunakan mantri hewan serta membeli obat di poultryshop dan sebelummnya secara tradisional, “ ujar Yani. 

Reporter : Istansu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018