Senin, 22 April 2024


Tinggalkan Dunia Perbankan, Taufik Satukan Karya dan Pikiran dalam Kopi Kadiran

01 Mar 2024, 10:14 WIBEditor : Yulianto

Pensiun dini dari bekerja di perbankan, Taufik pilih jadi petani kopi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kopi kini menjadi salah satu komoditas yang menarik bagi kaum milenial untuk terjun menekuni usaha. Tumbuhnya kedai dan cafe kopi hingga dipelosok daerah yang dikelola generasi muda menunjukkan peluang usaha yang menjanjikan. Salah satu yang jatuh hati menekuni dunia kopi adalah Taufik Rismawan yang mengelola Kopi Kadiran di Sumedang, Jawa Barat.

Mewariskan perkebunan kopi milik orang tuanya dan berbekal modal patungan dari keluarga, Taufik mulai serius membangun usaha kopi dari hulu hingga masuk ke industri hilir. “Kebetulan keluarga saya punya lahan perkebunan kopi. Kalau tiap liburan saya selalu diajak ke kebun kopi,” katanya saat bertemu Tabloid Sinar Tani, beberapa waktu lalu.

Namun Taufik bercerita, ketika pulang kampung dan berkunjung ke kebun kopi, orang tuanya selalu mengeluhkan hasil penjualan biji kopi yang dijual ke pengepul. Ketika musim panen, harganya anjlok. Tengkulak selalu menekan hingga di bawah harga pasar, sehingga untuk operasional kebun tidak menutupi.

Jangankan untuk operasional kebun. Buat sehari-sehari juga kurang. Itu jadi kepikiran. Bagaimana saya bisa bantu orang tua meringankan ekonomi keluarga. Awalnya memang kami berkebun hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja,” katanya.

Bermula dari keresahan itulah, akhirnya Taufik yang bekerja di salah satu perbankan pada November 2017  memutuskan kembali ke kebun belajar kopi. “Alhamdulillaah, tahun 2017 saya membuka usaha dengan merintis Kopi Kadiran yang ternyata bisa sampai sekarang dan makin berkembang. Anggota Kelompok Tani Kopi Gunung Susuruk kini mencapai 21 orang,” kata Taufik yang diamanahkan menjadi Kelompok Tani Kopi.

Terjun ke industri hilir pengolahan kopi, Taufik mengaku hanya taraf mencoba dan belajar otodidak dari internet. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi dirinya memang tidak mempunyai ilmu dalam pengolahan kopi. Pada tahun 2018, ia terhubung dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Sumedang dan mendapat binaan juga dari Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian.

“Saya mendapat bimbingan teknis pengolahan kopi hingga pascapanen. Ketika itu, saya banyak mendapatkan ilmu bagaimana pengelolaan kopi,” kata Taufik yang seorang sarjana jurnalistik. Bagi Taufik, pemilihan nama Kadiran mengandung makna cukup dalam. “Kopi Kadiran itu singkatan dari karya diri dan pikiran,” ujarnya.

Kehadiran usaha Kopi Kadiran mampu mendongkrak ekonomi masyarakat. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018