Selasa, 23 Juli 2024


Jadi Petani Kakao, Perempuan Bolaang Mongondo ini Dapat Puluhan Juta

20 Mar 2024, 10:00 WIBEditor : Herman

Sisilia Mendapatkan Penghargaan Petani Perempuan Inspirasional | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bolaang Mongondo --- Penyetaraan  gender dan pemberdayaan perempuan  bidang pertanian mampu menghasilkan petani perempuan beromset puluhan juta setiap bulannya. Salah satunya Sisilia Ni Wayan, petani  kakao perempuan asal Wedi Agung Selatan, Dumoga Tengah,  Kabupaten Bolaang Mongondo, Sulawesi Utara.

Perjalanan Sisilia menjadi  petani perempuan yang sukses tidak mudah, mengingat di sebagian  besar masyarakat masih menganggap laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda berdasarkan gender.

Laki-laki dianggap memiliki derajat yang lebih kuat, gagah, pekerja keras, dan cocok melakukan aktivitas di luar rumah. Sementara perempuan dianggap sebagai makhluk lemah lembut, keibuan, dan tak cocok beraktivitas di luar rumah. Perempuan pada umumnya banyak yang tersingkir akibat stigma yang terjadi di masyarakat tersebut.

Pola relasi gender ini yang memberikan peran lebih besar terhadap laki-laki dibanding perempuan yang dibatasi dari berbagai kegiatannya. Dengan begitu, secara tidak langsung hal ini menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan bagi perempuan.

Namun, seiring perkembangan zaman, banyak perempuan yang memutuskan untuk mencari nafkah bagi keluarga. Seorang perempuan yang memiliki peran sebagai pencari nafkah bagi keluarga jelas tidak mudah. Tetapi faktanya, perempuan pencari nafkah di keluarga ini bukan hal tabu bagi kehidupan sosial masyarakat.

Padahal, perempuan yang terlibat perekonomian di dalam keluarga selain ingin menunjang kesejahteraan, juga ingin meringankan beban suami.  

Sisilia adaLah petani yang  mendapatkan penghargaan petani perempuan inspirasional pada acara seminar memeriahkan Hari Perempuan Internasional 2024 dengan Tema Meraih Peluang Bisnis Melalui Penguatan Peran Perempuan di Sektor Pertanian Kerjasama antara Prisma Dan PisAgro.

”Sebelumnya saya berjualan sayur keliling tahun 2011, selama 4 Tahun setelah itu saya belajar membuat benih kakao, karena ditempat jualan Sayur keliling juga merupakan tempat membuat bibit kakao. Disitu saya tergerak hati saya untuk ikut membuat bibit kakao secara otodidak,” ujar Sisilia kepada Sinar Tani.  

Berangkat dari upaya belajar menanam bibit kakao secara otodidak tersebut, Sisilia mendapatkan pembinaan petani kakao dari PT. Mars selama satu tahun.

”Setelah mendapatkan pengetahuan tentang implementasi budidaya bibit kakao, saya sebagai pendamping petani, mengajarkan pengetahuan yang saya dapatkan  ke petani-petani perempuan lainnya sehingga mereka juga dapat merasakan apa yang saya rasakan.  Positifnya mereka dapat berusaha dan menanam sehingga hasilnya kembali kepada petani  perempuan itu sendiri,” ujarnya. 

Sisilia menjeleaskan bahwa menanam kakao sangat mudah, sehingga dia tidak menemukan kesulitan untuk mengajari petani perempuan lainnya.

”Menanam bibit kakao sebenarnya bukan hanya pekerjaan untuk bapak-bapak saja, tapi ini juga dapat menjadi usaha yang  bagus untuk ibu-ibu.   Salah satu metode budidayanya adalah menggunakan metode sambung pucuk dimana ukuran tanaman masih pendek sehingga dapat dijangkau oleh petani perempuan,” jelas Sisilia.

Sisilia mengatakan bahwa sebelumnya  usaha budidaya bibit kakao  di lingkungannya masih memakai cara tradisional dan apa adanya, sehingga banyak alat produksi seperti pupuk, insektisida penggunaannya tidak tepat sasaran.

”Namun, setelah saya mendapingi mereka dengan bekal ilmu pertanian modern yang saya dapatkan dari PT MARS, petani kakao perempuan mampu menghasilkan panen yang jauh lebih baik dari sebelumnya dari segi kualitas maupun kuantitas,” katanya.

Sejak menekuni usaha budidaya bibit kakao pada tahun 2014 hingga saat ini, kini Sisilia mampu menghasilak  pendapatan rata-rata Rp 30 juta per bulannya. Dari  hasil tersebut, dia mampu mensejahterakan kehidupan keluarga terutama untuk masa depan anaknya.

”Anak saya ada satu, rencananya saya juga akan mengajari dia mengenai usaha budidaya bibit kakao ini sehingga menjadi usaha yang berkelanjutan  di keluarga,” ujar Sisilia

Sisilia juga melakukan penyuluhan di media sosial terutama untuk komunitas petani perempuan di Luwu Utara, Sulawesi Utara. Sisilia juga diminta untuk mendampingi petani di Bolang Mongondo.

Perempuan memiliki peran besar dibandingkan laki-laki dalam usaha tani, khususnya bidang pemasaran sehingga pengetahuan entrepreneurship terhadap perempuan penting digalakkan, khususnya pengelolaan panen, pengolahan hasil dan pemasaran.

“Kedepan penting bagi kami untuk lebih memberdayakan perempuan pada pemanfaatan sosial media sebagai wadah untuk melakukan pemasaran, karena perempuan memiliki kekuatan tersebut. Jika ini berjalan baik. Kami akan meningkatkan kapasitas mereka pada bidang-bidang lainnya,” terang Sisilia.

Ditambahkan Sisilia, selain terlibat dalam usaha tani, perempuan memiliki aktivitas lain di luar bidang pertanian. Aktivitas perempuan lebih banyak dan lebih menarik dibandingkan laki-laki, tantangan yang dihadapi perempuan juga lebih banyak.

“Namun beberapa bidang yang belum melibatkan peran perempuan harus ditingkatkan, misalnya seperti persiapan lahan hingga panen dan penggunaan teknologi. Pekerjaan ini untuk perempuan hanyalah pekerjaan tambahan karena selain mengurus anak, keluarga dan aktivitas sosial lain, di sela waktu kosongnya perempuan membantu usaha di bidang pertanian,”Ujarnya.

Kakao adalah tanaman penghasil uang utama dalam perekonomian pedesaan di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia, di mana 97.29 % produsen adalah petani kecil yang bergantung pada kakao sebagai sumber pendapatan utama mereka (BPS 2018)

Perempuan petani kecil terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan dalam produksi kakao, terutama dalam kegiatan panen dan paska panen. Selain itu, perempuan petani kakao dari berbagai latar belakang sosial juga terlibat aktif dalam pengaturan keuangan keluarga yang terkait erat dengan pengelolaan keuangan dalam proses produksi kakao.

Perempuan lebih cenderung menggunakan praktik wanatani (agroforestry) atau praktik kebun campur secara polikultur (poliyculture) dalam pengelolaan kebun kakao dibandingkan laki-laki, karena menurut para perempuan praktik-praktik tersebut dapat membantu rumah tangga mereka memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta kebutuhan pendapatan tambahan.

Praktik-praktik tersebut juga memiliki kontribusi positif baik bagi lingkungan hidup maupun bagi pengembangan produksi kakao berkelanjutan.

 

 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018