Senin, 22 April 2019


Nasi Jagung Instan, Peluang Moncer Dari Pangan Alternatif

25 Mar 2019, 10:37 WIBEditor : Gesha

Nasi Jagung dari Temanggung biasa memasok ke Jawa Barat dan daerah lainnya | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Temanggung --- Bahan pangan alternatif dari Indonesia memang melimpah, salah satunya jagung. Jika ditekuni, bisa menghasilkan nasi jagung instan yang peluangnya moncer.

"Produk beras jagung instan ini akan mempersingkat penyiapan nasi jagung dari waktu yang seharusnya 15-18 jam hanya menjadi setengah jam saja," tutur Pengelola industri beras jagung instan "Pandawa" asal Dusun Mantenan, Desa Greges, Kecamatan Tembarak, Kab. Temanggung, Sabar. 

Masyarakat yang bermukim di wilayah lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Gunung Prau ini terbiasa mengkonsumsi dan mengolah jagung menjadi dua varian beras jagung instan yaitu beras jagung lembut dan beras jagung kristal.

Beras jagung instan ini meskipun tanpa menggunakan bahan pengawet bisa bertahan hingga beberapa bulan, bahkan tahunan.

"Masyarakat sini lebih senang makan nasi jagung daripada nasi beras. Kandungan gizinya juga bagus dan kadar gulanya lebih rendah daripada nasi beras," katanya.

Ia mengatakan untuk memudahkan membuat nasi jagung dan bahan pangan ini dapat bertahan lama, maka masyarakat membuat sekelan (tepung jagung). Hal ini telah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka.

Pembuatan beras jagung instan kristal dimulai dengan agung digiling hanya sekadar memecah biji jagung, kemudian dibersihkan kulit arinya. Setelah itu jagung direndam selama 12 jam dan dilanjutkan pengukusan hingga matang.

Setelah dikukus, jagung dijemur hingga benar-benar kering dan setelah kering dilakukan penggilingan lagi menjadi berbentuk kristal menyerupai beras padi, kemudian dikemas dalam plastik dan siap dipasarkan.

Nasi jagung sekarang bukan hanya menjadi dominasi konsumsi warga yang tinggal di daerah pegunungan, terbukti hasil produk industri kecil di Dusun Mantenan Desa Greges Kecamatan Tembarak ini dipasarkan ke sejumlah kota.

"Hingga saat ini produk kami dikirim ke beberapa kota, antara lain Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan Depok (Jawa Barat)," kata Sabar.

Sekali kirim ke Depok mencapai satu ton beras jagung dalam kondisi produksi normal. Setiap hari dapat memasak atau mengukus jagung hingga empat dandang, dengan kapasitas per dandang 40 hingga 50 kilogram jagung, namun saat kekurangan bahan baku saat ini setiap hari hanya bisa mengukus jagung dua dandang.

Sabar menuturkan dengan memproduksi beras jagung instan maka dapat meningkatkan nilai tambah bagi jagung, selain itu juga menambah pendapatan bagi keluarga.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018