Senin, 26 Agustus 2019


Katuk Kering Jadi Bisnis Baru Menggiurkan

12 Apr 2019, 23:00 WIBEditor : Gesha

Edi Hadri (paling kiri) dan Nur Maslahah (paling kanan) beserta tim Balittro diskusi membahas olahan katuk | Sumber Foto:MUKHLIS

Satu kilogram katuk kering untuk campuran pakan ternak bisa dihargai Rp 40 ribu

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Selama ini kita mengenal tanaman katuk hanya untuk dikonsumsi sebagai sayuran untuk menambah cairan ASI bagi ibu yang baru melahirkan dan menyusui. Namun kini ada tren baru dari daun katuk yang diolah sebagai pakan ternak sapi perah, untuk menambah volume susu sapi.

Ketua Badan Usana Milik Desa (BUMDes) Jaya Aulia, Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Edi Hardi sekarang sedang getol mengembangkan tanaman katuk untuk memenuhi permintaan peternak sapi perah. 

Ditemui tabloidsinartani.com di desanya, Jum’at (12/04) Edi bercerita selama ini, bagi petani tanaman katuk tidak lebih dari tanaman sayuran yang langsung jual kepasar untuk memenuhi permintaan konsumen.

Padahal menurutnya, tanaman ini memiiliki manfaat dengan nilai jual yang lebih tinggi, dibandingkan dengan dijual segar. 

Saat ini BUMDes yang dipimpinya itu terus mengembangkan berbagai produk olahan katuk, diantaranya diolah menjadi katuk kering sebagai pencampur pakan untuk ternak sapi perah.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, saat ini telah ditanam sebanyak 87 ribu batang katuk dengan luas mencapai 5000 meter persegi. 

"Kalau dijual segar harga daun katuk itu berkisar antara Rp.3.000-3.500 per kg, sementara kalau dijual dalam bentuk kering bisa mencapai Rp, 40.000 per kg," tutur Edi.

Sedangkan untuk mendapatkan berat kering 1 kg diperlukan katuk segar sekitar 4 kg. “Harga kering sebesar itu, masih memberikan keuntungan yang cukup lumayan”, katanya. 

Saat ini permintaan yang cukup besar dari katuk kering ini berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur dan Solo.

Berdasarkan pengalaman peternak sapi perah, menurutnya pemberian tanaman katuk ini sebanyak 100 gram per hari bisa meningkatkan volume susu berkisar antara 35-40 persen. 

Kemampuan memenuhi permintaan pasar ini memang masih kecil, beberapa waktu lalu mereka baru bisa menjual sebanyak 500 kg.

Namun, Edi bertekad bahwa volume produksi ini akan terus meningkat, dengan semakin bertambahnya luas tanam katuk. 

Varietas Katuk

Dalam diskusi informal dengan Tim Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Kepala Seksi Jasa Penelitian, Dra. Nur Maslahah, M.S mengapresiasi kreativitas dari Edi untuk memanfaatkan daun katuk lebih lanjut.

Pada tahun 2005-2006 lalu, Nur Maslahah  bercerita bahwa Balittro pernah bekerjasama dengan Kimia Farma Bandung dalam mengolah katuk untuk keperluan farmasi.

Saat ini sudah ada empat varietas katuk yang berhasil dikembangkan yakni varietas Zanzibar, Kebo, Bastar dan Paris.

Jenis katuk yang banyak dijual di pasar adalah varietas Bastar dan Kebo.  Bahkan di Kebun Percobaan Manoko Lembang sudah ada pengujian penggunaan katuk untuk sapi perah. 

"Kalau untuk pakan ternak yang cocok adalah varietas Kebo. Sedangkan untuk dikonsumsi sebagai sayur dan sumber ASI untuk ibu menyusui adalah Varietas Bastar dan Paris, karena tekstur daunya lebih lembut," bebernya.

Nur Maslahah  kembali menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Pak Edi itu sudah benar. "Tinggal perlu penyempurnaan teknologi dan pemilihan varietas katuk yang tepat," tuturnya.

Sistem pengeringan yang dilakukan oleh BUMDes Jaya Aulia ini masih sangat sederhana, namun hasilnya sudah cukup bagus. Artinya, warna hijau dari daun yang dikeringkan itu masih tetap terjaga. 

Nur Maslahah menambahkan, cara yang lebih baik adalah teknologi simplisia yang telah dikembangkan oleh Balitrro.

Simplisia ini mampu menjaga bahan aktif yang bermanfaat yang terkandung di dalam katuk tersebut dan daunya tetap hijau. 

Reporter : MUKHLIS
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018