Sabtu, 24 Agustus 2019


Peternak Bisa Manfaatkan Limbah Ternak untuk Pupuk Organik

16 Jul 2019, 17:44 WIBEditor : Gesha

Pupuk dari kotoran ayam bisa digunakan menjadi pupuk organik | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Peluang bisnis sebenarnya bisa dilakukan peternak dengan memanfaatkan hasil samping dari peternakan, salah satunya dengan membuat pupuk organik.

Seperti yang dilakukan peternak ayam di Sukabumi yang berkecimpung juga di bisnis pupuk organik, Suranto Sumowiryo. Usaha bisnis pupuk organiknya memang sudah lama digeluti, yakni sekitar tahun 90-an seiring dengan bisnis peternakan ayam petelurnya.

“Alasan saya berbisnis pupuk organik karena bahan bakunya mudah didapat dan tanah di di Indonesia ini sudah sakit akibat penggunaan pupuk anorganik yang sudah diambang batas. Dengan menggunakan pupuk organik, lambat-laun tanah di Indonesia mulai pulih kembali,” jelasnya kepada tabloidsinartani.com.

Bahan baku pupuk organik miliknya (CV. Petro Inti Perkasa) berasal dari hasil pembuangan kotoran peternakan ayam dan sampah-sampah organik yang ada di lingkungan sekitar. “Sampah-sampah organik yang dimaksud itu bermacam-macam. Bisa dari batang padi, sampah-sampah organik dari pasar, batang jagung dan masih banyak lainnya. Asalkan dapat terurai oleh mikroba di dalam tanah itu yang dimkasud dengan sampah-sampah organik,” ungkap Suranto yang menjabat juga sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi.

Untuk bahan baku utamanya, yakni kotoran ayam sangat mencukupi sebagai bahan baku. Apalagi ayam termasuk hewan yang mampu menghasilkan kotorannya cukup banyak.

“Ayam (unggas) itu kan tidak punya lambung. Jadi ketika habis makan, jalan-jalan sebentar, biasanya langsung mengeluarkan kotorannya. Makanya ketersediaan kotoran ayam sebagai bahan baku pupuk organik mencukupi. Apalagi di kotoran ayam itu, mengandung protein 8-12 persen, sehingga sangat bagus untuk pupuk organik,” jelas Suranto.

Pupuk organik miliknya, pabriknya berada di Desa Sukalarang, Kecamatan Sukalarang, Kabupatem Sukabumi. Walaupun pupuknya masih banyak beredar di daerah Sukabumi, tetapi sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Pertanian.

Tidak hanya itu, komposisi yang ada di dalamnya sudah sesuai dengan Permentan No.1/2019. “Saya ingin menghasilkan pupuk organik yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan komposisinya yang ada di dalamnya. Makanya pupuk organik saya legal di pasaran. Walaupun sebagian besar penggunanya di Sukabumi, saya sudah bermitra juga dengan beberapa perusahaan besar yang berkecimpung di pertanian, terutama di perusahaan BUMN pertanian,” jelas Suranto.

Perbaiki Tanah

Seperti yang dijelaskan sebelumnya oleh Suranto bahwa tanah di Indonesia ini kebanyakan sudah sakit, memang benar. Hal ini terjadi karena sebagian besar petani masih enggan menggunakan pupuk organik karena hasilnya lama. Makanya penggunaan pupuk anorganik, menjadi yang utama di kalangan petani.

“Sebagian besar petani kita itu ingin mudahnya saja. Ingin hasilnya langsung terlihat tanpa memikirkan dampak ke depannya. Mikroorganisme yang fungsinya sebagai pembenah tanah menjadi hilang. Akhirnya tanah menjadi kurang subur. Jadi ya benar, saat ini tanah kita butuh pupuk organik,” ungkap Suranto yang berprofesi juga sebagai dokter hewan.

Memang untuk menggunakan pupuk organik 100 persen, sedikit sulit untuk diterpkan secara langsung. Jadi pemerintah (Kementerian Pertanian) mencanangkan pupuk berimbang, di mana melakukan budidaya tanaman apapun, harus menggunakan pupuk anorganik dan organik.

Suranto mengungkapkan, untuk dosis penggunaan pupuk organik memang lebih banyak dibandingkan anorganik. Tetapi jumlah bukanlah menjadi soal, karena yang penting saat ini adalah ekosistem.

Untuk yang baru pertama kali menggunakan pupuk organik (budidaya tanaman padi), dosisnya jauh lebih banyak, yakni 5-7 ton per hektar per musim. Baru setelah itu, di musim berikutnya, berukurang dosisnya menjadi 2-3 ton per hektar. Dosis tersebut adalah dosis yang ideal dalam penerapan pupuk berimbang di tanaman padi.

“Yang jelas ketika mengolah tanah, itu harus ditambahkan dengan pupuk organik agar si mikroba-mikroba si pembenah tanah ini mulai bekerja. Baru setelahnya ditanam, boleh menggunakan pupuk anorganik, tapi ingat harus sesuai dosis,” jelasnya.

Dengan pupuk organik ini, kedepannya Suranto sangat berharap para peneliti atau akademisi dapat turun serta dalam keilmuan yang berhubungan dengan kesuburan tanah, yakni menemukan atau mikroorganisme pembenah tanah yang mampu bertahan di segala musim karena itulah yang dinantikan oleh petani dan produsen pupuk organik saat ini.

“Mungkin sudah ada peneliti atau akademisi yang menemukan mikroorganisme, tapi tidak ter-publish dengan baik. Jadi ya kalau bisa di publish ke kami agar kedepannya kami mampu menghasilkan pupuk organik yang lebih baik,” harapnya. 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018