Sabtu, 24 Agustus 2019


Siapa Tertarik Budidaya Cabai Jawa?Intip Peluangnya Yuk !

17 Jul 2019, 17:14 WIBEditor : Gesha

Tanaman cabai jawa sangat prospektif, utamanya untuk memenuhi pasar ekspor | Sumber Foto:Echa

Kebutuhan kebutuhan dunia saat ini sekitar 6 juta ton dan Indonesia baru bisa memenuhi sepertiganya.Negara –negara pengimpor cabai jamu antara lain Singapura, Malaysia, Cina, Timur Tengah, Eropa dan Amerika.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Jika tidak teliti, tanaman ini hanya seperti tanaman hias biasanya. Tapi siapa sangka, budidaya cabai jawa ternyata punya peluang menarik jika bisa ditekuni.

"Tanaman cabai jawa ini manfaatnya Banyak bisa untuk jamu, penghangat badan, yang Biasa dipakai oleh Jamu pikul, bisa juga untuk campuran bandrek susu, pola tanam nya di-stek, ada yang pola semai dulu atau dengan polybag mudah sekali ditanam," beber Teknisi lapangan Kebun Percobaan Cimanggu Bogor, Ujang Sutarya kepada tabloidsinartani.com

Permintaan pasar sendiri terhadap cabai Jawa ini sangat tinggi. Bayangkan saja, harga per kilogram mencapai Rp 80 ribu dalam bentuk kering. “Cara memanennya pun cukup mudah, dicari yang sudah merah dan dikeringkan, tapi jangan terlalu kering karena sifatnya herbal," tuturnya.

KP Cimanggu sendiri mengkoleksinya sebagai plasma nutfah dan Petani di Tegal, Madura dan Lamongan sudah terbiasa berbudidaya cabai ini bahkan sudah mulai ekspor ke Eropa.

Peningkatan produktivitas cabai jamu sangat diperlukan, selain untuk memenuhi kebutuhan industri obat tradisional dan kebutuhan lainnya di dalam negeri juga untuk pasar luar negeri (ekspor). Adapun kebutuhan dunia saat ini sekitar 6 juta ton dan Indonesia baru bisa memenuhi sepertiganya.

Negara –negara pengimpor cabai jamu antara lain Singapura, Malaysia, Cina, Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, peluang pengembangan cabai jamu, baik melalui intensifikasi (meningkatkan produktivitas tanaman yang sudah ada) maupun penanaman baru, masih sangat terbuka lebar. Budidaya cabai jawa di Indonesia memiliki potensi produksi 2,5 ton/ha/tahun dengan kondisi lahan di Indonesia yang subur, ditambah lagi dengan iklim tumbuh yang cocok, karena cabe jawa asli tanaman Indonesia.

"Saya berharap kedepan akses pengusaha yang memperdalam perkembangan cabai jawa, sehingga makin banyak petani bergairah untuk menanam cabai Jawa ini dan makin banyak juga masyarakat lokal maupun mancanegara mengetahui khasiat dari cabai jawa ini,” harapnya.

Budidaya Mudah

Cabai jawa merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak terdapat di Jawa, Madura dan Sumatera Selatan. Tumbuh di tempat-tempat yang tanahnya tidak lembap dan berpasir seperti di dekat pantai, daerah datar sampai 600 meter di atas permukaan laut (dpl).

Cabai jawa memiliki beberapa nama daerah, yaitu: di Sumatera disebut lada panjang, cabai jawa, cabai panjang. Di jawa, namanya cabean, cabe alas, cabe areuy, cabe jawa, cabe sula. Di Madura dinamai cabhi jhamo, cabhi ongghu, cabhi solah, sedangkan di Makassar dikenal dengan nama cabai.

Pada umumnya tanaman bibit Jawa ini di kembang biakkan dengan 2 cara, yaitu secara generatif (menggunakan biji) dan dengan cara vegetatif (menggunakan tunas batang seperti setek).

Bibit cabai Jawa yang di budi dayakan secara vegetatif dapat di ambil dari 2 utas ruas batang produktif tanaman cabai Jawa yang sudah memiliki akar sekitar 1 – 2 tunas akar yang menempel pada substrat pada tumbuhan inang seperti batang pohon dan tiang.

Jangan sampai kedua ruas batang tersebut masih berusia muda muda atau sudah tua. Kemudian siram batang setek tersebut menggunakan air bersih hingga benar – benar terlihat segar. Jika sudah, simpan pada tempat yang sejuk dan aman selama satu malam, baru kemudian esok harinya setek batang tersebut di tanam di pot, seperti polybag.

Lakukan penyulaman dengan bibit setek batang cabai Jawa yang bagus setelah beberapa hari tanam pada tanaman yang sekiranya tidak tumbuh secara normal atau terhambat dan cacat misalnya. Buah baru bisa di panen ketika sudah matang berwarna merah muda atau merah tua yang biasanya berumur 8 -11 bulan dengan cara di petik manual.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018