Minggu, 18 Agustus 2019


Serbuk Tongkol Jagung Diminati Negeri K-Pop

06 Agu 2019, 14:37 WIBEditor : Yulianto

Serbuk jagung laku di pasar Korsel | Sumber Foto:Kontributor

Di negara tujuan, serbuk tongkol jagung digunakan sebagai salah satu bahan untuk media tanam pada budidaya jamur merang, bahkan dapat untuk bahan baku pakan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Serbuk tongkol jagung (corn cobs meal) ternyata bisa bernilai jual tinggi. Bahkan produk tersebut diminati di pasar negara yang dikenal dengan K-Pop yakni Korea Selatan. Peluang baru bagi pelaku usaha.

Ekspor serbuk tongkol jagung ini dilakukan Koperasi Dinamika Agribisnis di Kecamatan Priggabaya Kabupaten Lombok Timur, NTB. Koperasi ini bermitra dengan perusahaan penanganan pascapanen jagung, PT Dhanya Perbawa Pradhikasa.

Pengiriman perdana serbuk tongkol jagung yang dipadatkan ke Korea Selatan pada Maret 2019 sebanyak 300 ton atau 75 persen dari total permintaan Korea sebesar 400 ton. Harga jual ekspornya sekitar Rp 1,9 juta per ton atau total setara Rp 570 juta,” kata Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi di Jakarta, Senin (5/8).

Suwandi menjelaskan, di negara tujuan, serbuk tongkol jagung digunakan sebagai salah satu bahan untuk media tanam pada budidaya jamur merang, bahkan dapat untuk bahan baku pakan. “Serbuk tongkol jagung adalah produk sampingan dari pemipilan jagung,” katanya.

Menurut Suwandi, persyaratan yang diminta negara tujuan ekspor antara lain kadar air maksimal 15 persen ukuran 1 hingga 8 mm, packing 30 kg/bag (tergantung buyer, red) serta jumbo  bag per pallet.  Persyaratan lain yang sangat penting adalah serbuk tongkol jagung harus mampu menyerap air dengan baik.

 

Pengelolaan Serbuk Tongkol Jagung

Suwandi menyebutkan, untuk menghasilkan serbuk tongkol jagung dalam skala ekonomi dengan kualitas ekspor, serta kontinuitas produksi yang berkelanjutan, diperlukan penanganan pasca panen jagung yang tersentralisasi dengan pendekatan agroindustri.

Petani dilibatkan pelaku usaha penanganan pascpanen jagung rendah aflatoksin skala industri melalui kemitraan seperti dicontohkan Koperasi DNA di Lombok Timur. Petani mitra diwajibkan mengikuti prosedur budidaya yang disepakati bersama.

Penerapan prosedur budidaya ini diperlukan untuk menjamin konsistensi mutu JRA dan Concobs Meal,” katanya.  Petani lanjut Suwandi juga diuntungkan, karena selain mendapat kepastian pasar jagung yang dihasilkan juga mendapatkan pendampingan dari industri yang bersangkutan.

“Jadi saya semakin yakin sebagai negara yang sudah berhasil swasembada jagung, Indonesia memiliki potensi untuk memproduksi jagung rendah Aflatoksin sebagai substitusi impor jagung untuk kebutuhan khusus, sekaligus menghasilkan Corncobs Meal yang dapat diekspor,” tutur Suwandi.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018