Minggu, 20 Oktober 2019


Industri Rumahan Gula Semut Arenta, Hasilkan Rp 35juta/bulan !

19 Agu 2019, 19:37 WIBEditor : Gesha

Omzet sebesae gajah ternyata bisa dihasilkan oleh industri rumahan berupa gula semut | Sumber Foto:NATA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang---- Usaha olahan gula semut Arenta yang didirkan pada tahun 2015 lalu, hingga kini sudah menuai untung. Gula semut Arenta yang bahan bakunya 100%  dari nira (pohon aren) ini tak hanya diminati pasar lokal, tapi sudah merambah hingga manca negara. Bahkan, omzet penjualan usaha rumahan yang dikembangkan Sarnata di kawasan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten  ini sudah mencapai 35 juta/bulan.

Sarnata, pemilik gula semut Arenta mengaku, gula semut Arenta selain dipasarkan melalui online  juga banyak ditemukan di sentra-sentra pangan lokal dan toko oleh-oleh di Kabupaten Pandeglang, Serang dan Cilegon. Kendati termasuk olahan sehat, gula semut Arenta dipatok dengan harga yang relatif murah.  

“Gula semut kemasan ¼ kg  hanya dijual dengan harga Rp 15 ribu. Sedangkan  untuk kemasan 1 kg dijual dengan harga Rp 27 ribu/kg,” kata Sarnata, di Jakarta, Senin (19/8).

Sarnata yang baru saja lulus dari Fakultas Pertanian, Jurusan Agribisnis, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa juga mengatakan, usaha gula semut Arenta yang dikembangkan di kawasan Pandeglang tak sekadar menjadi bisnis semata. Namun, usaha gula semut Arenta juga menjadi nilai tambah bagi petani aren di Pandeglang.

“Semua bahan bakunya atau nira-nya dari sejumlah petani aren. Sehingga, petani aren di sini sudah punya pasar yang pasti,” ujar Nata, begitu panggilan akrab Sarnata.

Menurut Nata , bahan baku gula semut yang diproduk Arenta didatangkan langsung dari tiga kelompok petani aren binaan di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Bahan baku berupa nira (yang masih cair/basah) dibeli dengan harga  Rp 16 ribu-Rp 17 ribu/kg. 

“Bahan baku tersebut selanjutnya kami proses dengan dipanaskan di dalam wajan hingga membentuk kristal. Setelah itu, kami kemas mulai dari ukuran ¼ kg -1 kg,” kata Nata.

Agar usaha gula semut Arenta bisa berkelanjutan, Nata  juga giat melakukan pembinaan terhadap kelompok petani aren di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.  “Ada tiga kelompok petani aren yang sudah menghasilkan gula aren yang kami bina, yakni  Kelompok Tani Mekar Sari, Berkarya dan Harapan Mulya. Selain itu, kami juga membina dan bekerjasama dengan  beberapa kelompok petani aren lainnya yang baru mulai mengembangkan usaha olahan gula aren,” kata Nata.

Menurut Nata, kawasan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten banyak tumbuh pohon aren dengan suburnya. Bahkan, hampir di setiap kecamatan di Pandeglang banyak ditemukan pohon  aren atau enau. “Umumnya petani aren menyadap bagian manggarnya atau tandan bunga jantan. Air yang keluar ditampung dalam tambung bambu, air yang rasanya manis atau nira inilah bahan baku utama gula semut Arenta,” papar Nata.

Selain disadap untuk diambil niranya, sejumlah petani aren memanfaatkan buah pohon palma ini untuk  kolang-kaling. Pohon aren tersebut kaya akan manfaat. “Sehingga, kami perlu melakukan pembinaan kepada petani aren untuk memanfaatkan pohon aren dengan baik. Karena kebutuhan pasarnya cukup  luas, kami sampai saat ini terus mencari dan mengembangkan kelompok tani aren di sejumlah tempat,” papar Nata.

Meski punya pasar luas, lanjut Nata,  industri gula semuat Arenta masih berskala UKM. Karena itu, untuk meningkatkan kualitas dan kapasitan produksinya, pihaknya beberapa tahun lalu mendapat binaan dari Ditjen Perkebunan Kementan, melalui Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Banten.

“Selain dibina, kami juga mendapat bantuan prasarana dan sarana paska panen.  Tepatnya, pada tahun 2017 lalu kami mendapat bantuan mesin oven,  mesin panggang, mesin kristalisasi dan  mesin penepung dari Ditjen Perkebunan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang ,” kata Nata.

Diminati Pasar Mancanegara

Gula semut yang diproduk sejumlah kelompok petani aren dikenal sebagai produk makanan sehat. Proses pengolahan gula semut atau gula aren yang tak menggunakan bahan kimia, sehingga olahan ini bisa dibilang sebagai olahan organik dengan indeks glikemik rendah. 

“Karena indeks glikemiknya rendah, gula semut dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes dan kolesterol. Nah, ikon sebagai pangan sehat inilah membuat sejumlah negara seperti AS, Belanda dan Kanada meminati produk yang kami buat,” kata Nata.

Menurut Nata, gula semut dengan merek dagang Arenta pada tahun 2018 lalu melalui salah satu perusahaan eksportir di Jawa Tengah (Jateng) sudah merambah sampai ke Belanda, AS dan Kanada. “Karena kami belum punya sertifikat organik, maka kami bekerjasama dengan salah satu perusahaan eksportir. Kami memasok gula semut ke perusahaan tersebut pada tahun lalu rata-rata 1,5 ton-2 ton/bulan,” paparnya.

Tak hanya pasar lokal, peluang pasar ekspor produk gula semut masih terbuka luas. Untuk permintaan pasar lokal saja  rata-rata 3-5 ton/bulan. “Kalau untuk ekspor minimal 40 ton/bulan. Karena kapasitas produksi industri yang kami miliki hanya 8 ton/bulan, maka kami belum mampu ekspor sendiri. Jadi, harus kerjasama dengan industri gula semut lainnya,” papar Nata.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018