Thursday, 01 October 2020


Jamal: Angkat Derajat Daerahnya Menjadi Wisata Edukasi

10 Jan 2020, 16:39 WIBEditor : Clara

Jamal Si Petani Muda Asal Gowa yang Mengangkat Daerahnya Menjadi Wisata Edukasi | Sumber Foto:Jamal

Kurang lebih setiap harinya ada puluhan ton sayuran yang di panen di daerah ini yang kemudian dipasarakan ke Makassar dan Pulau Kalimantan

TABLOIDSINARTANI.COM, Gowa-Melahirkan semangat bertani dan menggarap potensi desa yang ada di dataran tinggi Kabupaten Gowa membutuhkan ide dan terobosan baru. Seperti halnya, petani muda asal Sulawesi Selatan, tepatnya Kabupaten Gowa, Jamal mencoba membawa daerahnya menjadi kampung sayur.  

Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, merupakan daerah dataran tinggi yang menghasilkan berbagai macam sayur-sayuran. “Kurang lebih setiap harinya ada puluhan ton sayuran yang di panen di daerah ini yang kemudian dipasarakan ke Makassar dan Pulau Kalimantan,” ungkap Jamal.

Untuk ke Makassar saja ada 20 ton setiap hari yang dikirim dari Tombolo. Jenis sayurannya berupa kol, sawi, tomat, wortel, daun bawang, kentang, seledri, dan labu siam. “Data ini dapat dilihat dari jumlah mobil yang membawa sayuran ke Kota Makassar,” terang Jamal.

Walaupun sebagai penghasil sayuran-sayuran, sayangnya orang-orang belum tahu bahwa penyuplai terbesarnya berasal dari Tombolo. “Makanya saya ingin mengangkat daerah saya, tepatnya Desa Kanreapia sebagai Kampung Sayur dan menjadikannya sebagai Agrowisata yang berada di daerah Gowa,” kata Jamal.

Dengan adanya Kampung Sayur di Desa Kanreapia, masyarakat sekitar mendapatkan penghasilan tambahan. Selain itu, banyak orang berbondong-bondong datang berkunjung belajar menjadi petani atau sebatas melepas penat. “Saat ini kampung sayur terus di datangi dan menjadi sasaran studi banding, karena kami mencoba menawarkan konsep wisata edukasi,” ungkap Jamal.

Jamal menceritakan, Kampung Sayur ini lahirnya dari program komunitas pertanian yang ada di Desa Kanreapia, yakni Rumah Koran.  Dari sinilah berkembang menjadi Kampung Sayur. “Jadi konsep Rumah Koran ini adalah satu rumah dipenuhi dengan korang, sehingga masyarakat yang ada di sini, mudah mendapatkan infromasi dan melahirkan budaya literasi (suka membaca) di kalangan petani,” jelasnya.

Metode pembelajaran yang diajarkan di Kampung Sayur ini tidak hanya sebatas di ruangan saja, melainkan berinterkasi di alam bebas atau yang biasa disebut dengan sekolah alam. Jamal menceritakan tempat untuk belajar dapat di sungai, gunung, atau ladang pertanaman, tergantung inginnya di mana. Tidak hanya itu, mereka pun diajak untuk panen sendiri. “Karena ini pengalaman yang langka dan mengasikan bagi mereka, tidak lupa diabadikan dalam bentuk foto atau video lalu memamerkan ke media sosial, sehingga banyak orang yang tertarik untuk datang ke sini,” paparnya.

Dengan adanya Kampung Sayur, tentu mengangkat identitas petani sekitarnya. “Selama ini generasi muda memang kurang tertarik dengan pertanian, tetapi dengan adanya kegiatan ini, mereka jadi lebih dihargai dan menumbuhkan generasi muda Indonesia untuk terjun ke dunia pertanian.”

Makanya tidak heran, kegiatan Kampung Sayur dan Rumah Koran ini mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Award pada tahun 2017 dan HKTI Innovation Awards tahun 2018. “Untuk saat ini, daerah kami (Kampung Sayur) oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dijadikan sebagai salahsatu usaha sosial yang ada di Sulawesi,” pungkas Jamal.

Reporter : kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018