Thursday, 24 September 2020


Jelajah Alam di Taman Wisata Alam Pangandaran

21 Jan 2020, 17:12 WIBEditor : Clara

Salah satu spot di Gua Panggung | Sumber Foto:Agustin

Bukan hanya flora dan fauna saja yang ditemukan, melainkan terdapat gua-gua alam/buatan dan peninggalan pada masa lalu

TABLOIDSINARTANI.COM, Pangandaran---Berkunjung ke kawasan wisata Pantai Pangandaran bukan hanya pantai saja yang dapat dijelajah. Di bagian ujung semenanjungnya, terdapat kawasan konservasi yang cukup luas, yakni tempat habitat flora dan fauna khas Indonesia.

Memang kawasan ini terbagi menjadi dua, yakni taman wisata alam yang boleh dimasuki oleh pengunjung dan cagar alam yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu karena kawasan konservasi.

Berdasarkan keterangan dari pemandu wisata cagar alam Pangandaran, Nanang S., di taman wisata alam ini isinya bukan hanya sebatas flora dan fauna saja, melainkan terdapat gua alam/buatan serta peninggalan arkeologi. “Di  memang yang paling banyak ditemui adalah monyet dan kijang. Tetapi kalau kita jelajah seluas 37,7 hektar ini, kita akan menemukan gua alam/buatan, bunker peninggalan Jepang dan Situs Batu Kalde,” ungkapnya.

Untuk memasuki cagar alam, setiap orang harus membayar Rp 20 ribu. Ketika sudah membayar, kita harus menaiki beberapa anak tangga. Perhatikan di kanan-kirinya, pasti sudah banyak dijumpai monyet-monyet yang bergelantungan di pohon. “Di sini monyet dan sejenisnya memang paling banyak ditemui. Untuk yang monyet ekor panjang (populasi paling banyak) memang sedikit agresif. Kalau kita ditodong olehnya jangan panik, cukup angkat tangan dan buka telapak tangan kita. Ini menandakan kita tidak membawa apa-apa,” saran Nanang.

Ada beberapa fauna yang terdapat di cagar alam ini, yakni: kera ekor panjang, lutung, kijang, kalong, Burung Kangkareng, Landak Jawa, tando, banteng, ayam hutan, merak dan masih banyak lainnya. Sedangkan floranya didominasi oleh tanaman hutan. Untuk di Taman Wisata Alam, fauna yang paling banyak ditemui adalah kera, lutung dan kijang. Sedangkan untuk yang di cagar alam, dapat ditemui banteng.  

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bukan hanya flora dan fauna saja yang ditemukan, melainkan terdapat gua-gua alam/buatan dan peninggalan pada masa lalu. Contoh peninggalan yang tidak jauh dari tempat pintu masuk adalah Situs Batu Kalde. Di situs ini terdapat temuan berupa peninggalan pada masa Hindu, yakni: yoni yang merupakan lambang kesucian bagi umat Hindu, arca nandi (sapi), arca/ukiran berbentuk teratai atau disebut dengan padmasana, dan beberapa onggokan batu seperti bekas struktural sebuah bangunan. “Di sini juga terdapat makom, yakni yang dipercaya sebagai tempat petilasan para bangsawan dari Kerajaan Pananjung,” ungkap Nanang.

Untuk gua, terdapat tiga gua alam, yakni Gua Lanang, Gua Panggung dan Gua Larat. Untuk gua buatan, yakni Gua Jepang yang dulunya (masa penjajahan Jepang) digunakan sebagai tempat mengintai pasukan Jepang.

Ketiga gua ala mini memiliki ceritanya masing-masing. Seperti Gua Panggung, yang posisinya paling dekat dengan pantai timur Pangandaran, yang dipercaya bahwa gua ini merupakan tempat Embah Jaga Lautan, yakni anak angkat Nyi Roro Kidul. Makanya di atas gua, yang bentuknya seperti panggung, dipercaya sebagai makom (tempat petilasan) Embah Jaga Lautan.

Walaupun banyak terdapat mitos, taman wisata alam ini harus masuk list ketika berkunjung ke Pantai Pangandaran. Selain melepas penat, dengan berkunjung ke sini, kita dapat lebih mencintai alam. Sehingga tertanam di dalam diri bahwa alam yang ada di dunia ini harus terjaga demi keberlanjutan anak-cucu kita kelak.

Reporter : Agustin
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018