Saturday, 19 September 2020


Pertanian Empat Musim di Pakistan

04 Aug 2020, 11:40 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani Pakistan | Sumber Foto:Memed G

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Sambil duduk melingkar lima orang dewasa itu merobek Chappati, roti pipih yang dibakar, dengan jari tangan kanan lalu membenamkannya ke mangkuk besar berisi bubur kacang kental beraroma rempah kuat kemudian menyuapkan ke mulutnya.  Dalam acara khusus, biasanya disajikan Lamb atau Chicken Karahi yang kental dan enak. Makan siang diakhiri dengan minum Chai dan makan satu-dua potong gulas yang manis.

Orang Pakistan banyak minum susu. Setiap minum teh atau kopi pasti dicampur dengan susu. Setiap makan pasti ada yoghurt. Mereka banyak minum lemak susu yang disebut ghee dan makanannya banyak menggunakan minyak. Tapi mereka kerja keras sampai lemaknya terbakar habis tidak tersisa dalam tubuhnya. Itulah makan siang keluarga petani di rumahnya di pinggiran kota Islamabad, Pakistan. Hidangan itu dikerubuti bersama, sambil tak henti bicara bahasa Urdu.  

Rumah sederhana berlantai tanah itu tidak jauh dari kota Islamabad yang moderen dan indah, yang dibangun atas rancangan perusahaan Mesir, Doxiadis Associates pada tahun 1960. Rancangan kota yang berupa kotak-kotak yang tertata, menghadap ke Margala Hill di bagian utara. Di sana ada Damn-e-Koh yang indah, dengan pemandangan ke lembah kota Islamabad. Tak jauh dari sana keluarga petani sederhana ini tinggal menapaki kehidupan yang tidak mudah.

Pakistan mempunyai iklim empat musim dengan fall dan spring yang pendek. Selebihnya adalah summer panjang yang panas dan winter panjang yang dingin. Ini mendidik manusia bekerja keras menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Daun berubah warna lalu gugur, tupai  mempersiapkan makanan, burung mengumpulkan biji-bijian, dan manusia mempersiapkan perbekalan. Semuanya belajar menabung dan menyimpan untuk masa depan. Mereka lebih banyak belajar, berpikir dan merencanakan. Tak urung, di kalangan masyarakat miskin korban meninggal karena kedinginan dan kepanasan juga selalu jadi berita setiap tahunnya.

Pada musim semi, pohon yang berderet sepanjang jalan riang berbunga beraneka warna dan menebarkan wangi ke seluruh penjuru kota. Ditambah lagi dengan budaya masyarakat yang suka bunga, maka bunga rose, krisant, tulip dan bakung yang ditanam pada pertengahan winter berbunga melimpah sepanjang trotoar dan gedung perkantoran. Begitu indah, bertaburan menghiasi kota pada musim semi. Burung-burung sangat banyak dan beterbangan di mana-mana karena ada larangan menangkap apalagi membunuh burung jenis apa pun yang sangat dipatuhi oleh penduduknya. 

Di balik kehidupan sosial dan politik yang penuh warna, negara ini dikarunia berbagai kelebihan. Banyak memiliki tempat yang indah dan sisa-sisa peradaban tinggi dan bersejarah. Beberapa kawasan negeri ini dikaruniai iklim yang sangat cocok untuk pertanian. Buah-buahan, sayuran, gandum, padi, tebu dan kapas tumbuh subur. Ternaknya bagus, kualitas dagingnya bagus, bahkan produksi susu tercatat nomor lima tertinggi di dunia.  

Saat ini sektor pertanian menyumbang 26 persen terhadap GDP dengan produk andalannya kapas, gandum, beras, gula, buah-buahan dan sayuran; dan menyerap sekitar separuh tenaga kerja. Di masa ekonomi mengalami kontraksi, pertanian meningkat 2.67% tahun fiskal 2019-20. Pakistan adalah salah satu dari 10 produsen terbesar di dunia untuk gandum, gula, mangga, kurma, dan kinnow. Pakistan juga dalam urutan nomor 10 sebagai produsen beras terbesar di dunia.  Komoditas gandum, beras, dan gula menyumbang 4.9 persen terhadap GDP. Peternakan menyumbang 11 persent, dan merupakan 60.5 persen dari GDP pertanian, serta menyerap tenaga kerja sebesar  35 juta orang.  

Dari sekitar 34.5 juta hektare lahan yang cocok untuk ditanami (hampir separoh dari luas daratan yang tercatat sebesar 77 juta hektare), sekitar 23.4 juta hektar sudah diusahakan. Sekitar 85 persen pertanian beririgasi, termasuk penggunaan irigasi pompa, yang semakin terlihat dampak negatifnya terhadap tata air dalam tanah berupa  peningkatan salinitas. Pemilikan lahan pertanian di Pakistan sangat timpang.   

Kinnow, jeruk yang warnanya cantik, kuning kemerahan, sangat menarik dan rasanya manis asam yang terkenal itu diekspor ke banyak negara termasuk Indonesia. Strawberi yang gemuk, berwarna merah cerah memenuhi pasar, digerai sepanjang jalan pada saat musim panen.  

Sebagian tanahnya berupa gurun tandus, tapi di daerah pertanian, iklimnya menunjang. Ada perbedaan suhu yang tajam pada siang dan malam hari, yang membuat buah-buahan di kawasan ini manis dan bagus. Kualitas benihnya juga bagus. Hama tidak sebanyak seperti di daerah tropis. Selain itu, mungkin karena populasi burung dan binatang lain yang menjadi predator hama cukup tinggi, sehingga populasi hama terkontrol pada tingkat yang tidak merusak.  Orang Pakistan termasuk bukan pemakan yang aneh-aneh seperti burung apalagi kodok dan ular. Daging pun harus dimasak matang dengan bumbu bermacam-macam sampai tidak terasa dagingnya. 

Permasalahan yang dihadapi di sektor pertanian tak berbeda dengan di negara-negara sedang berkembang pada umumnya. Pendidikan  petani rendah, masih banyak yang buta huruf, kemampuan permodalan rendah, miskin, kualitas lahan yang terus menurun karena meningkatnya salinitas, kekurangan air, terkikisnya lapisan subur, kekurangan infrastruktur, pemasaran yang buruk, dan praktek yang terkait sewa menyewa lahan.

 

 

 

 

 

Sumber : Berdasarkan pengalaman penulis
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018