Tuesday, 03 August 2021


Uniknya Warung Kopi Cikgu di Puncak Seulawah

19 Jul 2021, 15:35 WIBEditor : Gesha

Warung Kopi Cikgu | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Gunung Seulawah Agam yang terletak di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, Aceh, ini memiliki keindahan alami. Sambil menikmati pemandangan alam ini, tentunya paling asyik dengan ngopi.  

Ketika kita sering ke Banda Aceh, saat mencapai puncak Seulawah hampir di sepanjang jalan terpampang motto warung Cikgu. Kalau Anda lelah istirahatlah, lapar makanlah, haus minumlah dan jika galau, shalatlah. 

"Slogan itu memang dipajang setiap pengkolan. Dari beberapa kalimat tersebut terangkai substansi Cikgu Kopilah Solusinya," ujar Bustami selaku pemilik Cikgu Kopi kepada Sinar Tani.

Jika minum kopi dan makan minum di kota katanya, sudah biasa. Namun di warung Cikgu Seulawah memiliki sensasi tersendiri. Karena selain dapat menikmati berbagai menu makanan dan minuman, udaranya juga sejuk, serta dikelilingi panorama alam pegunungan Seulawah yang menakjubkan.

Warung yang dibangun tiga tahun lalu oleh Bustami seorang guru ini, penuh pesan pesan religius. Pengamatan Sinar Tani sejak dibuka, warung Cikgu menjadi tempat edukasi dan persinggahan strategis serta selalu ramai pengunjung. 

Bustami pria energik yang low profil kelahiran Laweung Pidie 1 Oktober 1981 ini, menyelesaikan S1 di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh (2005). Selanjutnya akhir tahun 2005, ia bersama 105 peserta lainnya dari Aceh mendapat beasiswa kerajaan Malaysia untuk belajar di negeri jajahan Inggris. Beasiswa tersebut lanjut Bustami, sebagai bentuk perhatian dan bantuan kerajaan Malaysia untuk pemulihan pasca Tsunami Aceh 2004. Di Malaysia Bustami dan peserta lainnya belajar dan mengajar pada beberapa sekolah di Semenanjung Malaysia.

Kemudian Desember 2006, Bustami dan seluruh temannya di kembalikan ke Aceh, dan ditempatkan lima orang per kabupaten. Sekarang Bustami bertugas di SMP Negeri 2 Delima, Kabupaten Pidie. Sewaktu di Malaysia pada saat mengajar Bustami di Panggil Cikgu oleh anak didiknya. "Untuk mengingat panggilan tersebut saya abadikan di Aceh sebagai nama Warung Cikgu Kopi," kenangnya haru.  

Tahun 2016 lalu ayah 5 anak ini juga telah menyelesaikan program Magister S2 IPA - Fisika di USK Banda Aceh. "Alhamdulillah saya dapat mengatur waktu tanpa mengabaikan tugas mengajar dan berdagang," ucapnya bersyukur.  

"Selain menyediakan kopi arabika dengan racikan rasa, di warung Cikgu kopi juga menyediakan berbagai menu masakan dan aneka jus buah lengkap mulai mangga sampai buah naga, ujarnya promosi. 

Sensasi lain ada mie daging rusa/merpati Rp 35.000, mie burung puyuh/udang/cumi Rp 25.000, mie daging Rp 30.000 mie biasa Rp 10.000 dan mie telor Rp 12.000."Harga kopi arabika, menu makanan dan minuman serta aneka jus relatif murah dan bersahabat" bebernya.

Dalam sehari warungnya menghabiskan beras 30 kg, ikan 20, daging 10, udang 5 dan cumi 5 kg. Sementara mie 20 kg per hari. "Kalau buah-buahan saat ramai mangga 10 kg, Alpukat 5 kg, pisang 1/2 tandan, jeruk 10 kg dan delima 3 kg, wortel 5 kg dan melon dan buah naga 2 kg per hari, " jelasnya. 

Kalau hari libur pengunjung ramai dan omset meningkat mencapai Rp 20 juta. Namun kalau hari biasa sekitar Rp 8 - 10 juta. "Namun saat Covid ada penurunan omset 20 persen walau tidak signifikan," lirihnya.

Bayar Sejujurnya

Bustami alias Cikgu menjelaskan, konsumen bebas mengambil makanan dan lauk sendiri, bayarnya pun berdasarkan kejujuran. "Ketika memasuki waktu sholat, petugas akan mengumandangkan azan dan semua karyawan wajib melaksanakan sholat berjamaah di Mushalla yang diikuti juga pengunjung warung," tandasnya.

Dalam operasionalnya kata dia lagi, manajemen mengajak karyawan bekerja tulus ikhlas sesuai tugas dan fungsinya. Kalau ada yang malas risikonya tanggung sendiri dan kalau rajin dan ramah, maka pengunjung akan ramai dan omset pun meningkat.

Pihaknya melibatkan 30 tenaga kerja milenial. Mereka bekerja berdasarkan waktu piket (pagi, siang dan malamnya). Semuanya bekerja dengan hati nurani, karena hasilnya semua untuk dibagi bersama sesuai persentase yang disepakati. Bagi karyawan yang meninggalkan shalat, tidak diizinkan lagi untuk bekerja di warung Cikgu. Selain itu, seluruh karyawan wajib mengikuti pengajian setiap Rabu ba'da Shubuh.

"Sebelumnya saya sudah terlebih dahulu membuka Horas Kopi bekerjasama dengan BLPP Saree selama lima tahun," pungkasnya.

Menurut Alwi (21) yang bekerja sebagai kasir, dirinya sangat senang dapat bekerja di warung Cikgu. "Saya sudah bekerja selama dua tahun disini Pak," jawabnya kepada Sinar Tani.

Alasan bekerja karena setelah tamat SMP di Laweung, Pidie tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Anak kedua dari tiga bersaudara ini, masih memiliki kedua orangtua, tapi saat ini sudah berpisah.

Kami dibayar gaji berdasarkan persen dari keuntungan per tahun. Selama ini sudah saya terima sebesar Rp 21 - 22 juta. Setiap bulan dia dan pekerja lainnya juga menerima Rp 500.000, sedangkan makan minum serta tempat tinggal disediakan gratis.

Alwi menghimbau bagi remaja seusianya agar belajar mandiri, tidak manja apalagi tergantung sama orang tua. "Berusahalah dengan sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan," imbuhnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018