Thursday, 23 September 2021


Wisata Tani Desa Melati II Perbaungan, Menunggu Uluran Tangan Pemerintah  

30 Jul 2021, 19:30 WIBEditor : Yulianto

Wisata Tani Desa Melati II menunggu uluran tangan pemerintah | Sumber Foto:RE Gultom

TABLOIDSINARTANI.COM, Serdang Bedagai---Desa Melati II di Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai merupakan desa yang mempunyai potensi sumber daya alam cukup besar. Terlihat dari pemandangan lahan pertanian yang terhampar  luas 980 ha dari berbagai sudut dipandang. Saat musim tanam menghijau dan di musim panen menguning.

“Setiap tahun petani disini menanam dengan pola IP 300. Artinya bertanam padi, padi dan palawija. Bahkan tahun 2022 mendatang direncanakan bisa IP 400. Apalagi didukung dengan adanya irigasi Sei Ular yang mampu mengairi sawah,” kata Kepala Desa  Melati II, Supardi didampingi PPL Bungaria Sihaloho, serta Ketua Gapoktan, Legino di Kantor Desa Melati,  Senin (26/7).

Supardi mengatakan, potensi desa yang luasnya 1.180 ha, selain potensi lahan pertanian padi yang cukup luas, juga pengrajin gula nira dawit dengan 50 pengrajin yang menghasilkan gula merah sawit 75 ton/hari.

Ada juga pengrajin opak ubi alen-alen dan mie rajang sebanyak 20 orang, peternak ulat jerman 10 orang, pengumpul lipàn yang di ekspor ke Cina dan Thailand. Selain itu, masyarakat  pengumpul buah tanaman pace, pengrajjn lidi sawit yang di ekspor ke Pakistan.

Selain potensi tersebut masih ada sumber pendapatan dari sektor peternakan yaitu ternak sapi. Masyarakat mengolah kotorannya menjadi pupuk kandang/pupuk organik dan dipasarkan ke petani Berastagi. Ada juga warga yang beternak kambing ettawa yang susunya dapat diminum langsung serta olahannya sabun susu.

Kemudian daya dukung lainnya yang menjadikan tujuan destinasi wisata tani adalah kebun binatang Rahmasyah zoo dibatas desa. Potensi lainnya ada kolam balai benih perikanan yang memanfaatkan sumber airnya dari tali air Sei Ular. Disamping tali air tempat wahana bermain anak-anak, ada juga tempat bersantai di Dam Panteng Kleset.

Lebih menarik juga ada miniatur rumah budaya di Indonesia yang disebut plungguhan. Dengan tata letak rumah dengan sawah langsung tertata rapi, sehingga dijadikan home stay untuk pengunjung yang ingin menginap, serta belajar kehidupan desa yang menyatu dengan alam.

Cukup dengan mengeluarkan biaya Rp 250 000/malam plus mencuci pakaian, wiasatawan bisa menikmati wisata tani yang asri dan sehat. “Kami berharap kiranya Dinas Pariwisata Provinsi dapat memberikan edukasi bagaimana wisata tani ini menjadi ikon. Wisata Tani ini merupakan bagian usaha BUMDES yang jauh dari sempurna sehingga perlu masukan,” kata Supardi .

Reporter : RE. Gultom
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018