Thursday, 23 September 2021


Pesona Hutan Mangrove Pantai Cermin

31 Aug 2021, 17:47 WIBEditor : Yulianto

Hutan mangrove Serdang Bedagai | Sumber Foto:Gultom

TABLOIDSINARTANI.COM, Serdang Bedagai---Kabupaten Serdang Bedagai banyak memiliki pesona pantai yang indah, mulai dari  bibir pantai yang panjangnya lebih kurang 51 Km. Setidaknya, ada lima kecamatan yang berbatas dengan pantai yaitu Kecamatan Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin dan Kecamatan Bandarkahlifah.

Wilayah pantai ini merupakan Kawasan Konservasi Perikanan (KKP ) yang terdapat tumbuhan dan hewan laut, serta bukti peninggalan sejarah dan sosial budaya. Karenanya, penting dilindungi secara hukum, baik secara keseluruhan atau sebagian wilayah tersebut.

Diantaranya dengan pengaturan zona perlindungan, pelestarian dan pemamfaatan sumber daya ikan biota laut dan termasuk ekosistimnya. Karena itu ditetapkan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dengan SK Bupati Nomor : 97/523/2008.

Potensi Pantai Serdang Bedagai merupakan sumber daya alam indah  yang harus dipertahankan dan dilestarikan, serta dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat pantai khususnya.

Selain adanya destinasi Pulau Berhala yang merupakan pulau terluar dengan adanya penyu. Ada juga Pulau Sokong Nenek, Pulau Sokong Siembah, serta pesisir pantai lainnya.

Banyak pantai pantai menjadi destinasi wisata yang setiap minggu ramai dikunjungi wisatawan lokal dan daerah, serta mancanegara. Dari pantai tersebut yang sangat luar biasa untuk menjadi destanasi yang unik serta menjadi pelestarian ekosimtim simbiosis mutualiamus yaitu hutan mangrove Kampung Nipah.

Kampung Nipah merupakan perkampungan nelayan yang pada tahun 1980-an menjadikan daerah areal pertambakan udang. Namun justru berdampak, banyak biota laut dan hutan bakau dan nipah rusak. Termasuk juga tempat hidup kepiting, ikan dan hewan air lainnya. Begitu juga binatang darat monyet, ular dan lainnya musnah.

Dampak lainnya hilangnya hutan mangrove membuat terjadi abrasi, sehingga membuat rumah nelayan lenyap. Akhirnya mata pencaharian nelayan pun  hilang.

Namun, pada tahun 2005 para nelayan secara swadaya menanam bakau dan nipah di pesisir Desa Sei Nagalawan. Dengan semangat yang kuat membangun kembali pesisir tanpa meminta bantuan pemerintah. Selain menanam bakau, nelayan juga membuat inovasi produk panganan ringan secara tradisional.

Pada tahun 2004- 2009 perlahan masyarakat Desa Sei Naga Lawan berhasil mengubah kehidupan dari kemiskinan dan jeratan tengkulak yang mencekik leher perekonomian dan budaya nelayan menjadi melarat.

Pada tahun 2012 para nelayan membentuk wadah koperasi serba usaha Muara baibai. Dalam bentuk wisata edukasi dan mangrove dengan kampung nipah.

Kontributor tabloid Sinar Tani berkunjung ke lokasi hutan mangrove tersebut terlihat sudah ada kehidupan biota laut dan adanya ekosistim hutan pantai yang menjadikan penahanan ombak, sehingga abrasi tidak lagi merusak rumah nelayan.

Berkunjung ke daerah pantai mangrove Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan dari kota Medan hanya 1,5 jam melalui jalan tol. Begitu juga dari Bandara Kualanamu. Dilokasi tersebut sudah terdapat fasilitas penginapan dan kuliner dengan harga terjangkau, serta fasilitas mesjid dan umum lainnya, sehingga pantas dan layak dikunjungi untuk edukasi riset, kuliner desa serta panorama pantai yang indah.

Reporter : RE. Gultom
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018