Sabtu, 01 Oktober 2022


Tawarkan Edukasi Ekologi, Agrowisata Boemisora Destinasi Baru Di Kabupaten Semarang

26 Agu 2022, 13:41 WIBEditor : Herman

Agrowista Boemisora di Kabupaten Semarang | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Satu lagi destinasi wisata alam lahir di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Agrowisata Boemisora hadir dengan  menawarkan kemurnian dan edukasi ekologi pada para pengunjungnya. 

Berada di lereng gunung Merbabu, tepatnya di tengah desa yang indah bernama Polobogo,  Boemisora yang terletak di atas bukit diapit oleh Sungai Gopak dan Sungai  Parat, dua sungai gunung yang jernih airnya.

Boemisora menyajikan pemandangan sebening Kristal, di sisi barat daya menjulang puncak gunung dengan kelebatan hutan dan disisi timur terlihat bentangan Rawa Pening yang indah.

Agrowisata yang terletak tidak terlalu jauh dari kota Salatiga ini dapat ditempuh hanya dengan 20 menit berkendara.

Boemisora mempunyai konsep tersendiri dalam menawarkan nilai tambah yang dimiliki. Karena berada pada 600 m dpl, serta ditengah kawasan dengan populasi pepohonan yang masih lebat, maka andalan utamanya adalah udara yang bersih dan sejuk serta suasana yang tenang,  damai jauh dari keriuhan kota.

Begitu masuk pintu gerbang, pengunjung akan menemukan sebuah lokasi display kebun sayuran dan buah-buahan organik yang ditata apik. Disitu juga ada kandang-kandang kambing, domba dan sapi.

Lokasi ini dirancang secara khusus agar pengunjung dapat memperoleh pengalaman secara fisik melihat, bersentuhan dengan tanaman dan ternak. Dengan melihat dari dekat tanaman sayuran yang subur, tanaman buah yang berbuah ranum, diyakini akan mendatangkan kepuasan batin rasa bahagia.

Disana juga ada restoran dan amphitheater sedang untuk keperluan pertemuan out door. Jalan-jalan sengaja dibuat melingkar-lingkar agar ramah terhadap warga senior dan warga difabel. 

Drs. Widodo, MSc salah seorang direktur dan pengelola Boemisora mengatakan bahwa lahir dari sebuah pertobatan ekologis. Widodo menuturkan bahwa ia dan teman-temannya banyak yang pernah bekerja, dengan terpaksa mengorbankan atau merusak bumi.

Mereka bekerja di pertambangan, pengeboran, konstruksi jalan, dan lain-lain. Hingga pada suatu ketika sampai disebuah titik kesadaran bahwa yang mereka lakukan selama ini tidak benar.

“Sebab kita hidup diatas bumi, makan dari hasil tanaman dan ternak yang hidup dibumi juga, dan pada saatnya akan tinggal didalam bumi selamanya. Sehingga menjadi sangat penting bila kita harus merawat bumi, tidak melukai, tidak membebani namun justru harus melestarikan,” tegas Widodo

Nama Boemisora mengandung maksud kita akan belajar, mendengar dan melaksanakan kehendak atau ajaran dari alam termasuk bumi.

Sehingga di lahan agrowisata ini diusahakan seminimal mungkin menggunakan bahan bangunan semen. Mereka menggunakan akar wangi untuk mengganti talud batu/semen, dan memakai jaring tanah untuk membuat jalan yang kesemuanya masih bisa meresapkan air kedalam tanah.

Lebih jauh Widodo mengharap kedepan tempat ini dapat menyediakan fasilitas yang nyaman untuk mengalami dan mempelajari hal-hal baru tentang alam dan ekosistem. Serta yang lebih penting dapat memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan kemitraan untuk membuat dunia kehidupan yang lebih baik

Sementara itu Direktur Utama  PT. Rapelo 77, pemilik Agrowisata Boemisora, Agung Adi Prasetyo menuturkan bahwa pada awalnya ide membuat proyek ini dimulai dari bercanda, main-main dari para alumni SMA Loyola angkatan 1977.

“Mereka ingin memiliki tempat sendiri untuk reuni, karena sudah punya banyak waktu kelompok ini bereuni bisa 6 sampai 9 kali dalam setahun. Sehingga pada tgl 24 Juni 2014 ditandatanganilah kesepakatan untuk mewujudkan keinginan tersebut,” ungkapnya.

Berkat kemurahan Tuhan, mereka dipertemukan dengan lokasi di desa Polobogo ini, yang langsung memikat hati seluruh anggota komunitas yang berjumlah 32 orang..

“Tempat tersebut benar-benar mempunyai aura kebahagiaan, yang dapat membuat orang menjadi nyaman dan tenang,” tambahnya.

Maka makin bulatlah tekad mereka untuk membuat sebuah tempat untuk healing komunitas dan berbagi. Tempat tersebut akan dibangun sedemikian rupa agar dapat membuat bahagia dan nyaman bagi para pengunjung, membuatkan jarak dengan keriuhan kota, menyegarkan kembali inspirasi yang macet karena kesesakan hidup dan menyegarkan diri dari kepenatan beban sehari-hari.

Bukan tanpa kendala, ternyata niat yang besar tidak seimbang dengan sumberdaya yang ada. Karena keterbatasan Agung mengaku selama 7 tahun proyek ini sempat berjalan ditempat. Sehingga sampai pada tahun 2022 ini baru mulai terwujud. 

“Sudah 2,5 Ha lahan yang dibangun, dari 12 Ha lahan yang ada. Selebihnya masih dibiarkan sebagai kebun durian dan pepohonan kayu-kayuan,” ujarnya.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018