Minggu, 14 April 2024


Keseruan Plantation Tour Karet dan Kopi Tlogo

23 Sep 2022, 06:58 WIBEditor : Herman

Plantation Tour Karet dan Kopi di Perkebunan Tlogo | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Mengikuti Plantation Tour di Perkebunan Tlogo ternyata menjadi pengalaman unik dan selingan yang mengasyikkan bagi para pensiunan KETAPANG. Keluar dari rutinitas, menghirup udara segar, memandang hijaunya tanaman serta mendapat pengetahuan bagai mana getah karet dan biji kopi diolah, hingga dapat menghasilkan rupiah.

Para warga senior yang dulu pernah bekerja di Instansi Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, berkesempatan mengunjungi Tlogo Resort yang terletak di desa Tlogo, kecamatan Tuntang, kabupaten Semarang pada awal bulan September lalu.

Perusahaan perkebunan milik Pemda Jawa Tengah yang tengah bertransformasi menjadi sebuah Agrowisata ini menawarkan berbagai paket wisata. Mulai dari Hotel dan Restauran, Wisata Goa Rong View, Plantation Tour serta paket-paket wedding, pertemuan, out bond, hingga camping ground.

Masuk ke pabrik karet kuno yang ada di Tlogo seperti terlempar ke masa lalu, ketika perkebunan masih dijalankan oleh para tuan-tuan onderneming  dari Eropa.

Bau kecut asam semut menyeruak diantara para karyawan yang bekerja dalam diam. Memang banyak peralatan baru yang dipakai. Tetapi peralatan serta bangunan peninggalan Belanda masih ada yang tertinggal dan dipelihara dengan baik.

Perkebunan Tlogo Tuntang merupakan perkebunan peninggalan pemerintah Belanda. Perkebunan ini didirikan pada tahun 1838 dan komoditas pertamanya adalah tanaman coklat.

Pada awalnya, perkebunan Tlogo adalah milik NV Cultur Maatschappy di Amsterdam.  Hak erfpach tersebut berakhir tanggal 28 Agustus 1954. Seiring dengan berjalannya waktu, setelah berganti-ganti pengelola, terhitung mulai Tanggal 12 Maret 1996, Perkebunan Tlogo berada di bawah penguasaan Direksi Perusda Tingkat I Jawa Tengah.

Menurut Anton, sang pemandu wisata,  perkebunan karet Tlogo memiliki lahan seluas 200 Ha dengan letak yang terpisah-pisah. Ada yang dekat ada yang jauh, ada yang ber kontur datar ada yang miring, bahkan ada yang ekstrim kemiringannya.

Sehari diperkebunan karet ini dapat mengumpulkan 500 – 600 liter getah karet atau lateks. Sebelum jam 11.00 seluruh getah karet harus sudah masuk pabrik.

Dari kabun yang dekat, getah-getah tersebut cukup dipikul sampai pabrik. Yang agak jauh, getah diangkut dengan sepeda motor, sedang dari kebun yang ekstrim dan  jauh dan getah diangkut memakai mobil pick up.

Dijelaskan Anton, getah karet yang masuk pabrik, langsung ditampung dalam jembung. Selanjutnya getah dalam jembung tersebut disaring dan diukur Kadar Karet Kering nya ( K3 ).

“Angka K3 ini akan dipakai sebagai pedoman rumus komposisi campuran larutan di langkah berikutnya. Selanjutnya latek bersih dicampur dengan air dan asam semut, dengan perbandingan sesuai angka K3 latek. Yang unik adalah Ketika mengaduk campuran ini agar menjadi larutan yang homogen,” ungkapnya.   

Pengadukan dilakukan secara manual oleh para pekerja sambil bernyanyi dan tidak boleh emosi. Larutan tersebut harus diaduk dengan lembut dan perlahan sebanyak 25 putaran, supaya tidak menghasilkan gelembung udara.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018