Minggu, 20 Oktober 2019


Gerpari, Ciptakan Bisnis Menggiurkan dan Lapangan Kerja untuk Masyarakat

25 Sep 2019, 16:24 WIBEditor : Gesha

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menjelaskan Gerpari bisa menguntungkan bagi kelompok pakan mandiri | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Lampung Selatan ---- Gerakan pakan mandiri (Gerpari) yang dikembangkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) di sejumlah daerah bisa menjadi entitas usaha masyarakat yang menguntungkan. Bahkan, untuk mendorong kelompok pembuat pakan mandiri (Pokanri) dalam mengembangkan usahanya,  ke depannya akan dikembangkan kelompok khusus penyedia bahan baku pakan mandiri.

"Jadi, kegiatan akuakultur seperti Gerpari ini selain menciptakan dan menyerap lapangan kerja, juga bisa menjadi lahan bisnis bagi masyarakat," papar Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat menghadiri Temu Lapang Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) 2019 di Desa Marga Agung, Kec.Jati Agung, Lampung Selatan, Rabu (25/9).

Menurut Slamet Soebjakto, untuk mengembangkan usahanya, Pokanri nantinya bisa membeli bahan baku pakan mandiri dari kelompok khusus penyedia bahan baku pakan. Sehingga, Pokanri bisa konsentrasi untuk membuat pakan mandiri yang diperlukan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan).

"Kalau saat ini pakan mandiri tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan pakan sendiri (kelompoknya), ke depannya bisa di jual ke pembudidaya lainnya dengan harga terjangkau Rp 6 ribu-Rp 7 ribu/kg," jelas Slamet.

Slamet menegaskan, pakan mandiri ini selain untuk menekan cost pembudidaya ikan air tawar dan ke depannya bisa menjadi buffer stock pakan ikan dengan harga murah yang berkualitas. "Karena itu, kami mendorong munculnya Pokanri di sejumlah daerah. Apabila saat ini mereka kita beri bantuan mesin pellet tenggelam, ke depannya kita upayakan bantuan mesin pellet terapung, " kata Slamet.

Saling Mendukung

Menurut Slamet, Pokanri penerima bantuan mesin pellet di Kab.Lampung Selatan dari tahun 2015-2018 sudah beroperasi cukup baik. "Ada sekitar 41 Pokanri yang dapat bantuan mesin pellet. Dari jumlah tersebut 50%-nya sudah operasional dengan baik," ujarnya.

Slamet juga berharap, sejumlah Pokanri yang sudah beroperasi dengan baik tersebut bisa memberi masukan ke Pokanri lainnya." Sebab, persoalan pengelolaan pakan mandiri bisa saja di mesinnya, bahan bakunya atau SDM-nya. Sehingga dalam temu lapang ini mereka bisa saling sharing," jelasnya.

Menurut Slamet, keberadaan pakan mandiri sangat dibutuhkan Pokdakan dalam rangka mengurangi ketergantungan mereka terhadap pakan pabrikan yang harganya tinggi. "Dalam kegiatan budidaya, pakan menjadi komponen terbesar (70-80%), sehingga pembudidaya butuh pakan mandiri dengan harga murah supaya cost budidaya rendah," paparnya.

Dia juga mengatakan, pembudidaya (ikan air tawar) yang menggunakan pakan mandiri berbahan baku lokal bisa menekan cost sekitar Rp 4.000/kg." Karena biaya pakannya bisa ditekan, pembudidaya akhirnya bisa mendapatkan margin keuntungan Rp 2.000-Rp 4.000/kg," papar Slamet. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018