Jumat, 06 Desember 2019


Peringati Harkanas 2019, Menteri Edhy Gelar Makan Ikan Bersama Ribuan Pelajar

22 Nov 2019, 17:38 WIBEditor : Gesha

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo makan ikan bersama ratusan pelajar di Jakarta dalam memperingati HARKANAS 2019 | Sumber Foto:HUMAS KKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Dalam rangka merayakan Hari Ikan Nasional (Harkannas) ke-6, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengundang 1.000 siswa dan ribuan pegawai untuk menyantap ikan bersama di Area Parkir Gedung Mina Bahari III, Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kamis, (21/11) .

“Acara ini kan setahun sekali. Kalau kita kasih anak kita makan ikan setahun sekali kan sedikit sekali ya? Gimana kalau kita usul kepada para Dirjen agar melakukannya lebih rutin. Bila perlu, seminggu berapa kali lewat program GEMARIKAN. Jadi kita kirim ke sekolah-sekolah biar anak-anak kita dapat ikan,” kata Menteri Edhy di hadapan 1.000 siswa, guru, dan kepala sekolah dari tingkat PAUD, SD, SMP hinga SMA/SMK yang berlokasi di sekitar Kantor KKP.

Harkannas bertema “Konsumsi Ikan Meningkatkan Daya Saing Bangsa”, merupakan langkah nyata KKP untuk menyediakan pemenuhan gizi yang cukup bagi masyarakat agar tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.  Berkaitan dengan Harkannas tersebut, Menteri Edhy mengusulkan agar KKP dapat meneruskan misi dari acara ini dengan membagikan ikan ke berbagai sekolah setiap minggunya secara rutin melalui program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN). 

Edhy juga mengatakan, peningkatan konsumsi ikan terus digencarkan KKP melalui kampanye GEMARIKAN. Hal ini dilakukan untuk memberantas stunting yang saat ini menjadi prioritas Presiden Joko Widodo.  “Kita punya PR besar di negeri ini, salah satunya adalah memberantas stunting. Ikan adalah salah satu solusi yang saya pikir mudah dan cepat untuk kita lakukan,” ujarnya.

Seperti diketahui, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kurangnya gizi secara kronis sehingga anak tumbuh lebih pendek dari rata-rata usianya. Stunting juga berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas. Akibatnya, stunting pun berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan daya saing bangsa. 

Ikan sebagai sumber bahan pangan yang mengandung protein dan omega 3 diharapkan menjadi solusi dalam permasalahan gizi tersebut. Ikan juga bermanfaat untuk mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi untuk kecerdasan masyarakat.

Data KKP menyebutkan, rata-rata konusmsi ikan nasional terus meningkat selama lima tahun terakhir dari 38,14 kg/kapita pada tahun 2014 menjadi 50,69 kg/kap pada tahun 2018. Pada tahun 2019, konsumsi ikan ditargetkan mencapai angka 54,49 kg/kapita. Angka tersebut diharapkan terus meningkat dalam lima tahun mendatang. 

Menurut Edhy Prabowo, target konsumsi ikan pada tahun 2020 sebanyak 56,39 kg/kapita. “Saya yakin akan mampu mencapainya. Sebab, potensi kita luar biasa. Kalau semua kementerian bersama-sama turun tangan untuk memberantas stunting,” kata Edhy. 

Guna mencapai target tersebut, KKP akan menyediakan produksi ikan tangkap yang cukup. Saat ini, potensi sumber daya ikan Indonesia mencapai angka 12,54 juta ton/tahun. Dari potensi tersebut, stok ikan yang boleh ditangkap dan diolah sebesar 80?ri total potensi atau sekitar 10 juta ton/tahun.  “Dari potensi ikan tangkap yang sudah kita manfaatkan saat ini baru 8 juta ton/tahun. Kita harapkan, pemanfaatan ikan tangkap ini bisa ditingkatkan sampai angka 10 juta ton/tahun,” ujarnya.

Edhy optimis pemanfaatan potensi sumber daya ikan Indonesia dapat ditingkatkan ke depannya. Untuk itu,  pihaknya akan memperbaiki kemudahan perizinan di sektor perikanan tangkap yang selama ini cukup mendapatkan banyak keluhan.  “Yang paling dekat bisa kita lakukan adalah mempermudah perizinan. Kemarin kita ditegur tentang perizinan yang belum optimal. Ini yang akan kita lakukan segera,” kata Edhy. 

Sedangkan permintaan pelaku usaha perikanan tangkap untuk mendorong pemanfaatan produksi tangkap melalui peningkatan ukuran kapal dan penyediaan kapal kapal angkut, menurut Edhy,  masih dilakukan kajian terlebih dahulu.  “Ini harus kita kaji. Apakah benar dampaknya akan meningkatkan produksi ikan, devisa negara, PNBP, dan pajak? Ini yang harus kita kaji ulang. Kita harus hati-hati,” pungkas Edhy.

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018