Wednesday, 26 February 2020


Genjot Ekspor, KKP Targetkan Produksi Ikan Hias 1,8 Miliar

30 Jan 2020, 12:15 WIBEditor : Indarto

Ikan Hias Koki Mutiara sempat berjaya di masyarakat | Sumber Foto:Dok. Indarto

KKP bersama dengan lintas sektoral terkait tengah menyempurnakan peta jalan (road map) percepatan industrialisasi ikan hias nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Selain udang, rumput laut dan sejumlah komoditas perikanan lainnya, komoditas perikanan non konsumsi seperti ikan hias juga berpeluang menambah devisa negara. Bahkan, produksi ikan hias di masyarakat berpotensi  ditingkatkan hingga 1,8 miliar ekor pada tahun 2020.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengatakan, ikan hias  menjadi salah satu sumber devisa negara yang bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Tercatat, share ekonomi ikan hias terhadap nilai ekspor produk perikanan mencapai 0,66 persen.

“Karena itu, kami akan mendorong dengan strategi khusus melalui penguatan di hulu dengan terus menggenjot produksi ikan hias bernilai ekonomis tinggi,” kata Slamet Soebjakto, di Jakarta, Kamis (30/1).

Slamet memastikan KKP akan mampu menggenjot produksi ikan hias.  Sebab, ada dua keunggulan sumber daya ikan hias di Indonesia.   Pertama,  potensi pengembangan dan varian komoditas ikan hias bernilai ekonomi tinggi. Kedua, lebih dari 650 jenis ikan hias (tawar, dan laut) ada di perairan Indonesia.

“ Oleh karenanya, pemanfaatan ikan hias yang punya nilai ekonomi tinggi akan terus kita dorong. Apalagi, saat ini upaya perekayasaan teknologi sudah berkembang dengan baik,” kata Slamet.

Menurut Slamet, saat ini KKP bersama dengan lintas sektoral terkait tengah menyempurnakan peta jalan (road map) percepatan industrialisasi ikan hias nasional. Roadmap ini akan memetakan berbagai strategi konkrit yang meliputi percepatan produksi, pengaturan tata niaga, penguatan daya saing dan nilai tambah, investasi, serta perluasan dan penguatan pasar ekspor.

Data Ditjen Perikanan Budidaya KKP menyebutkan, kurun waktu 2012 - 2018, produksi ikan hias nasional tumbuh rata-rata sebesar 5,05 persen per tahun. Pada tahun 2012 produksi mencapai 938,47 juta ekor, kemudian pada tahun 2018 meningkat sebanyak 1,19 miliar ekor.

Slamet mengatakan, berdasarkan capaian produksi tahun sebelumnya, apabila produksi ikan hias pada tahun 2020 ditargetkan sebanyak 1,8 miliar ekor sangatlah realistis.  Apalagi, Ditjen Perikanan Budidaya telah berhasil mengembangkan secara masal berbagai varian jenis ikan hias, seperti clownfish, banggai cardinal, dan sejumlah jenis ikan hias lainnya.

“Selain itu, ikan hias saat ini sudah menjadi usaha yang sangat menjanjikan di kalangan masyarakat. Jadi, pemerintah tinggal siapkan regulasi dan memfasilitasi akses apa yang dibutuhkan pelaku usaha, selanjutnya mereka akan berkembang dengan sendirinya,” papar  Slamet.

Merujuk hasil survey pertanian 2013 (BPS, 2014) menyebutkan, pendapatan rumah tangga pembudidaya ikan hias mencapai Rp 50,48 juta per tahun atau sekitar Rp 4,2 juta per bulan. Usaha budidaya ikan hias ini merupakan jenis usaha yang memiliki nilai tambah ekonomi paling tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS)  juga mencatat,  kinerja perdagangan ikan hias kurun waktu tahun 2012- semester 1 tahun 2019 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 nilai ekspor ikan hias mencapai 21,01 juta dollar AS. Sedangkan pada tahun 2018  nilai ekspor ikan hias mencapai 32,23 juta dollar AS.

Slamet juga mengakui,  adanya nilai tambah dalam usaha budidaya ikan hias tersebut memicu animo masyarakat untuk terjun menekuni budidaya ikan hias terus bertambah. Karena itu, untuk mendorong kinerja budidaya ikan hias ke depan lebih bagus lagi, Ditjen Perikanan Budidaya KKP akan menyasar pada jenis-jenis ikan hias yang punya pangsa ekspor tinggi.

“ Catatan kami ada lima komoditas dominan yang dibudidayakan masyarakat untuk tujuan ekspor antara lain ikan arwana, koi, cupang, gapi, dan manvis. Belum lagi saat ini kita sudah mulai fokus untuk menggenjot produksi jenis ikan hias air laut utamanya clownfish (nemo),” jelas  Slamet.

Inovasi Teknologi Sistem RAS 

Pastinya, untuk mendorong peningkatan produksi ikan hias KKP telah menyiapkan langkah konkrit yang fokus utamanya di hulu, peningkatan nilai tambah dan daya saing impor. Pada tataran di hulu, KKP terus mendorong penerapan inovasi teknologi yang efisien dan produktivitasnya tinggi.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah sistem Recirculating Aquaculture System (RAS). Dimana sistem ini mampu menggenjot produktivitas benih hingga 100 kali lipat dibanding konvensional.

“ Paket teknologi RAS ini dapat diadopsi secara massal oleh masyarakat yakni dengan sistem mini RAS. Kami juga merancang mini RAS dan saat ini telah banyak diadopsi, seperti di Ambon dengan Kampung Nemonya,” kata Slamet

Slamet juga mengatakan, selain  teknologi, Ditjen Perikanan Budidaya juga menyediakan induk dan benih unggul selama lima tahun ke depan. Bahkan, pengembangan varian jenis ikan hias bernilai ekonomi tinggi lainnya juga terus didorong.

“ Keberhasilan BPBL Ambon yang mampu mengembangkan sebanyak 14 strain varian ikan hias clownfish (nemo) adalah salah satu yang akan terus dikembangkan,” ujarnya.

Guna memenuhi kebutuhan benih ikan laut termasuk ikan hias, KKP telah membangun unit hatchery modern berskala besar di Ambon yakni di instalasi Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon. Unit perbenihan modern yang menerapkan sistem RAS ini mampu memproduksi benih dan ikan hias laut dalam kapasitas besar.

Kepala BPBL Ambon, Nur Muflich Juniyanto,  mengatakan unit RAS modern ini di-setting untuk menghasilkan kapasitas produksi benih hingga 3 juta ekor per tahun. “ Saat ini BPBL Ambon fokus pada pengembangan ikan hias laut baik untuk kepentingan ekspor maupun untuk restocking,” ujarnya.

Menurut Juniyanto, unggulan utama ikan hias di Ambon adalah jenis clownfish. Ikan hias tersebut saat ini telah mulai memasyarakat. "Saat ini kami telah mampu memproduksi varian strain ikan hias clownfish, koleksi kami ada sekitar 14 varian dari yang murah hingga yang mahal,” ujarnya.

Juniyanto mengatakan,  BPBL Ambon juga mengembangkan ikan hias jenis banggai cardinal. Bahkan, BPBL Ambon telah berhasil mengembangkan varian baru yakni ikan hias laut jenis Nemo dengan varian Black Ice (Black Snowflake) dan Lightning Maron.

“ Saya kira ini bisa jadi bagian penting dalam mendorong ekspor ikan hias asal Indonesia,” ujarnya.

Slamet juga menambahkan, selain di hulu, Ditjen Perikanan Budidaya KKP juga mengembangkan sektor hilir. KKP bersama  sektor terkait akan fokus pada perbaikan tata kelola niaga yang lebih efisien khususnya berkaitan dengan masalah distribusi dan biaya logistik yang masih tinggi.

 " Saya kira masalah logistik ini perlu segera dibenahi. Bila perlu ada insentif khusus bagi komoditas ekspor, sehingga nilai tambah ekonominya tidak banyak hilang", tegas Slamet.

Menurut Slamet, penguatan kulitas/mutu, branding dan promosi produk ikan hias, utamanya ikan hias asli Indonesia perlu di dorong.  “Hal ini penting untuk menaikan posisi tawar dan daya saing ekspor kita,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018