Wednesday, 26 February 2020


Selain Sagu, Ada Kakap Putih di Meranti

11 Feb 2020, 14:18 WIBEditor : Indarto

Kakap putih salah satu unggulan budidaya laut | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB KKP

Komoditas kakap putih punya pangsa pasar yang luas dan bisa didorong untuk menghasilkan devisa.

TABLOIDSINARTANI.COM, Batam— Kabupaten Meranti, tak hanya dikenal sebagai salah satu sentra sagu nasional. Kabupaten Meranti, Provinsi Riau juga dikenal sebagai wilayah kepulauan yang memiliki potensi pengembangan budidaya laut, khususnya kakap putih.

Guna mendukung ketahanan pangan,-- khususnya pangan lokal—Kementerian Pertanian telah mengembangkan sagu yang dikelola industri kecil menengah  dengan kapasitas priduksi sebanyak 198.000 ton/tahun.  Di kawasan yang sama, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama  Pemerintah Provinsi Riau,  menjadikan Kabupaten Meranti sebagai kawasan pengembangan budidaya kakap putih.

Budidaya laut dengan komoditas kakap putih tampaknya cocok dikembangkan di Meranti.  Mengingat,  dilihat dari geografisnya, Kabupaten Meranti merupakan kawasan kepulauan yang tepat untuk budidaya kakap putih.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,  pemilihan Meranti sebagai sentra kawasan budidaya kakap putih nasional, selain karena memiliki potensi pengembangan yang besar, juga karena komitmen Pemda yang tinggi pada upaya percepatan pembangunan perikanan di daerahnya.

"Kami telah menangkap komitmen dan harapan daerah melalui bupati tentang bagaimana mendorong budidaya laut di Kabupaten Meranti mengingat potensinya yang sangat besar. Maka, kita buat kesepakatan bersama dengan memilih komoditas kakap putih sebagai unggulan,” papar Slamet, di Batam , Selasa (11/2).

Slamet juga mengatakan, komoditas kakap putih  punya pangsa pasar yang luas dan bisa didorong untuk menghasilkan devisa. “Jadi, komoditas ini akan kami dorong untuk ekspor,” ujarnya.

Slamet menambahkan, secara nasional potensi indikatif budidaya laut mencapai 12,1 juta hektar (ha), dengan potensi nilai ekonomi diprediksi hingga 150 miliar dollar AS/tahun. Sayangnya, pemanfaatan potensi budidaya laut sampai saat ini masih kurang dari 10 persen.

Lantaran, pemaanfaatannya masih minim, lanjut Slamet, budidaya laut akan menjadi pekerjaan rumah (PR) kurun lima tahun mendatang. Artinya, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan mengoptimalkan potensi yang ada, sehingga menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Slamet menegaskan, kakap putuh yang akan dibudidaya di Meranti orientasi memang untuk memenuhi kebutuhan ekspor seperti ke China, Taiwan, Jepang, USA, dan Uni Eropa. Karena itu, kawasan Meranti ini akan dijadikan pilot project nasional. Selanjutnya, akan dilihat hasil proses bisnisnya seperti apa.

“Tapi, saya  optimis, jika mampu kita optimalkan, Indonesia akan berpeluang menguasai suplai share ekspor kakap putih dan ini akan mendongkrak devisa kita secara signifikan,” kata Slamet.

Menurut Slamet, penetapan pusat kawasan budidaya kakap putih di Kabupaten Meranti diharapkan akan memicu daerah lain menerapkan model serupa.  Diharapkan, prinsip pengembangan kawasan budidaya kakap putih ini akan memberikan multiplier effect yang besar terhadap pertumbuhan  ekonomi  daerag dan penyerapan tenaga kerja.

"Pastinya, budidaya kakap putih berbasis kawasan akan ada multistakeholders yang terlibat mulai dari hulu hingga hilir. Termasuk nanti bagaimana membangun jejaring pasar untuk lokal maupun ekspor,” papar Slamet.

Dukungan Perda Zonasi

Menurut Slamet, untuk menjamin perlindungan investasi budidaya laut, Pemda diharapkan segera  merampungkan Perda Rencana Zonasi Pemanfaatan Wilayah Pesisir, Laut dan Pulau Pulau Kecil (RZWP3K). Perda zonasi tersebut sangat diperlukan untuk menjamin legalitas dan kondusifitas iklim usaha budidaya laut.

"Bagi Pemda yang memiliki wilayah pesisir,  laut dan atau pulau perlu segera merampungkan pengesahan Perda RZWP3K, karena ini yang akan menjamin perlindungan investasi budidaya laut,” ujar Slamet.

Apabila, suatu daerah sudah memiliki Perda zonasi, pemerintah pusat tinggal menetapkan dimana lokus pengembangannya yang efektif.  Sebab, selama ini yang jadi kendala masuknya investasi di usaha budidaya laut salah satunya terkait kepastian hukum.

“Jadi ada beberapa kasus, budidaya laut harus tergusur karena terjadi konflik kepentingan dengan sektor lain,” kata Slamet.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Meranti,  Eldy Syahputra mengatakan, pengembangan budidaya laut di Kabupaten Meranti mengacu pada Perda Provinsi tentang RZWP3K  seluas 438 ha. Dari luas kawasan tersebut, untuk potensi efektif budidaya kakap putih sekitar 175 ha. Sedangkan potensi produksi diperkirakan mencapai 10.500 ton per tahun.

"Saya kira melalui penetapan Kabupaten Meranti sebagai pusat kawasan budidaya kakap putih, nanti diharapkan ada kontribusi bagi ekonomi daerah,” ujar Eldy.

Dikatakan, sejak lima tahun terakhir,  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti mulai menggalakkan program budidaya melalui keramba jaring apung.  Nah, untuk mendorong minat masyarakat, Pemkab Kepulauan Meranti sejak lima tahun terakhir sudah menebar 84 unit KJA dan dikelola lebih kurang  260 nelayan, dengan produksi kakap putih mencapai 60 ton per tahun.

Menurut Eldy,  pasar kakap putih sangat menjanjikan. Kakap putih ini kalau dijual di pasar hargaya mencapai Rp 70 ribu-Rp 80 ribu/kg. “Permintaan pasar lokal di Provinsi Riau cukup banyak. Apalagi,  kalau tembus ekspor dipastikan nilai tambahnya lebih tinggi lagi,” papar Eldy.

 

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018