Monday, 10 August 2020


Investor Mulai Lirik Aplikasi Budidaya Udang Berkelanjutan

13 Feb 2020, 16:20 WIBEditor : Indarto

Budidaya udang berkelanjutan di Pasangkayu-Mamuju Utara | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB KKP

Budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan mampu mendongkrak produksi 5-10 ton/ha.

TABLOIDSINARTANI.COM, Pasangkayu--- Budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan yang dikembangkan di Pasangkayu-Mamuju Utara mulai banyak diadopsi sejumlah investor.  Budidaya udang berkelanjutan di daerah tersebut dinilai efektif untuk menjamin sistem produksi. Bahkan, sistem budidaya udang yang dikembangkan sudah terintegrasi,-- mulai dari penataan tata letak, penyediaan benih bermutu, manajemen pakan, sampai pada pengendalian penyakit dan lingkungannya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya,  Slamet Soebjakto, budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan mampu mendongkrak produksi 5-10 ton/ha.  “ Karena itu, perusahaan swasta nasional mulai tertarik dengan bisnis budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan,” ujar Slamet, di Pasangkayu, Kamis (13/2).

Slamet mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga saat ini gencar melakukan diseminasi atau percontohan budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan di sejumlah daerah.  Salah satu model  percontohannya ada di Pasangkayu-Mamuju Utara.

“ Tambak udang berkelanjutan dikelola secara terintegrasi dan ramah lingkungan. Model ini juga dinilai efektif untuk mengendalikan penyebaran hama dan penyakit udang karena berada dalam satu manajemen dan biosecurity yang ketat,” papar Slamet.

Saat meninjau kawasan budidaya udang berkelanjutan di Desa Randomayang ,Kabupaten Pasangkayu-Mamuju Utara Selasa (11/2)  lalu, Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa KKP menargetkan adanya peningkatan ekspor sebesar 250% hingga tahun 2024. Berkaitan dengan hal tersebut, Ditjen Perikanan Budidaya, telah menyiapkan strategi untuk mendongkrak produktivitas budidaya udang di berbagai daerah salah satunya dengan mengembangkan percontohan model tambak budidaya udang berkelanjutan.

"Model pengembangan kawasan tambak budidaya udang berkelanjutan telah nyata mampu menggenjot produktivitas udang secara signifikan. Jadi, sebenarnya dengan model teknologi seperti ini, target peningkatan 250?lam lima tahun ke depan yang ditetapkan Presiden Jokowi sangat realistis,” jelasnya.

Slamet juga optimis, pada tahun 2024 KKP target ekspor perikanan sebesar 250 persen bakal tercapai. Sebab, kurun lima tahun ke depan akan ada penambahan produksi udang  sebnyak  578 ribu ton.

“ Setahun ini kita akan petakan kebutuhan lahan, infrastruktur dan sarana prasarana. Nanti baru kita lakukan realisasi, tentu dengan menggandeng seluruh stakeholders termasuk menarik investor masuk,” ujar Slamet.

Menurut Slamet, Ditjen Perikanan Budidaya  pada tahun ini fokus mengembangkan komoditas udang sebagai andalan ekspor perikanan nasional. Pasalnya, udang mempunyai pasar luas. Tak hanya pasar lokal, pasar manca negara pun banyak yang meminati komoditas udang Indonesia.

Data Ditjen Perikanan Budidaya KKP menyebutkan, pada tahun 2018, share ekspor udang Indonesia mencapai 40 persen dari total nilai ekspor produk perikanan nasional atau mencapai 1,3 miliar dollar AS. Apabila produktivitas  budidaya udang digenjot, diharapkan nilainya mampu meningkat  mencapai 3,25 miliar dollar AS

Slamet juga bangga. berhasil membuktikan  bahwa model budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan produksinya optimal. Atas kesuksesan model tersebut, memicu para investor masuk dan mengadopsi model sejenis.

“Dengan keterlibatan investor, tentu menambah optimisme, ke depan industri budidaya udang nasional akan semakin maju,” ujarnya.

Budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan yang dikembangkan di Pasangkayu seluas 45  ha berjalan sesuai target. Diperkirakan,  produksi udang yang dihasilkan di kawasan tersebut mencapai 12-14 ton per kolam/siklus. Luas kawasan ini akan terus berkembang mengingat mulai banyaknya investor yang masuk di bisnis ini.

Presiden Direktur PT. Manakara Sakti Abadi, Rudy Hartanto Wibowo, salah satu investor udang di Pasangkayu mengatakan, target 250 persen ekspor udang adalah realistis. Bahkan, Rudy berkeyakinan target tersebut akan tercapai.

“ Kuncinya adalah keseriusan semua stakehokders terkait,” ujarnya.

Rudy mengakui,  D prospek industri budidaya udang nasional sangat menggiurkan dan bisa jadi andalan devisa. "Para pemilik modal saya rasa untuk mulai tidak ragu menginvestasikan dana dalam bisnis udang ini. Saya merasa, bisnisnya saat ini menjanjikan karena teknologi tersedia, SDM ada, dan infrastruktur mulai dibenahi,” paparnya.

Menurut Rudy,  dari keseluruhan volume produksi udang nasional, hanya sekitar 18,35 persen suplai share dari Indonesia  ke pasar ekspor (Jepang, USA, Eropa dan China). Artinya,  masih ada peluang besar untuk meningkatkan suplai share ekspor udang nasional.

“Saat ini produsen udang swasta nasional terus berupaya meningkatkan produksi untuk mencapai target tersebut,” ujar Rudy

 

 

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018