Thursday, 23 September 2021


Pembudidaya Rumput Laut Raup Untung Rp 105, 3 Juta/Tahun

18 Feb 2020, 13:41 WIBEditor : Indarto

Rumput laut sebagai komoditas unggulan Sumba Timur | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Pendapatan bersih masyarakat Sumba Timur, sejak 2015 hingga 2019, rata – rata meningkat hingga 2 kali lipat.

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumba Timur--- Rumput laut yang dikembangkan di  Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT)  Sumba Timur tak hanya mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarkat sekitar. Rumput laut yang dibudidaya di Sumba Timur  mampu mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

Berkat budidaya rumput laut, pendapatan bersih masyarakat Sumba Timur,  sejak 2015 hingga 2019, rata – rata meningkat hingga 2 kali lipat.  Tercatat, pendapatan pembudidaya rumput laut   dari sebelumnya Rp 53,3 juta per tahun (pada 2015) meningkat  sebesar Rp 105, 3 juta per tahun (pada 2019).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan, Sumba Timur punya potensi budidaya rumput laut luar biasa. Rumput laut yang dibudidaya dengan bibit unggul sistem kultur jaringan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga produksinya pun mengalami peningkatan.

Menurut Slamet, budidaya rumput laut di Sumba Timur tak hanya terhenti dalam proses peningkatan produksi budidaya. Industri rumput di SKPT Sumba Timur dikembangkan secara lintas sektoral dari mulai proses produksi di hulu hingga ke proses pengolahan dan pemasaran di hilir.

“Yang dilakukan di SKPT Sumba Timur akan diimplementasikan secara nasional,” ujarnya. 

Seperti diketahui,  Presiden Jokowi telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 tahun 2019 tentang Roadmap Industrialisasi Rumput Laut Nasional. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjawab tantangan tersebut dengan menyiapkan berbagai strategi percepatan peningkatan produksi rumput laut dalam peta jalan industrialisasi rumput laut nasional hingga 5 (lima) tahun mendatang.

Proses bisnis  budidaya rumput laut yang dilakukan di SKPT Sumba Timur dimulai dari penetapan lokasi sentra budidaya rumput laut di daerah Woba. Semua proses budidaya mulai dari persiapan hingga penjualan dilakukan di satu lokasi.

Pada tahap awal pengembangan budidaya rumput laut di Woba, dimulai dengan penyediaan bibit melalui bantuan kebun bibit rumput laut kepada pokdakan,-- yang selanjutnya dibudidayakan oleh pembudidaya. Setelah rumput laut siap untuk dipanen, kelompok pembudidaya/koperasi rumput laut tidak perlu khawatir dengan penjualan karena sudah difasilitasi kemitraan dengan industri pengolah rumput laut.

Selain bantuan sarana untuk berbudidaya,  pemerintah juga memberi bantuan prasarana penunjang seperti pembukaan dan peningkatan akses jalan ke lokasi sentra budidaya rumput laut. Kemudian,  pembangunan MCK dan jaringan air bersih, pemasangan jaringan listrik, gudang rumput laut serta balai pertemuan yang turut berperan menyukseskan proses produksi hingga pendistribusisan hasilnya.

Data KKP menyebutkan, sejak 2017-2019 KKP telah menggelontorkan berbagai bantuan ke SKPT Sumba Timur. Diantaranya pembangunan prasarana budidaya rumput laut seperti para-para, rumah ikat, dan perahu fiber, sarana budidaya rumput laut, sarana kebun bibit rumput laut, sarana goemembran, dan kapal penangkap ikan. Ada juga bantuan,  ice flake machine, coolbox, mobil pickup, serta berbagai bantuan prasarana seperti perbaikan jalan produksi, akses air bersih, jaringan listrik, MCK dan sebagainya. Total bantuan yang telah diberikan ke Kabupaten Sumba Timur sebesar Rp 53,6 miliar. 

Adanya bantuan tersebut, produksi rumput laut Sumba Timur mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Apabila, pada tahun  2016 produksi rumput laut Sumba Timur  hanya 26.413 ton/tahun (rumput laut basah). Sedangkan pada tahun 2019, produksinya  meningkat mencapai 35.115 ton (data sementara).

Slamet juga berharap,  peran aktif dan kontribusi pemda serta masyarakat setempat untuk dapat menjaga keberlanjutan usaha yang telah dibangun bersama. “Dengan demikian, misi awal pembangunan SKPT di Sumba Timur untuk memberikan dampak positif bagi pergerakan ekonomi daerah akan terwujud,” kata Slamet.

Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas, Sri Yanti menyatakan, SKPT Sumba Timur merupakan salah satu SKPT terbaik. Di Sumba Timur ini ada keterlibatan yang tinggi dari Pemda dan masyarakat sekitar. Kemudian,  perencanaannya matang, serta ketepatan dalam memberikan bantuan, sehingga mampu dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat.

Sri Yanti juga mengatakan keberadaan BUMD PT. Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) merupakan elemen penting, sebagai penyerap hasil produksi masyarakat Sumba Timur.  “Namun untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas peluang pasar,  PT. ASTIL perlu didorong agar  bisa melakukan diversifikasi produk dari chips menjadi produk karaginan (Semi Refined Carageenan/SRC),”  kata Sri.

PT. ASTIL merupakan pabrik yang memproduksi chips/ATC rumput laut, dengan kapasitas produksi mencapai 90 ton per bulan. Artinya, pabrik ini mampu menyerap suplai produksi rumput laut basah sebanyak 2.500 ton atau 250 ton rumput laut kering per bulan.

Pada tahun 2019, PT. ASTIL berhasil memproduksi sebanyak 402,266 ton ATC dengan pembeli yang berasal dari luar daerah seperti PT Indoseaweed (Mojokerto), PT. Galic Artabahari (Bekasi) dan PT. Yuxing Algae Internasional (Situbondo). Selain pembeli dalam negeri, produk ASTIL juga menjadi komoditas ekspor dengan tujuan ke beberapa perusahaan China seperti  Zhejiang Top Hydrocolloids Co. Ltd. dan PT Shanghai.

Sonia Tapar Kupung, Ketua Kelompok Tangar Mahamu dari desa Kaliuda Kecamatan Pahunga Lodu mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah. Bahkan, pihaknya  siap untuk terus mengawal bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah bersama dengan anggota kelompok yang lain. “Kami harap pemerintah tidak lelah untuk terus memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya rumput laut di Sumba Timur ini,” pungkas Sonia.

 

 

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018