Thursday, 30 June 2022


Maggot, Pakan Alternatif Bergizi Tinggi

25 Feb 2020, 15:40 WIBEditor : Dimas

Maggot BSF ramah lingkungan | Sumber Foto:Humas BRSDM KP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana mengembangkan produksi pakan alternatif tersebut secara masif.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Black Soldier Fly (BSF) atau biasa disebut Lalat Tentara Hitam merupakan salah satu  jenis lalat yang memberikan banyak sekali manfaat bagi manusia. Dari maggot lalat tentara hitam inilah pembudidaya ikan bisa memanfaatkannya sebagai bahan baku pakan bergizi tinggi, pengganti pakan ikan pabrikan yang harganya mahal.

Melalui maggot BSF, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana mengembangkan produksi pakan alternatif tersebut secara masif. Mengingat, beberapa perusahaan telah berhasil mendiversifikasi produk magot yang tak hanya dikemas dalam bentuk pakan kering namun juga pupuk dan granul.

“Bahkan, berbagai produk tersebut telah dipasarkan baik secara konvensional maupun melalui media online,” kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM),  Sjarief Widjaja , di Jakarta, Selasa (15/2).

Menurut Sjarief, saat ini sudah ada 21 perusahaan di tanah air telah mengembangkan produksi maggot.  Diantaranya, Biomagg (Depok), Great Giant Pineapple (Lampung), PT Maggot Indonesia Lestari (Bogor), ACEL (Tangerang), Morodasdi Farm (Blitar), dan Kampung Lala (Banyumas). 

Nah, untuk mengembangkan pakan alternatif tersebut, lanjut Sjarief, KKP melalui BRSDM berencana untuk mengembangkan 7 lokasi pusat budidaya magot yang tersebar di seluruh Nusantara yakni Sukabumi, Karawang, Situbondo, Jepara, Banjar, Tatelu (Manado), dan Jambi. Seperti diketahui, maggot adalah larva berprotein tinggi yang dikembangkan dari serangga BSF. 

Maggot mengandung  41-42 persen protein kasar, 31-35 persen ekstrak eter, 14-15 persen abu, 4,18-5,1 persen kalsium, dan 0,60-0,63 persen fosfor dalam bentuk kering. Sementara itu, kandungan protein dalam pakan ikan umumnya berkisar antara 20-45 persen.

Menurut Sjarief,  komponen pakan dalam budidaya perikanan sangat krusial. Pasalnya, bahan baku pakan harus memiliki kandungan gizi yang baik, mudah didapatkan, mudah diproses, mengandung zat gizi tinggi, dan memiliki harga yang terjangkau.

Nah, salah satu nutrisi pakan yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ikan adalah protein. Kualitas protein sangat tergantung dari kemudahannya dicerna dan nilai biologis yang ditentukan oleh asam amino yang menyusunnya.Artinya,  semakin lengkap kandungan asam aminonya maka kualitas protein akan semakin baik.

Hanya saja, ketersediaan bahan baku berprotein tinggi masih terbatas sehingga menjadikan harga pakan ikan cenderung tinggi.  Bahkan, bahan baku penyusun pakan berprotein tinggi yang banyak digunakan ialah tepung ikan yang masih impor. 

“Alhasil, tingginya harga pakan semakin melambung karena harus ditambah dengan biaya impor,” ujarnya.

Guna mendapatkan pakan murah dengan kandungan protein tinggi, lanjut Sjarief, pembudidaya ikan bisa memanfaatkan maggot.  Sebab, maggot mengandung protein dan gizi tinggi yang unggul untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan sistem imun ikan.

Selain bergizi tinggi, lanjut Sjarief, harga maggot juga cukup terjangkau. Hal ini dikarenakan, maggot memiliki ketersediaan bahan baku yang mudah didapat sehingga dapat menekan biaya produksi.

“ Maggot diproduksi melalui pemanfaatan limbah organik. Induk magot, BSF, tumbuh dengan memakan bahan organik yang bisa didapatkan dari sisa makanan organik yang terdapat di restoran, rumah tangga, pasar, maupun sumber lainnya,” paparnya.

Menurut Sjarief, dari 150 gram telur BSF (Rp 8.000/gram) dapat mengurai 2 ton limbah organik dalam waktu 2-3 pekan. “Ini lebih cepat dari proses pembuatan pupuk kompos secara konvensional yang membutuhkan waktu setidaknya 3 bulan,” ujar Sjarief.

Sjarief juga mengatakan, proses biokonversi tersebut dapat menghasilkan 220-350 kg maggot dengan harga jual berkisar Rp 5.000-Rp10.000 per kg. Selain itu, proses biokonversi juga dapat menghasilkan 100-150 kg pupuk organik dengan harga jual Rp 1.500-Rp 2.000 per kg. Hal ini menunjukkan bahwa produksi maggot menguntungkan secara ekonomi.  Tak hanya itu, produksi magot yang mengusung prinsip produksi tanpa limbah (zero waste), yang membuatnya unggul secara ekologi bagi lingkungan.

Pelatihan Budidaya Maggot

Selain mendorong produksi massal maggot, BRSDM juga terus mendorong peningkatan SDM melalui pelatihan dan percontohan produksi maggot. Pada 18-19 Februari 2020 lalu, BRSDM melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) menyelenggarakan “Pelatihan Budidaya Maggot sebagai Pakan Alternatif” di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok. 

Pelatihan dihadiri oleh 32 perwakilan dari balai pelatihan dan penyuluhan, dinas, serta akademisi pendidikan kelautan dan perikanan dari berbagai wilayah di Indonesia. Dibekali oleh pengetahuan teoretis maupun praktik secara langsung, para peserta diharapkan untuk menjadi trainer pengembangan budidaya magot di daerahnya masing-masing. 

“Setelah selesai kegiatan ini, kembangkan produksi magot untuk menjadi percontohan (pilot project) di daerah dan tempat kerja kita masing-masing. Mari kita bangun sentra-sentra produksi melalui percontohan penyuluhan, teaching factory (TEFA) di lembaga pendidikan, desa inovasi, dan pelatihan,” kata Sjarief.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018