Wednesday, 01 December 2021


Turunkan Stunting di NTT dengan Budidaya Nila Bioflok

19 Mar 2020, 11:21 WIBEditor : Indarto

Panen nila bioflok di NTT | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Penerapan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila merupakan sebuah langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Budidaya ikan nila sistem bioflok yang dilakukan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) secara masif bisa menurunkan stunting di daerah tersebut.  Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong masyarakat NTT melakukan budidaya nila bioflok yang minim air dan ramah lingkungan ini.


Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan, penerapan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila merupakan sebuah langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional. Bahkan, budidaya nila bioflok memungkinkan dikembangkan di NTT  dalam rangka membangun kawasan Indonesia Timur,  khususnya daerah – daerah yang masih minim terjamah informasi teknologi.

“Potensi sumberdaya alam yang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur harus dapat kita manfaatkan dengan menciptakan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budidaya " kata Slamet Soebjakto, di Jakarta , Kamis (19/3).

Dikatakan,  teknologi budidaya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan diharapkan akan mampu meningkatkan nilai sumberdaya alam yang ada dan memicu ruang pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. Budidaya nila bioflok diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal.

“Saat ini produk nila telah menjadi sumber gizi yang digemari di masyarakat. Karena itu teknologi bioflok khususnya untuk komoditas nila akan terus didorong di berbagai daerah sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat," paparnya.

Menurut Slamet, selain untuk memenuhi kebutuhan gizi dan peningkatan konsumsi ikan nasional,  budidaya nila bioflok juga ampuh untuk menurunkan prevalensi stunting atau hambatan pertumbuhan tubuh di sejumlah daerah yang konsumsi ikannya rendah. " Dengan semakin banyak anak Indonesia mengkonsumsi ikan, diharapkan akan lahir generasi baru yang tumbuh sehat, bergizi baik dan bebas dari stunting," kata Slamet.

Data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka stunting pada tahun 2019 cenderung mengalami penurunan sebesar 27,7 persen. Namun, dari jumlah tersebut angka stunting tertinggi ada di NTT yang mencapai 43,8 persen.

Oleh karena itu, dengan dikembangkan budidaya nila sistem bioflok di NTT sangat tepat. Sebab  budidaya nila bioflok dapat menjadi solusi untuk memenuhi gizi masyarakat sekitar.

Dikembangkan di Manggarai Timur

Budidaya nila bioflok saat ini sudah dikembangkan di Seminari Pius XII Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).Bahkan, pada 2 Maret 2020 yang lalu sudah panen perdana sebanyak 100 Kg. Sesuai rencana  hingga akhir Maret tahun ini,  total panen mencapai sekitar 300 Kg.

Seperti diketahui, Kelompok Seminari Pius XII Kisol merupakan penerima 2 paket bantuan budidaya ikan nila sistem bioflok dari  KKP  pada tahun 2019. Bantuan ini diberikan dengan pendampingan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Data KKP  menyebutkan, pada tahun 2019 KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 Kabupaten/Kota. Total nilai bantuan yang telah diserahkan mencapai lebih dari Rp  44 miliar.

Penanggungjawab Seminari Pius XII Kisol, Marsel Zosimus Erot mengatakan, terima kasih  atas kepercayaan dan bantuan budidaya nila bioflok yang diberikan kepada Seminari yang diasuhnya. " Budidaya nila bioflok yang minim air sangat cocok untuk diterapkan di daerahnya," ujarnya.

Sebelum mengaplikasi budidaya nila bioflok, lanjut, Marsel, budidaya ikan air tawar seperti nila masih membutuhkan bak permanen dan harus di lokasi yang memiliki saluran irigasi yang baik.

" Dengan sistem bioflok ini,  penggunaan air bisa diefesiensikan, namun disisi lain produktivitas bisa ditingkatkan berkali lipat," kata Marsel.

Dia juga berharap budidaya nila sistem bioflok ini dapat semakin diperbanyak  di NTT. " Ikan nilai ini nantinya dapat memenuhi gizi dan protein masyarakat, khususnya di daerah Manggarai Timur," pungkasnya. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018