Sunday, 05 April 2020


Petambak Demak Sukses Budidaya Kakap Putih

24 Mar 2020, 15:10 WIBEditor : indarto

Panen kakap putih | Sumber Foto:Dok.Humas DJPB

Biaya operasional dari pembelian pakan pabrik, ikan rucah hingga biaya pemeliharaan selama lima bulan berkisar Rp 50 jutaan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang--Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) komitmen mengembangkan budidaya kakap putih di masyarakat. Selain menguntungkan, komoditas unggulan ini bisa dibudidaya di tambak yang tak dimanfaatkan untuk budidaya udang.

Salah satu Kelompok Pembudidaya (Pokdakan) yang telah berhasil melakukan budidaya kakap putih di air payau adalah Pokdakan Windu Jaya Satu.  Pokdakan yang berdomisili di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Demak ini bahkan mampu panen kakap putih sebanyak 3 ton per ha.

Ketua Kelompok Windu Jaya Satu, Ahmad Hidayat mengaku senang dan puas dengan hasil panen kakap putih ini. " Ini akan jadi alternatif usaha yang menjanjikan," ujarnya Ahmad, di Semarang, Selasa (24/3).

Awal mula usaha budidaya kakap putih ini, kata Ahmad, berkat bantuan benih ikan kakap sebanyak 20.000 ekor yang diterima dari BBPBAP Jepara. Benih tersebut dipelihara di kolam pendederan hingga usia dua bulan dengan berat  200-an gram per ekor. Selanjutnya, benih tersebut  dipindahkan ke kolam seluas lima ha untuk pembesaran.

Menurut Ahmad benih yang didedekan tersebut diberi pakan (pellet) dari pabrik. Setelah dilepas di kolam (tambak), diberi pakan ikan rucah atau ikan kecil-kecil dari tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai upaya menekan biaya pakan.

" Untuk menekan biaya pakan, kami juga menyiapkan pakan alami di kolam, berupa ikan berukuran kecil mulai dari jenis ikan nila maupun mujair," ujarnya.

Dari proses budidaya tersebut, dalam jangka waktu lima bulan sudah bisa dipanen secara parsial dengan berat ikan setiap ekornya mencapai satu kilogram. " Saya perkirakan total ikan yang bisa dipanen sekitar 3 ton lebih/ha.  Sehingga usaha budidaya ini masih menguntungkan," papar Ahmad.

Menurut Ahmad, biaya operasional dari pembelian pakan pabrik, ikan rucah hingga biaya pemeliharaan selama lima bulan berkisar Rp 50 jutaan. " Kalau harga jualnya Rp 55.000 per kg, saya masig untung ratusan juta," ujarnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto  menyambut baik sukses   budidaya kakap putih yang dikembangkan di Kabupaten Demak tersebut. " KKP saat ini tengah mendorong komoditas kakap putih sebagai salah satu andalan komoditas ekspor Indonesia," ujar Slamet.

Slamet mengatakan, DJPB saat ini sedang gencar  menggenjot nilai ekspor perikanan budidaya. Nah , kakap putih akan jadi andalan ke depan.

" Selain di laut, kami saat ini juga menginisiasi sentra pengembangan kakap putih di tambak seperti di Pinrang, Sulawesi Selatan dan yang terbaru, akan dorong juga di Kabupaten Demak, Jawa Tengah", ungkap Slamet.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara,  Sugeng Raharjo yang melihat hasil panen ikan kakap putih mengaku senang dengan hasil yang dicapai petambak ikan di Desa Sidorejo. " Kakap putih merupakan komoditas yang baru dikembangkan yang bertujuan bisa mengangkat perekonomian para  petambak ," ujarnya.

Menurut Sugeng, dengan keberhasilan budidaya kakap putih di tambak air payau bisa ditularkan kepada petambak lainnya, agar bisa ikut menikmati hasil budidaya kakap putih. Karena sudah berhasl dibudidaya di tambak, BBPBAP Jepara akan  memperbanyak benih kakap putih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat petambak.

" Benih kakap putih yang tersedia saat ini berkisar 50.000-an ekor dan masih bisa diperbanyak lagi," papar Sugeng.

BBPBAP Jepara dalam memberikan bantuan benih memprioritaskan petambak yang memang memiliki keseriusan dalam budidaya ikan tersebut dan bertanggung jawab. "Hal terpenting, petambak yang mendapatkan bantuan bibit ikan mengikuti standar operasional prosedur dalam pemeliharaannya. Kalau sesuai SOP, selama lima bulan sudah panen parsial," ujarnya.

Terdampak Pandemi Covid-19

Dalam kesempatan tersebut, Slamet mengatakan, tak menampik adanya kekhawatiran dampak pandemi Covid-19 akan mempengaruhi kinerja ekspor perikanan budidaya. Kendati begitu, Slamet optimis, hal tersebut tidak akan berlangsung lama.

" Produksi di hulu tetap jalan. Paling tidak untuk memenuhi konsumsi dalam negeri," ujarnya.

Slamet mengatakan,  pemerintah akan memperkuat market intelejen untuk mencari kemungkinan ekspansi tujuan ekspor di luar negara tujuan ekspor utama.

" Memang ada indikasi terganggunya ekspor akibat pandemi Covid-19 ini. Kita berdoa saja tidak berlangsung lama. Saya masih cukup optimis, kalau sektor berbasis pangan ini tetap akan punya peluang besar ke depan," pungkas Slamet. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018