Friday, 05 June 2020


Menteri Edhy Ajak Masyarakat Kepulauan Seribu Budidaya Rumput Laut

20 May 2020, 13:19 WIBEditor : Indarto

Komoditas rumput laut | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Ekspor komoditas rumput laut dari Kepulauan Seribu sekitar 300 ton per bulan. Sedangkan permintaan pasar Vietnam 3.000 ton per bulan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Rumput laut bisa menjadi usaha masyarakat pesisir yang menjanjikan. Di tengah pandemi corona (covid 19) permintaan rumput laut untuk pasar ekspor cukup tinggi. Seperti Vietnam permintaan rumput laut jenis spinosum sebanyak 3.000 ton/bulan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengatakan,  ekspor komoditas rumput laut  dari Kepulauan Seribu sekitar  300 ton per bulan. Sedangkan permintaan pasar Vietnam 3.000 ton per bulan.  " Ini merupakan peluang pasar yang harus dimanfaatkan oleh kita semua, baik pembudidaya maupun pelaku pasar maupun eksportir," kata Menteri Edhy usai meninjau budidaya rumput laut spinosum di Pulau Karya, Kepulauan Seribu, Rabu (20/5).

Lantaran potensi pasarnya masih terbuka, Menteri Edhy mengajak warga Kepulauan Seribu untuk memaksimalkan potensi budidaya rumput laut jenis spinosum. Pasalnya, pemanfaatan rumput laut bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat  di tengah pandemi corona (covid-19).

" Apalagi harga rumput laut yang sempat drop, kini kembali stabil. Karenanya,  kami minta peluang budidaya dari sektor rumput laut dioptimalkan," ujarnya.

Seperti diketahui, rumput laut jenis Spinosum sp, lebih adaptif dan tahan terhadap penyakit seperti ice-ice. Budidaya rumput laut jenis ini memiliki risiko usaha yang lebih rendah.  Usaha budidaya rumput laut juga menyerap 40 persen carbon, sehingga mampu untuk membantu memperbaiki kualitas udara dan lingkungan.

Menteri Edhy mengatakan, rumput laut Spinosum cocok dibudidaya di Kepulauan Seribu. "Kita akan lakukan apa yg bisa kita perbuat, akan kita bantu. Rumput laut tidak perlu repot, sekali tanam panen terus," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut,  Dirjen Perikanan Budidaya,  Slamet Soebjakto mengatakan,  Indonesia sebagai penghasil rumput laut terbesar kedua setelah Tiongkok. Beragam jenis rumput laut dapat dibudidaya. Seperti Euchema cottonii (penghasil kappa carrageenan), Gracillaria sp. (penghasil agar-agar), Sargassum (penghasil alginat), Caulerpa sp. (dapat dikonsumsi dalam kondisi segar), Spinosum sp (penghasil carrageenan), Gelidium amanzii dan Ptylophora sp. (penghasil biofuel dan kertas) serta beberapa jenis lainnya.

Menurut Slamet, saat ini Indonesia  memiliki 550 jenis varian rumput laut bernilai ekonomis tinggi. Rumput laut yang dibudidaya tersebut juga mengangkat ekonomi masyarakat pesisirm

Data Ditjen Perikanan Budidaya menyebutkan, angka sementara produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2019 sebanyak  9,92 juta ton. Mayoritas produksi rumput laut  dihasilkan dari jenis Euchema cottonii dan Gracillaria sp. Pada  tahun 2020, KKP menargetkan produksi rumput laut sebanyak 10,99 juta ton.

"Target akan terus meningkat hingga tahun 2024 menjadi sebesar 12,33 juta ton," ujarnya. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018